Daur Ulang, Daya Ulang Sardiman
DARI limbah rumah tangga, Sardiman dan tim menciptakan karya seni daur ulang berskala monumental, diburu rekor dan sarat pesan lingkungan.
Karya ketiga adalah sepasang busana pengantin Jawa dari sampah anorganik, terutama tas kresek dan botol plastik.
Baju pria dan wanita dipasang pada manekin, dihiasi ukiran berbentuk anggrek, kupu-kupu, dan tanaman rambat.
“Filosofinya adalah bagaimana limbah bisa dikreasikan menjadi sesuatu yang anggun dan penuh makna,” ujar pria, mantan pegawai LIPI yang mengundurkan diri dari PNS karena ingin menekuni dunia seni yang sudah mendarah daging sejak kecil.
Daur Ulang Bernilai Tinggi
Semua karya dibuat dari limbah rumah tangga, terutama plastik sekali pakai.
“Sampah yang sering dianggap tak berguna, kami ubah menjadi karya bernilai seni tinggi,” katanya.
Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga bentuk kampanye sunyi tentang lingkungan dan budaya.
“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa budaya Jawa, dan budaya Nusantara pada umumnya, bisa selaras dengan gaya hidup ramah lingkungan,” katanya.
“Setiap suku bisa menciptakan karya dari limbah—entah orang Batak, Dayak, Bali, Papua, semuanya bisa mengekspresikan nilai-nilai budayanya melalui daur ulang.”
Bagi Sardiman, makna sampah telah bergeser.
“Dulu dianggap kotor dan harus dibuang. Sekarang, saya melihat sampah sebagai sumber daya yang bisa diperbarui, bahkan lebih lestari dibanding batu bara atau minyak bumi,” katanya.
Sejak 2011, Sardiman telah aktif menciptakan karya dari limbah, mulai dari topeng dan patung dari kertas, lukisan relief dari sampah, wayang dari botol plastik, hingga kostum pertunjukan dari kain perca dan tas kresek.
Kini, ia bermimpi menciptakan patung Komodo dari sampah untuk dijual di kawasan wisata Pulau Komodo, dan karya seni lainya seperti topeng dari limbah yang punya nilai edukasi dan ekonomi.
Namun, yang paling penting bagi Sardiman bukanlah pengakuan atau royalti.
“Saya tidak ingin mematenkan karya ini. Saya ingin membagikannya. Ilmu dan kreativitas dari limbah harus diwariskan agar masyarakat lain bisa mengikuti dan mengembangkannya,” ujarnya.
| Limbah SPPG Diduga Cemari Air Sumur di Mangiran, Pemkab Bantul Beri Waktu 10 Hari |
|
|---|
| Dugaan Pencemaran Limbah MBG di Bantul, Hasil Penelusuran: IPAL SPPG Mangiran Belum Penuhi Syarat |
|
|---|
| Air Sumur Warga di Bantul Berbusa, Diduga Tercemar Limbah SPPG Mangiran |
|
|---|
| Asah Sensitivitas Kemanusiaan, Butet Kartaredjasa Boyong Seniman Melukis di Rutan Polres Bantul |
|
|---|
| Air Sungai Belik Diduga Terpapar Limbah IPAL Komunal, DLH Bantul Lakukan Uji Lab |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Daur-Ulang-Daya-Ulang-Sardiman.jpg)