Sempat Didiskualifikasi, 88 Siswa Lengkapi Syarat Masuk SPMB Jalur Afirmasi, 51 Masuk Jalur Khusus

Suhirman, menjelaskan dari 139 siswa yang sempat didiskualifikasi, 88 siswa telah melengkapi dokumen afirmasi mereka sesuai ketentuan jalur afirmasi.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
SISTEM BERMASALAH: Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Suhirman, memberikan keterangan kepada wartawan terkait polemik jalur afirmasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK 2025 di Yogyakarta, Kamis (3/7/2025). Sebanyak 139 siswa jalur afirmasi sempat didiskualifikasi, namun akhirnya diterima kembali melalui dua skema. 

Tertekan Mental dan Sosial: “Saya dan Anak Saya Diserang”

Salah satu orangtua siswa SMA/SMK di DIY mengungkapkan kekecewaannya setelah anaknya didiskualifikasi dari jalur afirmasi dalam penerimaan murid baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026, meski tidak pernah merasa sebagai penerima manfaat dan tidak pernah mengajukan dokumen afirmasi.

Ia menyebut sistem secara otomatis menetapkan status afirmasi tanpa sepengetahuan maupun inisiatif darinya.  

“Anak saya masuk jalur afirmasi, tapi saya tidak pernah memilih atau mendaftar lewat jalur itu. Status afirmasi muncul otomatis saat kami aktivasi token,” ujar wali murid yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di kantor Disdikpora DIY, Kamis (3/7).

Ia mengaku datang ke Disdikpora DIY pada Senin (30/6) pagi untuk mengklarifikasi status tersebut.

“Akhirnya saya datang ke sini (Disdikpora DIY), untuk memastikan kenapa saya masuk afirmasi. Padahal saya tidak punya data apapun (persyaratan afirmasi). Saya menjelaskan kalau saya tidak mempunyai atau memasukkan surat tidak mampu apapun,” kata dia.

Otomatis

Lebih lanjut, kata dia, petugas yang menjaga Posko SPMB memberi penjelasan kalau pendaftar tersebut otomatis masuk ke jalur afirmasi karena sistem dari pemerintah.

“Dijelaskan afirmasi itu memang ada dua, yang satu harus melampirkan surat keterangan tidak mampu. Sedangkan saya di jalur kedua, datanya dapat dari program Indonesia Pintar,” paparnya.

Petugas tersebut menurutnya juga sudah memastikan jika pendaftaran melalui jalur afirmasi itu sah dan tidak akan ada masalah baik secara sistem maupun aturan. “Katanya saya tinggal download aja surat di situ, rekomendasi yang sudah ditandatangani oleh pejabat di sini,” ungkapnya.

Tiba-tiba pada Selasa (1/7/2025) malam, ia mendapat pemberitahuan bahwa anaknya didiskualifikasi.

Namun ia tetap bertahan agar anaknya tetap di sekolah tersebut, lantaran jalur lainnya sudah ditutup dan tidak mempersiapkan untuk daftar di sekolah swasta.

Ia juga menyangkal tudingan manipulasi data, melainkan merupakan korban dari sistem yang bermasalah.

Ia menolak permintaan untuk mengundurkan diri. Menurutnya, mengundurkan diri berarti mengakui bahwa dirinya bersalah dan memanipulasi data, padahal ia merasa tidak melakukan pelanggaran.

Pihaknya bahkan sempat dipanggil untuk klarifikasi dan disidangkan, meski tidak pernah mengajukan afirmasi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved