Air Sungai Belik Diduga Terpapar Limbah IPAL Komunal, DLH Bantul Lakukan Uji Lab

Pihaknya kerja sama dengan dukuh setempat untuk melakukan pengecekan sampel air dan ikan di lokasi Sungai Belik.

|
Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul, Bambang Purwadi Nugroho. 

Ringkasan Berita:
  • Sungai Belik diduga tercemar limbah, ditandai banyak ikan mati dan muncul busa di permukaan air.
  • Dinas Lingkungan Hidup Bantul mengambil sampel air dan ikan untuk diuji laboratorium, dengan hasil keluar sekitar tiga minggu.
  • Sumber pencemaran sementara diduga berasal dari IPAL komunal yang kemungkinan bocor atau limbahnya mengalir ke sungai.
  • Warga diimbau tidak mengonsumsi ikan mati karena berpotensi membahayakan kesehatan.

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sungai Belik di Padukuhan Pandes I, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, diduga tercemar limbah. 

Kabar tersebut beredar di media sosial dengan dampak banyak ikan di sungai Belik tersebut mati.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, Bambang Purwadi Nugroho, mengaku telah mendengar kabar tersebut.

Uji lab sampel air

Pihaknya kerja sama dengan dukuh setempat untuk melakukan pengecekan sampel air dan ikan di lokasi Sungai Belik.

"Itu nanti akan kami uji laboratorium. Ya nanti ada lab yang kita tunjuk. Kita asesmen untuk mengetahui kandungannya apa. Iya labnya di Jogja. Di mana labnya, saya belum bisa memastikannya," kata dia saat dikonfirmasi, Selasa (21/4/2026).

Kendati begitu, hasil uji lab diperkirakan baru keluar sekitar tiga minggu ke depan. Nantinya, hasil lab tersebut menjadi acuan untuk menentukan langkah penanganan atas dugaan pencemaran di sungai tersebut.

Pihaknya sudah menelusuri sumber limbah yang diduga mencemari air Sungai Belik dan ikan tersebut.

Diduga sumber limbah dari IPAL Komunal

Hasil penelusuran sementara pencemaran sungai terjadi dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal di dekat Sungai Belik.

"Jadi, kami melakukan koordinasi bersama Pak Dukuh dan Bhabinkamtibmas untuk antisipasi pencegahan, supaya pencemarannya bisa dikendalikan. Ya IPAL itu kemungkinan ada bocor atau bagaimana, kan saya belum dapat laporan lagi. Tapi, hasil dugaan pertama itu," ujar Bambang.

Sampai saat ini, Bambang mengaku belum mendapat update kondisi terbaru Sungai Belik itu. Namun begitu, dipastikan bahwa timnya terus melakukan penelusuran. Bahkan, sampai saat ini kasus itu masih dilakukan pendalaman.

"Dan kemarin sudah kami serahkan itu ke wilayah. Kalau itu (pencemaran Sungai Belik) IPAL komunal ya diminta dihentikan IPAL-nya sampai sementara waktu supaya sumber pencemarannya tidak terus terjadi. Kalau IPAL mau dilakukan perbaikan ya kita kasih waktu penanganan secepatnya," terang Bambang.

Jangan konsumsi ikan yang mati

Lebih lanjut, Bambang menegaskan kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan-ikan yang mendadak mati di Sungai Belik, sebab dikhawatirkan berbahaya bagi kesehatan tubuh pengonsumsi.

Sementara itu, Dukuh Pandes I, Budi Cahyono, menyebut kondisi dugaan pencemaran Sungai Belik muncul pada Senin (20/4/2026). Kala itu, ia mendapat laporan dari warga yang melihat ikan mengapung di Sungai Belik sekitar pukul 08.00 WIB.

"Dari laporan warga itu tampak busa bertebaran di atas ikan-ikan tersebut. Jenis ikannya itu ada tawes, nila, wader, dan sapu-sapu," bebernya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved