Kolaborasi Olah Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai

KETIKA Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, meluncurkan Program Mas JOS, ia tidak sekadar mengajak warga untuk memilah sampah

Tayang:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
OLAH SAMPAH : Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mencoba untuk mengolah bahan baku sampah menjadi barang yang bernilai ekonomi 

Di sinilah Mas JOS membangun ikatan emosional: bahwa setiap warga berkontribusi pada hal besar.

Secara logis, program ini memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian masalah sampah Kota Yogyakarta. 
Daur ulang sampah plastik ini berfungsi untuk:

1. Mengurangi sampah ke TPA

Dengan meningkatnya pemilahan sampah—bagian dari lima langkah Mas JOS—Jogja Life Cycle membutuhkan 35–50 kg plastik per hari. 

Dengan memasok plastik melalui bank sampah, plastik tidak berakhir di TPA tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi.

2. Menciptakan nilai ekonomi baru

Harga produk daur ulang sangat kompetitif: coaster Rp 25 ribu, gelang Rp 30 ribu, tasbih Rp 35 ribu, kursi Rp 250 ribu, hingga papan plastik Rp 250 ribu. 

Nilai ekonomi ini membuka peluang warga—mulai dari penggerobak, ibu rumah tangga, hingga bank sampah—untuk mendapatkan penghasilan dari sampah.

3. Mendukung pengurangan plastik sekali pakai

Dengan memproduksi barang-barang tahan lama seperti papan, kursi, hingga material bedah rumah, Jogja Life Cycle memperpanjang usia pakai plastik, mengurangi konsumsi plastik baru.

4. Membangun rantai pasok lokal

Ketika warga Giwangan diajak mencacah, bank sampah memasok, dan pelaku usaha mengolah, terciptalah ekosistem ekonomi sirkular yang kokoh dan berkelanjutan.

5. Mendukung visi kota lestari

Mas JOS bukan hanya mengajarkan warga memilah, tetapi menyalurkan hasil pemilahan itu pada industri kreatif lokal seperti Jogja Life Cycle. Inilah bentuk nyata bahwa pengelolaan sampah dari rumah benar-benar memberi dampak bagi kota.

Jogja Life Cycle dan Forum Bank Sampah Giwang Bersih, menunjukkan bahwa ketika Mas JOS diterapkan secara konsisten, hasilnya bukan sekadar kota yang bersih. Kolaborasi tersebut menghasilkan kota yang inovatif, kreatif, dan penuh peluang ekonomi. 

Warga memilah, bank sampah menyalurkan, pelaku inovasi mengolah, dan pasar menyerap hasilnya.
Inilah bukti bahwa sampah bukan akhir dari sebuah barang—tetapi awal dari nilai yang baru. Mas JOS sudah memulai gerakannya. 

Jogja Life Cycle membuktikan potensinya.
Kini tinggal bagaimana warga Jogja ikut terlibat, dari rumah masing-masing, untuk menjadikan sampah sebagai harapan baru. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved