Gowes Lintas Benua Demi Tanah: Aktivis Lingkungan Asal India Bangkitkan Kesadaran di Kampus UGM

Alih-alih bekerja kantoran atau berselancar di dunia digital seperti kebanyakan pemuda, ia justru memilih menjelajah dunia dengan sepeda. 

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
Dok.Istimewa
LINTAS BENUA - Aktivis lingkungan asal India Gowes Lintas Benua, mampir ke UGM, Jumat (13/6/2025) 

TRIIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tidak banyak anak muda yang memilih mengayuh sepeda ribuan kilometer melintasi benua demi satu misi menyelamatkan tanah. 

Namun inilah yang dilakukan oleh Sahil Jha, pemuda asal India, yang saat ini tengah menjalani perjalanan epik melintasi empat benua dan 20 negara sebagai bagian dari gerakan global bertajuk Save Soil Movement.

Perjalanan Sahil akhirnya membawanya ke Yogyakarta, tepatnya di Universitas Gadjah Mada (UGM), di mana ia menjadi pembicara utama dalam diskusi publik bertajuk “Save Soil Movement: Sahil Cycling Across Four Continents” yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (13/6/2025) lalu.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Biro Manajemen Strategis (BMS) UGM dan menghadirkan empat narasumber utama: Sahil Jha (Save Soil Changemaker), Raline Shah (Save Soil Ambassador), Prof. Benito Heru Purwanto (pakar tanah dari Fakultas Pertanian UGM), serta Praveena Sridhar (Chief Science & Technology Officer, Save Soil Movement).

Meski baru berusia 20-an tahun, Sahil Jha telah memilih jalur hidup yang tak biasa.

Alih-alih bekerja kantoran atau berselancar di dunia digital seperti kebanyakan pemuda, ia justru memilih menjelajah dunia dengan sepeda. 

Di setiap negara yang ia lewati, Sahil membawa satu pesan penting: tanah adalah fondasi kehidupan, dan saat ini, tanah sedang sakit.

“Saya tidak berasal dari latar belakang pertanian. Saya bahkan dulu tidak tahu betapa pentingnya tanah bagi kehidupan manusia,” cerita Sahil dalam forum diskusi. 

“Namun setelah membaca dan mempelajari lebih jauh, saya sadar bahwa tanah yang sehat adalah kunci makanan sehat, air bersih, dan bahkan keseimbangan iklim," lanjutnya.

Perjalanan Sahil bukan sekadar petualangan.

Ia membawa misi edukasi, menggelar diskusi dan bertemu masyarakat di berbagai negara untuk mengajak mereka peduli terhadap isu yang sering terabaikan: degradasi tanah. 

Menurutnya, tanah yang sehat tak hanya penting bagi pertanian, tapi juga bagi masa depan peradaban manusia.

“Gerakan Save Soil ini mengajak masyarakat untuk memahami bahwa tanpa tanah, tidak akan ada kehidupan. Ini bukan isu pertanian semata, tapi menyangkut keberlanjutan planet ini,” ujarnya.

Kolaborasi Kampus dan Komunitas Global

Kedatangan Sahil di UGM menjadi momentum penting bagi kampus ini untuk menunjukkan komitmennya dalam isu keberlanjutan. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved