Kolaborasi Olah Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai
KETIKA Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, meluncurkan Program Mas JOS, ia tidak sekadar mengajak warga untuk memilah sampah
KETIKA Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, meluncurkan Program Mas JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah), ia tidak sekadar mengajak warga untuk memilah sampah.
Ia menawarkan cara pandang baru bahwa sampah bukan sekadar sisa, tetapi sumber daya.
Dari lima langkah utama Mas JOS—mulai dari pilah sampah; setor anorganik ke bank sampah, olah organik, habiskan makanan, hingga penggunaan wadah berulang—terlihat sebuah upaya serius untuk membangun budaya baru pengelolaan sampah dari rumah.
Kredibilitas program ini bukan hanya karena pemerintah menginisiasinya, tetapi karena gerakan ini konsisten merangkul warga sebagai aktor perubahan.
Salah satu wujud kredibilitas itu tampak melalui kolaborasi Jogja Life Cycle, Forum Bank Sampah Giwang Bersih, dan Rumah Zakat Kota Yogyakarta dalam kegiatan daur ulang sampah plastik bernilai ekonomi tinggi.
Peluncurannya pada 15 Juli 2025 dihadiri langsung oleh Wali Kota, yang menegaskan dukungan penuh Pemkot terhadap inovasi warga dalam menyelesaikan isu sampah secara produktif.
Ke depannya, yang harus dipikirkan bersama adalah kontinuitas bahan baku plastik dan pemasaran agar usaha ini berkelanjutan.
Pemkot Yogyakarta tidak hanya mendorong masyarakat mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi daur ulang yang dapat tumbuh dan memberi manfaat langsung kepada warga.
Menggerakkan Rasa Bersama, Membangun Kebanggaan Kolektif
Tidak semua orang membayangkan bahwa tutup botol plastik, botol oli bekas, atau gelas minuman dapat berubah menjadi kursi, papan bangunan, medali, plakat, tasbih, hingga gelang estetis.
Namun di tangan kreatif para pemuda Jogja Life Cycle, sampah plastik berubah menjadi produk bernilai tinggi—sebuah transformasi yang membangkitkan rasa bangga masyarakat terhadap inovasi anak-anak Jogja.
Kisah Ilham Zulfa Pradipta, pendiri Jogja Life Cycle, juga menyentuh emosi publik.
Ia memulai riset daur ulang pada 2022, merintis produksi pada 2023, dan kini menerima pesanan dari DIY hingga Jabodetabek.
Tantangan bahan baku justru menghidupkan harapan baru: warga Giwangan didorong terlibat mencacah plastik agar merasakan langsung nilai ekonominya.
Gambaran para ibu memungut tutup botol, para pemuda mengolah plastik menjadi papan, dan penggerak bank sampah yang membawa hasil cacahan setiap minggu, menciptakan energi kolektif.
Kota yang bersih tidak lagi menjadi slogan, tetapi menjadi karya bersama.
| Buntut Kasus Little Aresha, Sri Sultan HB X Instruksikan Perketat Perizinan dan Operasional Daycare |
|
|---|
| Wali Kota Hasto Wardoyo Lantik 106 Pejabat Pemkot Yogya di Bantaran Sungai Winongo, Ini Alasannya |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Mulai Alihkan Korban Little Aresha Daycare ke Penitipan Anak Lain |
|
|---|
| Usut Dugaan Pemberian Obat CTM ke Korban Little Aresha Daycare, Pemkot Yogya Libatkan Psikolog |
|
|---|
| Bangunan Little Aresha Daycare Jadi Sasaran Vandalisme, Hasto Wardoyo Minta Warga Menahan Diri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kolaborasi-Olah-Sampah-Plastik-Jadi-Produk-Bernilai.jpg)