Kreativitas dan Keterlibatan Masyarakat Jadi Kunci Pengembangan Jogja Agro Park

Pemanfaatan tagar dan konten kreatif dinilai penting agar Jogja Agro Park makin dikenal luas dan menarik minat publik.

Dok. KONI DIY
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pengelolaan dan pengembangan Jogja Agro Park (JAP) di Kabupaten Kulon Progo harus mengedepankan kreativitas dan melibatkan masyarakat secara aktif.

Hal ini ditegaskan oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, saat menerima audiensi pejabat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY serta Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPSDMP) DIY, Selasa (10/6/2025).

Menurut Sri Paduka, kreativitas sangat penting untuk menghadirkan inovasi dalam pengembangan JAP.

Kreativitas tersebut diharapkan mampu melahirkan sistem dan program yang menghidupkan seluruh unsur yang terlibat di dalam operasional JAP, mulai dari edukasi hingga sektor wisata.

Namun, lebih dari sekadar inovasi, Sri Paduka menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat desa di sekitar lokasi, khususnya Wijimulyo, Nanggulan, sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek pembangunan.

“Gak bisa cuma mengaplikasikan yang ada di pemikiran kalian. Dialog dengan mereka, karena mereka punya local wisdom sendiri. Kita harus kolegial, bareng-bareng. Itu akan lebih long lasting,” ujar Sri Paduka.

Sri Paduka juga menyebut generasi muda desa sebagai potensi besar dalam pengembangan JAP, terutama dalam bidang promosi digital melalui media sosial.

Pemanfaatan tagar dan konten kreatif dinilai penting agar JAP makin dikenal luas dan menarik minat publik.

Dalam pertemuan itu, Kepala DPKP DIY Syam Arjayanti mengakui bahwa JAP yang dibangun sejak 2018 memang belum berfungsi secara optimal. JAP saat ini belum dibuka untuk umum secara penuh.

Kunjungan masih harus melalui proses pengajuan surat izin, terutama untuk kegiatan pelatihan.

“Jogja Agro Park itu menjadi tempat edukasi dan pelatihan pertanian, juga wisata. Tapi memang selama ini belum dibuka untuk umum secara bebas. Itu yang sedang kami diskusikan agar bisa ditingkatkan,” kata Syam.

Rata-rata kunjungan ke JAP saat ini mencapai 750 pengunjung per bulan, dan semuanya masih tanpa biaya.

Namun, pelatihan yang dilakukan di lokasi masih bersifat mandiri, misalnya peserta harus membawa media tanam sendiri.

Hasil pelatihan pun dibawa pulang oleh peserta, sebagai bentuk pembelajaran langsung.

Terkait keterbatasan anggaran, Syam menyatakan akan menjalankan arahan Wakil Gubernur dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor dan memanfaatkan peluang Corporate Social Responsibility (CSR).

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved