Menuju Malioboro Bebas Kendaraan Bermotor Akhir 2026, Pintu Masuk Sirip-sirip Bakal Diportal
Ambisi menyulap kawasan ikonik Malioboro menjadi Low Emission Zone (LEZ) alias zona emisi rendah pada akhir November 2026 terus dimatangkan
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Upaya menyulap kawasan ikonik Malioboro menjadi Low Emission Zone (LEZ) alias zona emisi rendah pada akhir November 2026 terus dimatangkan.
- Berbagai tahapan ditempuh Pemerintah Daerah (Pemda) DIY maupun Pemkot Yogyakarta, demi mewujudkan kawasan full pedestrian yang ramah lingkungan.
- Menurut Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, pihaknya tidak ingin target besar ini meleset dari ketetapan yang telah dicanangkan.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ambisi menyulap kawasan ikonik Malioboro menjadi Low Emission Zone (LEZ) alias zona emisi rendah pada akhir November 2026 terus dimatangkan.
Tahapan demi tahapan pun ditempuh Pemerintah Daerah (Pemda) DIY maupun Pemkot Yogyakarta, demi mewujudkan kawasan full pedestrian yang ramah lingkungan.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengungkapkan, bahwa pihaknya tidak ingin target besar ini meleset dari ketetapan yang telah dicanangkan.
Kendati demikian, ia memastikan pendekatan yang humanis dan sarat nilai-nilai sosial tetap dikedepankan, terutama menyangkut hajat hidup pelaku usaha dan warga setempat.
"Jangan biar berjalan saja, kalau berjalan saja enggak sampai-sampai itu. Pasti tahapan ini pasti harus (ditempuh) kencang itu," tandasnya.
Hasto membeberkan, pemerintah provinsi sudah merencanakan pemasangan portal di sejumlah sirip-sirip jalan yang terhubung langsung dengan sumbu utama Malioboro.
Meski pihaknya tidak mau gegabah, pemasangan portal ini menjadi pembatas krusial agar sterilisasi kendaraan bermotor dapat dikendalikan dengan baik
"Ini saja Bu Erny (Kepala Dishub DIY) di akhir tahun sudah memasang portal di sirip-sirip Malioboro. Nanti kami rembug dengan warga yang ada di sirip-sirip seperti apa baiknya, kapan portal dibuka, kapan portal ditutup," ujarnya.
Dampak turunan masif
Wali Kota menyadari betul, memutus akses kendaraan bermotor di jantung pariwisata Kota Yogyakarta memiliki dampak turunan yang cenderung masif.
Oleh karena itu, ia mengisyaratkan adanya sejumlah pengecualian kebijakan yang bersifat mendasar, agar tidak merugikan kepentingan masyarakat maupun pelaku wisata.
"Pasti ada pengecualian-pengecualian. Sebagai contoh seperti sekarang ini, bus tidak lewat Tugu atau Titik Nol. Tapi kan ada excuse, pengecualian tertentu untuk orang yang sudah booking hotel menggunakan bus, ya seperti-seperti itulah," jelasnya.
"Kalau menurut saya, mesti ada pengecualian-pengecualian yang harus kita catat, agar tidak memangkas kepentingan-kepentingan yang sifatnya mendasar bagi masyarakat," tambah Hasto.
Termasuk bentor
Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menyebut, pembatasan total ini bakal menyasar becak motor (bentor) maupun kendaraan pribadi.
Langkah tersebut jadi bagian dari upaya merealisasikan satu area Low Emission Zone (LEZ) alias zona emisi rendah di sepanjang kawasan Malioboro.
| Mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga Tampil Memukau di TBY, Bawakan 3 Lakon Pertunjukan Seni |
|
|---|
| Update Laporan Aktivitas Kegempaan Gunung Merapi Jumat 5 Juni 2026 Siang |
|
|---|
| Hadir di POCE 2026, YLBH Wirasakti Buka Layanan Konsultasi Hukum Gratis untuk Masyarakat |
|
|---|
| Trafo Listrik di Gedongtengen Yogyakarta Meledak, Empat Warga Terluka |
|
|---|
| Capaian Serapan Beras Perum BULOG DIY Tembus 91 Persen, Optimistis Lampaui Target Tahunan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20262105-Wali-Kota-Yogyakarta-Hasto-Wardoyo.jpg)