Direktur RSSA Bantul Beberkan Gejala Leptospirosis yang Harus Diwaspadai

Berikut gejal-gejala leptospirosis yang harus diwaspadai agar masyarakat dapat melakukan pencegahan

Tayang:
Penulis: OSE | Editor: Yoseph Hary W
ist
Ilustrasi pemicu Leptospirosis dan gejalanya. 

TRIBUNJOGJA.COM - Enam pasien leptospirosis di Bantul dinyatakan meninggal dunia dalam rentang waktu sejak Januari - Mei 2026. Dalam rentang waktu yang sama, Dinkes Bantul selama itu mencatat total 123 kasus leptospirosis.

Kasus leptospirosis pun patut diwaspadai lantaran penyebarannya telah menyeluruh di 17 kapanewon di Bantul.

Dinkes Bantul mengimbau masyarakat agar mengenali gejala awal terserang leptospirosis. Berikut gejal-gejala leptospirosis yang harus diwaspadai:

Gejala leptospirosis 

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Saras Adyatma (RSSA) Kabupaten Bantul, Tri Wahyuni, mengatakan, sebagai langkah antisipasi, masyarakat perlu mengetahui gejala gejala pada pasien yang terpapar penyakit leptospirosis agar segera mendapatkan penanganan bila terpapar. 

"Gejala tahap awal atau fase akut yakni demam tinggi dan menggigil yang muncul secara mendadak. Nyeri otot hebat, terutama di area betis dan punggung bawah," ucapnya, Selasa (2/6/2026).

Kemudian, mata merah atau konjungtiva tanpa disertai kotoran mata, sakit kepala dan kelelahan berlebihan, mual, muntah, tidak nafsu makan, atau diare, hingga muncul bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang saat ditekan menjadi gejala awal kasus leptospirosis.

Gejala tahap lanjut jika tidak segera ditangani berupa infeksi dapat menyebar dan merusak .organ vital (ginjal, hati, paru-paru) yang ditandai dengan kulit dan bagian putih mata menguning (ikterus).

"Lalu, kesulitan buang air kecil dan urine berubah warna menjadi gelap, bengkak pada tangan dan kaki, nyeri dada dan sesak napas, batuk berdarah dan mimisan," paparnya.

Selalu cuci tangan

Kendati demikian, masyarakat tetap diimbau untuk dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di luar ruangan, berkebun, atau kontak dengan hewan.

Masyarakat diimbau agar menggunakan alat pelindung, selalu kenakan sepatu bot dan sarung tangan tahan air saat membersihkan selokan, berkebun, atau membersihkan area pasca-banjir.

"Silakan tutup luka terbuka, pastikan semua luka, goresan, atau lecet pada kulit tertutup rapat dengan perban tahan air sebelum beraktivitas di tempat yang berisiko, serta hindari genangan air," imbaunya.

Selain itu, masyarakat diimbau agar memastikan mengonsumsi air yang telah dimasak hingga mendidih atau gunakan air mineral kemasan. Masyarakat juga diimbau agar tidak membiarkan sisa makanan terbuka agar tidak mengundang tikus.

"Simpan makanan dan sampah di dalam wadah tertutup rapat. Basmi sarang tikus, jaga kebersihan rumah dan pekarangan, serta lakukan pembasmian tikus menggunakan perangkap atau racun," tandasnya

Faktor pemicu kematian

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul, Samsu Aryanto, berujar beberapa pasien leptospirosis meninggal dunia karena terlambat mengakses fasilitas layanan kesehatan.

"Tapi ada juga pasien yang memiliki penyakit komorbid berupa gagal ginjal, sindrom uremikum, anemia, trombositopeni hingga syok septik," katanya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved