Saatnya Refleksi, Kulon Progo Sambut Ramadan dengan Upacara Nyadran Agung Sederhana
Kepala Disbud Kulon Progo, Eka Pranyata menjelaskan Nyadran Agung merupakan tradisi untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo menggelar Upacara Nyadran Agung di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Kapanewon Wates pada Rabu (19/02/2025). Pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) Kulon Progo.
Kepala Disbud Kulon Progo, Eka Pranyata menjelaskan Nyadran Agung merupakan tradisi untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
"Namun untuk tahun ini pelaksanaannya berbeda, lebih sederhana dari biasanya," jelas Eka.
Kali ini, Nyadran Agung hanya diisi dengan upacara doa dan kenduri alias makan bersama. Sedangkan biasanya, acara juga diisi dengan kirab Gunungan hingga pawai budaya.
Menurut Eka, keputusan menggelar Nyadran Agung secara sederhana diambil berdasarkan kondisi anggaran saat ini yang harus terdampak efisiensi. Kebijakan efisiensi berasal dari pemerintah pusat.
"Meski sederhana tapi tidak mengurangi maknanya, yang penting doa dan harapan ke para leluhur untuk Kulon Progo," ujarnya.
Tamu yang diundang pun hanya sekitar 150 orang, terdiri dari para pejabat di lingkungan Pemkab Kulon Progo, para panewu dan para lurah.
Eka menilai Nyadran Agung sederhana juga menjadi bentuk empati ke masyarakat di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Ia mengungkapkan bahwa alokasi Dana Keistimewaan (Danais) DIY yang diterima Disbud Kulon Progo turut dipangkas.
Biasanya menerima hingga Rp 24 miliar dalam setahun, kini bisa disunat sampai tersisa di bawah Rp 10 miliar.
"Namun seluruh kegiatan kebudayaan tetap berjalan sesuai rencana, hanya saja dilaksanakan secara lebih sederhana," kata Eka.
Adapun penundaan dilakukan terhadap program bersifat fisik. Salah satunya penundaan bantuan hibah untuk kebutuhan kebudayaan seperti gamelan, kostum, dan sebagainya.
Ajak refleksi
Penjabat (Pj) Bupati Kulon Progo Srie Nurkyatsiwi juga menyampaikan kebijakan efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi makna dari tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun.
Justru Nyadran Agung yang sederhana diharapkan menjadi refleksi bagi semua pihak.
"Apalagi tradisi Nyadran merupakan salah satu cara melestarikan budaya Jawa yang telah menyatu dalam masyarakatnya," ujar Siwi.
Ia menjelaskan Nyadran berasal dari kata Sadran yang artinya pengorbanan ditujukan untuk para leluhur.
Lewat Nyadran, masyarakat diajak berkumpul tanpa memandang status, suku, hingga agama yang dimiliki.
Justru Siwi melihat Nyadran sebagai sarana untuk membangun toleransi, membangun akhlak mulia, dan berkarya.
Termasuk membangun hubungan baik dengan sesama manusia, dengan lingkungan, dan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
"Lewat Nyadran Agung ini kita semua sama-sama berdoa agar masyarakat Kulon Progo semakin sejahtera," katanya.(alx)
| Harga Bright Gas 12 Kg Tembus Rp 240 Ribu di Kulon Progo |
|
|---|
| BBGRM 2026 Kulon Progo Berakhir, Dana Swadaya Masyarakat Terhimpun hingga Rp16,6 Miliar |
|
|---|
| Serapan Pupuk Bersubsidi di Kulon Progo Masih Rendah, Pola Tanam Hingga Kondisi Ekonomi Jadi Alasan |
|
|---|
| Soal Pengadaan TKD Palihan dan Glagah, Pemkab Kulon Progo Usulkan Harmonisasi Pergub 24/2024 |
|
|---|
| Harga LPG Nonsubsidi Naik, Pemilik Rumah Makan di Kulon Progo Terpaksa Sesuaikan Harga Makanan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Saatnya-Refleksi-Kulon-Progo-Sambut-Ramadan-dengan-Upacara-Nyadran-Agung-Sederhana.jpg)