Kadinkes Kulon Progo Respons soal Adanya Suspek Hantavirus, Pastikan Nihil Kasus Positif
Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih mengatakan sampel dari Suspek tersebut sudah diambil dan diperiksa di laboratorium.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut ada dua suspek Hantavirus di Indonesia, termasuk satu kasus di Kulon Progo.
- Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih memastikan hasil laboratorium suspek di Kulon Progo negatif Hantavirus.
- Dinkes Kulon Progo mengingatkan Hantavirus dapat menular dari tikus ke manusia dengan gejala mirip flu hingga gangguan pernapasan berat.
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini merilis pernyataan terkait keberadaan kasus Hantavirus di Indonesia. Isu Hantavirus sedang merebak usai adanya temuan penularan dari penumpang kapal pesiar di tengah Samudra Atlantik.
Kemenkes RI menyatakan bahwa ada 2 suspek Hantavirus di Indonesia. 2 suspek ini masing-masing berada di Jakarta dan Kulon Progo.
Hasil lab di Kulon Progo: negatif Hantavirus
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Susilaningsih mengatakan sampel dari Suspek tersebut sudah diambil dan diperiksa di laboratorium.
"Memang ada suspek tapi hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan negatif Hantavirus," katanya pada wartawan, Jumat (08/05/2026).
Potensi penyebaran lewat tikus
Meski begitu Susilaningsih mengakui ada potensi penyebaran virus. Sebab pihaknya menemukan temuan positif Hantavirus pada tikus yang diperiksa sampelnya oleh laboratorium.
Tikus dikenal sebagai pembawa Hantavirus lewat kotorannya dan bisa menularkannya pada manusia. Penularan umumnya hanya terjadi antara hewan, dalam hal ini tikus, ke manusia alias zoonosis.
"Sejauh ini tidak ada kasus penularan Hantavirus dari manusia ke manusia, sifatnya lebih zoonosis," ujar Susilaningsih.
Gejala mirip flu
Penularan Hantavirus dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Gejalanya mirip seperti flu berupa demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, dan cepat lelah yang muncul 1 hingga 8 minggu setelah paparan kotoran tikus.
Gejalanya bisa meningkat semakin parah dalam waktu 4 sampai 10 hari berikutnya seperti sesak napas parah, batuk kering, dan paru-paru terisi cairan. Penyakit ini juga dikenal memiliki risiko kematian tinggi.
Namun hal itu bisa terjadi jika tidak ada penanganan cepat. Itu sebabnya, Susilaningsih mengatakan pemeriksaan perlu dilakukan sebagai deteksi dini jika timbul gejala mirip paparan Hantavirus.
"Segera dilakukan tindakan medis jika ditemukan gejala mengarah pada kasus Hantavirus," jelasnya.
Susilaningsih mengatakan tidak ada obat khusus untuk pasien Hantavirus. Namun penanganan intensif bisa dilakukan dan penderitanya bisa sembuh selama penanganan bisa dilakukan lebih dini.
Pihaknya pun juga berfokus pada upaya pengendalian dan pencegahan paparan Hantavirus. Upaya itu dilakukan bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan instansi terkait.
"Pengendalian kasus lebih ditujukan pada hewan pembawa penyakitnya, yaitu tikus," kata Susilaningsih.(alx)
| Haruskah Kita Khawatir dengan Hantavirus yang Sudah Tewaskan 3 Orang? |
|
|---|
| Kesaksian Korban Keracunan MBG di Jetis Bantul: Perut Terasa Mules |
|
|---|
| Dinkes Kulon Progo Laporkan 36 Suspek Campak, 1 Orang Positif |
|
|---|
| Ancaman Campak Bayangi Yogyakarta Meski Imunisasi Tinggi |
|
|---|
| Investigasi Dinkes Kulon Progo Terkait Keracunan di Sentolo: Telur Kukus Dimasak Sehari Sebelumnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kadinkes-Kulon-Progo-Respons-soal-Adanya-Suspek-Hantavirus-Pastikan-Nihil-Kasus-Positif.jpg)