Kisah Inspiratif

Kiprah Priyo Dwiarso Maestro Paduan Suara Yogyakarta: Mengabdi Lintas Generasi

Priyo Dwiarso (82), maestro paduan suara Yogyakarta, puluhan tahun mengabdi melatih lintas generasi

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Dok. Istimewa
KONDUKTOR AUBADE: Priyo Dwiarso saat menjadi konduktor pada Aubade Pancasila 5000 peserta di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (20/05/2015). 
Ringkasan Berita:
  • Priyo Dwiarso dikenal sebagai maestro paduan suara yang membina dan mencipta harmoni selama puluhan tahun.
  • Priyo Dwiarso mendirikan beberapa kelompok paduan suara di Yogyakarta dan melahirkan banyak penyanyi lintas generasi.
  • Beberapa paduan suara yang dilatih oleh Priyo Dwiarso mendapat apresiasi dari tokoh seperti Soekarno, Titiek Puspa, dan Pranadjaja.

TRIBUNJOGJA.COM - Jika berbicara seputar paduan suara di Yogyakarta, hampir mustahil melewatkan nama Priyo Dwiarso.

Puluhan tahun berkecimpung dalam dunia olah vokal, Priyo (82) telah menyaksikan bagaimana seni suara bisa menjadi medium budaya, pendidikan, sekaligus perjalanan hidup.

Kiprahnya di dunia paduan suara menjangkau lintas usia, lintas panggung, dan lintas generasi. Dari melatih kelompok vokal anak-anak hingga kelompok paduan suara ibu-ibu, Priyo mengasah bakat menyanyi menjadi kesatuan harmoni yang indah.

Bagi Priyo, menjadi penyanyi lebih dari sekadar menguasai satu lagu utuh.

“Belajar nyanyi itu kan belajar vokal, belajar notasi, belajar sounding, belajar macam-macam. Supaya akor dua harmoni juga bisa tahu, supaya bisa improvisasi dengan baik,” ujar Priyo saat ditemui di kediamannya di Bumijo, Yogyakarta, Kamis (27/11/2025) malam.

Sebelum aktif menjadi pelatih paduan suara, Priyo mengikuti beberapa perlombaan menyanyi, salah satunya ajang Bintang Radio yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI).

Dalam ajang tersebut, terdapat tiga kategori yang dilombakan, meliputi seriosa, hiburan, dan keroncong.

Priyo berhasil menyabet juara umum Bintang Radio Jawa-Madura karena nilai yang ia peroleh paling tinggi di antara semua peserta yang mengikuti tiga kategori perlombaan itu.

Dari situlah karier Priyo sebagai pelatih paduan suara bermula.

Pihak TVRI dan RRI kemudian memercayainya untuk turut membantu mendirikan Paduan Suara Kuncup Mekar, yang melahirkan banyak penyanyi beken tanah air seperti Deasy Arisandi, Djatu Parmawati, dan Tantowi Yahya.

Priyo Dwiarso saat Siaran di TVRI
Priyo Dwiarso saat memantau siaran Kuncup Mekar di Studio TVRI pada tahun 1973. (Istimewa)

“Saat itu nggak ada orang dari TV yang bisa memandu itu, terus minta tolong ke saya. Jadi dari tahun ‘73 sampai tahun ‘79, itu 6 tahun ya. Saya seminggu dua kali siaran di TVRI untuk membimbing penyanyi-penyanyi muda itu,” ucap Priyo.

Menurut Priyo, ada sekitar 11 orang yang berhasil menjadi juara di perlombaan nasional dan hampir semua anggota PS Kuncup Mekar yang ia latih pernah menjadi juara di daerah. 

Ia menambahkan, melatih vokal baginya diibaratkan seperti melatih petinju belajar basic shadow boxing.

Shadow boxing itu ‘kan nggak ada arahnya gitu ya. Tapi itu ‘kan untuk melatih keterampilan psikomotorik. Nah, vokal itu ya gitu. Bagaimana mengerti nada, bagaimana mengucapkan ‘a’ yang benar. Itu saya latih betul,” pungkasnya.

Priyo menegaskan, ia tidak pernah menuntut setiap anak yang dilatih untuk harus bernyanyi persis seperti guru atau idolanya.

Ia justru selalu menekankan bahwa sejatinya setiap anak memiliki karakter suaranya masing-masing.

Karakter yang khas itulah yang menjadi kekuatan ketika ia kelak menjadi seorang penyanyi.

Priyo Dwiarso dan PS Tri Ubaya Sakti
Priyo Dwiarso tengah memimpin sebagai konduktor Paduan Suara POV Tri Ubaya Sakti pada Konser Emas dan Reuni 50 Tahun Paduan Suara Tri Ubaya Sakti, Selasa (15/09/2015). (Istimewa)

Bekal Semangat Belajar Tinggi

Ketika berbicara tentang awal mula tertarik pada paduan suara, Priyo bercerita bahwa ia tidak sengaja nyemplung karena diajak oleh penyanyi senior Koes Hendratmo yang pada saat itu merupakan kakak kelasnya.

Priyo mengaku awalnya ia lebih aktif berkesenian yang bercorak khas Jawa seperti menembang, menari, dan menabuh gamelan.

Baca juga: Napak Tilas Budaya Jawa di Danunegaran: Ketika Turis Asing Jatuh Cinta pada Batik dan Gamelan ​

Berkat ajakan Koes Hendratmo setelah tidak sengaja mendengarnya bernyanyi, ia mulai mempelajari musik modern dan mengikuti beberapa kontes menyanyi yang berhasil memberinya banyak prestasi.

Prestasi itulah yang kemudian membakar semangat Priyo untuk terus mengasah bakat menyanyinya.

Pada tahun 1963, ia lolos seleksi anggota PS Pusat Olah Vokal (POV) Tri Ubaya Sakti.

Di sana, ia terus dilatih vokalnya oleh komponis Nortier Simanungkalit yang juga merupakan pendiri POV.

Belum merasa cukup, Priyo juga berguru pada komponis Kusbini dan beberapa guru musik lainnya untuk memperkaya ilmunya.

“Saya jadi belajar musik itu tidak hanya praktek saja. Tapi teori-teorinya, baik itu teori vokal ataupun teori musik pada umumnya. Saya jadi banyak mengetahui mengenai teori-teori dasar pengetahuan musik, termasuk belajar main instrumen piano,” tutur Priyo.

Priyo Dwiarso bersama N. Simanungkalit
Dari kiri, Nortier Simanungkalit bersama Tyasno Sudarto, Pembina PS Gelora Bahana Patria, dan Priyo Dwiarso di tengah latihan Paduan Suara Gelora Bahana Patria. (Istimewa)

Berangkat dari pengetahuan musiknya yang kaya itulah Priyo dipercaya banyak pihak untuk membentuk dan melatih kelompok paduan suara di Yogyakarta.

Salah satu pencapaian terbesar yang ia banggakan adalah ketika dipercaya oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memimpin penyelenggaraan Aubade Pancasila yang melibatkan ribuan peserta. 

Selama beberapa tahun sekali, Priyo dipercaya untuk terlibat dan menjadi konduktor dalam penyelenggaraan Aubade Pancasila.

Biasanya, aubade melibatkan sekitar lima ratus hingga dua ribu peserta. 

Pada satu waktu, Aubade Pancasila pernah memperoleh pencapaian tertinggi dan melibatkan hingga total 5000 peserta pada tahun 2015.

“Aubade itu nyanyian sore, artinya nyanyian sore untuk pemujaan. Pemujaan kepada raja, pemujaan kepada negara, pemujaan kepada bangsa. Dalam hal ini saya arahkan, kita khususkan pada lagu-lagu cinta tanah air dan lagu-lagu perjuangan,” ungkap Priyo.

Dengan penuh semangat, Priyo menceritakan bagaimana ia mencoba bereksperimen menciptakan metode baru untuk menggabungkan sekian suara dari berbagai kelompok paduan suara yang sangat beragam.

Mulai dari paduan suara anak-anak sekolah, paduan suara mahasiswa, paduan suara ibu-ibu PKK, hingga kelompok paduan suara para pensiunan yang masih semangat ikut bernyanyi bersama.

Priyo Sebagai Konduktor Aubade 5000 UGM
Priyo Dwiarso saat tengah memimpin sebagai konduktor Aubade Pancasila yang dihadiri 5000 peserta di Grha Sabha Pramana UGM, Rabu (20/05/2015). (Istimewa)

“Jadi setiap aubade saya mesti membuat tiga aransemen untuk tiap lagu. Untuk empat suara lengkap SATB ya, sopran, alto, tenor, bass. Lalu tiga suara itu untuk paduan suara sejenis, kalau paduan suara putri ya sopran, mezzo-sopran, alto. Kalau yang putra itu tenor, bariton, bass. Sama dua suara itu untuk anak SD, jadi hanya suara tinggi sama suara rendah,” jelas Priyo.

Ia mengatakan, aubade menjadi sarana efektif untuk menanamkan rasa cinta tanah air.

Tidak sedikit peserta yang menyampaikan rasa haru padanya, beberapa langsung menangis dan saling merangkul selepas selesai bernyanyi.

Mencipta Harmoni Lintas Generasi

Keaktifan Priyo di bidang paduan suara mengantarkannya memperoleh berbagai penghargaan dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan Provinsi DIY.

Ia pernah mendapatkan Penghargaan Seni Kategori Paduan Suara dari Gubernur dan Penghargaan Seni dari Walikota Yogyakarta.

Sejak 2021, Priyo diamanahi oleh Wali Kota Yogyakarta untuk menjadi Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang berfungsi untuk mendukung pelestarian dan pengembangan budaya khas di Yogyakarta.

Priyo Dwiarso dan Langen Gita Tamansiswa
Pementasan Langen Gita Tamansiswa Lila Wistara yang diiringi oleh Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) yang dilatih Priyo Dwiarso pada Penutupan Konggres Tamansiswa tahun 1984. (Istimewa)

Pengalaman Priyo tidak lepas dari peran sertanya mendirikan sekaligus melatih beberapa kelompok paduan suara di Yogyakarta.

Beberapa paduan suara mahasiswa yang didirikan oleh Priyo meliputi paduan suara UST, UII, UAD, dan UMY.

Bersama Nortier Simanungkalit, ia juga turut mendirikan PS Bahana Patria khusus mahasiswa dan PS Gelora Patria khusus pelajar pada tahun 1964.

Kedua kelompok paduan suara itu kemudian memutuskan untuk melebur jadi satu saat mereka bertemu dalam reuni pada tahun 1990.

Kelompok paduan suara itu masih aktif hingga sekarang dengan nama PS Gelora Bahana Patria (GBP).

Selama aktif mengisi acara bersama PS GBP, satu momen yang cukup membekas di hati Priyo adalah ketika mereka mendapat piano dari Soekarno.

Piano Bung Karno PS GBP
Pianis PS GBP, Hapsari tengah memainkan piano pemberian Bung Karno pada Aubade Pancasila yang dilaksanakan di UGM, Sabtu (22/07/2017). (Istimewa)

Priyo bercerita, pada Agustus 1965 PS GBP mengisi hiburan menyanyi pada acara peringatan hari kemerdekaan di Gedung Agung Yogyakarta yang dihadiri oleh Soekarno. PS GBP mendapat sambutan dan pujian penuh kekaguman dari para hadirin, termasuk Soekarno.

“Anggota-anggota putri itu terus pada manja ke Bung Karno, ‘Pak, saya kalau pentas belum ada pengiring, mbok saya diparingi (dikasih) piano.’ Bung Karno langsung, ‘oke, nanti ke istana.’ Dua minggu kemudian kita ke sana ketemu Bung Karno, dikasih piano. Jadilah sekarang kita punya piano merek August Forster,” ujar Priyo.

Baca juga: Merawat Warisan Piano Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta

Sekitar satu dekade setelah berdirinya paduan suara khusus pelajar dan mahasiswa, Priyo mendirikan paduan suara khusus anak-anak yang dinamakan Sasana Vokalia.

Berpusat di Senisono, ia berhasil mengumpulkan sekitar tiga ratus murid dan beberapa kali membawa mereka pentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

“Nah, di Sasana Vokalia ini saya membuat eksperimen operet. Ternyata setelah jadi, operetnya itu banyak disenangi, terutama oleh Pak Pranadjaja yang juga pelatih vokal di Jakarta. Setiap kami pentas di TIM beliau selalu lihat. Terus Titiek Puspa juga pernah lihat di TIM. Jadi operet-operet kita juga dikagumi oleh musikus-musikus Jakarta,” tutur Priyo.

Priyo Dwiarso berfoto bersama anak-anak didiknya di Sasana Vokalia selepas mementaskan Operet 'Amanat Sang Garuda'. (Istimewa)
Priyo Dwiarso berfoto bersama anak-anak didiknya di Sasana Vokalia selepas mementaskan Operet 'Amanat Sang Garuda'. (Istimewa)

Sepanjang karirnya, Priyo telah menghasilkan total 6 karya operet dan 300 lebih karya aransemen lagu.

Bagi Priyo, paduan suara bukan sekadar urusan vokal dan harmoni musik.

Ia melihatnya sebagai cermin falsafah Pancasila Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. 

“Suaranya banyak sekali, tapi bisa menjadi satu asal itu serempak dan teratur harmonis,” tukasnya. 

Dalam paduan suara, para anggota tidak hanya belajar nada tetapi juga belajar tenggang rasa, tepo seliro, dan kebersamaan.

Harmoni bukan hanya tercipta dari suara, tetapi dari jiwa yang saling memahami.

Priyo Dwiarso berdiri di depan peserta subade sebagai konduktor pada penyelenggaraan Konser Indonesia Damai 'Pancasila Rumah Kita', Jumat (01/06/2018). (Istimewa)
Priyo Dwiarso sebelum memulai tugasnya sebagai konduktor peserta aubade pada penyelenggaraan Konser Indonesia Damai 'Pancasila Rumah Kita', Jumat (01/06/2018). (Istimewa)

Priyo percaya, nilai persatuan justru lahir dari adanya pertemuan perbedaan.

Di paduan suara, tiap kelompok suara tidak saling menonjolkan ego, melainkan saling menopang satu sama lain.

Dari situlah tumbuh rasa solidaritas, persaudaraan, bahkan kekeluargaan yang kuat. 

“Teman-teman saya paduan suara yang dari tahun 60-an masih seperti saudara sampai hari ini. Kalau ketemu di Jakarta itu mesti saya disuruh mampir atau malah bobok di rumahnya. Kalau tidak mau mereka itu merasa seperti tersinggung,” ujarnya sambil tertawa. 

Bagi Priyo, paduan suara adalah pendidikan hidup yang menjadi tempat mempertemukan suara dan menyatukan hati.

(MG Shafira Puti Krisnintya)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved