Pelantikan Prabowo dan Gibran

FULL Isi Pidato Pertama Presiden Prabowo Subianto setelah Dilantik Hari Ini Minggu 20 Oktober 2024

Berikut isi lengkap pidato pertama Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029.

|
YouTube Kompas TV
FULL Isi Pidato Pertama Presiden Prabowo Subianto setelah Dilantik Hari Ini Minggu 20 Oktober 2024 

Saudara-saudara, di tengah itu cita-cita yang begitu besar, yang begitu kita idam-idamkan, kita perlu suasana kebersamaan. Kita perlu suasana persatuan. Kita perlu kolaborasi kerjasama, bukan cekcok yang berkepanjangan. Kita perlu pemimpin-pemimpin yang tidak caci maki, pemimpin-pemimpin yang arif yang bijaksana yang mengerti dan cinta budaya dan sejarah bangsa sendiri, yang bangga dengan adab tradisi dan adat bangsa kita sendiri.

Kita dari sejak dahulu, pemikiran kehendak dan rancang bangun pendiri-pendiri bangsa kita dari sejak awal bangsa ini berdiri kita ingin menjadi bangsa yang berdemokrasi. Kita menempatkan kedaulatan rakyat setinggi-tingginya. Dalam dasar negara kita Pancasila, kerakyatan merupakan sendi utama dari kelima sila yang kita junjung tinggi. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, kita menghendaki kehidupan demokrasi tapi marilah kita sadar bahwa demokrasi kita harus demokrasi yang khas untuk Indonesia, demokrasi yang cocok untuk bangsa, demokrasi yang berasal dari sejarah dan budaya kita, demokrasi kita harus demokrasi yang santun, demokrasi di mana berbeda pendapat harus tanpa permusuhan, demokrasi di mana mengoreksi harus tanpa caci maki, bertarung tanpa membenci, bertanding tanpa berbuat curang. Demokrasi kita harus demokrasi yang menghindari kekerasan, yang menghindari adu domba, yang menghindari hasut-menghasut, demokrasi kita harus demokrasi yang sejuk, demokrasi yang damai, demokrasi yang menghindari kemunafikan.

Hanya dengan persatuan dan kerjasama kita akan mencapai cita-cita para leluhur bangsa kita, bangsa yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur, bangsa di mana rakyat cukup pangan cukup sandang cukup papan. Kita, cita-cita kita adalah melihat wong cilik iso gemuyu, wong cilik bisa senyum, bisa ketawa. 

Saudara-saudara sekalian, kita harus ingat bahwa kekuasaan itu adalah milik rakyat. Kedaulatan itu adalah kedaulatan rakyat. Kita berkuasa seizin rakyat, kita menjalankan kekuasaan harus untuk kepentingan rakyat. 

Kita harus selalu ingat setiap pemimpin dalam setiap tingkatan harus selalu ingat pekerjaan kita harus untuk rakyat.

Bukan, bukan, bukan kita bekerja untuk diri kita sendiri. 

Bukan kita bekerja untuk kerabat kita, bukan kita bekerja untuk pemimpin-pemimpin kita. 

Pemimpin yang harus bekerja untuk rakyat, 

Saudara-saudara sekalian kita harus mengerti selalu sadar selalu bahwa bangsa yang merdeka adalah bangsa di mana rakyatnya merdeka. Rakyat harus bebas dari ketakutan, bebas dari kemiskinan, bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari penindasan, bebas dari penderitaan.

Saudara-saudara sekalian, masih ada saudara-saudara kita, usianya di atas 70 tahun, masih menarik becak. Ini bukan ciri-ciri bangasa yang merdeka.

Hanya kalau kita bisa wujudkan itu, kalau kita bisa wujudkan keadaan di mana rakyat kita sungguh-sungguh merasa dan menikmati kemerdekaan, baru boleh kita sungguh-sungguh puas dan bangga dengan prestasi Indonesia merdeka.

Sebelum itu, marilah kita kerja keras marilah kita berjuang tanpa menyerah mari kita menghimpun dan menjaga semua kekayaan kita. Jangan mau kekayaan kita diambil murah oleh pihak-pihak lain. 

Saudara-saudara sekalian, semua kekayaan kita harus sebesar-besarnya untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat kita.

Saudara-saudara, dalam sejarah politik, hal ini mudah diucapkan, tidak mudah untuk kita capai. 

Tapi kita bisa capai kalau kita bersatu dan bekerja sama.

Marilah kita bangun masa depan bersama, marilah kita menganggap rekan-rekan kita walaupun berbeda suku berbeda agama berbeda partai berbagai golongan, kita adalah sama-sama anak Indonesia. Bertanding semangat, sesudah bertanding, mari kita berhimpun kembali.

Presiden Joko Widodo mengalahkan saya.

Berapa kali, ya? Saya lupa itu.

Tapi begitu beliau menang. Beliau menang, ya. Beliau mengajak saya bersatu, dan saya menerima ajakan itu. 

Sekarang, saya yang menang. Dan saya mengajak semua pihak, ayo bersatu.

Saudara-saudara sekalian, dalam menghadapi dunia internasiona, Indonesia memilih jalan bebas aktif, non blok, non-aligned, kita tidak mau ikut pakta-pakta militer mana pun. Kita memilih jalan bersahabat dengan semua negara. Sudah berkali-kali saya canangkan, Indonesia akan menjalankan politik luar negeri sebagai negara yang ingin menjadi tetangga yang baik. 

We want to be the good neighbor.

Kita ingin menganut filosofi kuno, 1000 kawan terlalu sedikit, 1 lawan terlalu banyak.

Saudara-saudara sekalian, dengan demikian kita ingin menjadi sahabat semua negara. Tapi, kita punya prinsip. Prinsip kita adalah prinsip anti penjajahan. Karena kita pernah mengalami penjajahan, kita anti penindasan. Karena kita pernah ditindas, kita anti rasialisme. Kita anti apartheid. Karena kita pernah mengalami apartheid. 

Waktu kita dijajah, kita, bahkan kita digolongkan lebih rendah dari anjing. Banyak prasasti-prasasti dan marmer, banyak papan-papan di mana disebut "Honden en Inlander Verboden" saya masih lihat, saya masih lihat prasasti, di kolam renang manggarai tahun 78, "Honden en Inlander Verboden"

Saudara-saudara, karena itu kita punya prinsip, kita harus solider, kita harus membela rakyat-rakyat yang tertindas di dunia ini. Karena itu, kita mendukung kemerdekaan rakyat Palestina.

Pemerintah, pemerintah Presiden Joko Widodo sudah mengirim banyak bantuan, hari ini kita punya tim medis yang bekerja di Gaza, di Rafah, dengan risiko yang sangat tinggi, dokter-dokter kita, perawat-perawat kita, sudah bekerja sama di Rafah, di Gaza, bersama saudara-saudara kita dari Uni Emirat Arab. Dan kita pun siap untuk mengirim bantuan yang lebih banyak, dan kita siap untuk evakuasi mereka yang luka, dan anak-anak yang trauma, dan korban. Kita siapkan rumah sakit tentara kita dan nanti rumah sakit-rumah sakit lain untuk membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban perang yang tidak adil.

Saudara-saudara, kita menjadi bangsa yang harus berterima kasih kepada generasi pembebas, kepada Bung Karno, Bung Hatta, pahlawan-pahlawan yang lain, I Gusti Ngurah Rai, Kapitan Pattimura, Sultan Hasanuddin, Tengku Umar, Cut Nyak Dhien, semua pahlawan yang tidak bisa kita sebut satu per satu tapi mereka yang membayar saham kemerdekaan dengan darah dan air mata mereka.

Kita bersyukur kepada presiden dan proklamator pertama, Bung Karno, yang telah memberi kepada kita ideologi negara Pancasila, yang keluar masuk penjara dibuang di mana-mana, dari sejak muda, karena memperjuangkan Indonesia merdeka, Indonesia tidak mau menjadi darah bagi bangsa-bangsa lain.

Soekarno-Hatta, Syahrir, semua pendiri-pendiri bangsa ini, berkorban dan telah memimpin kita dengan baik.

Kita juga bersyukur dengan Presiden Soeharto, yang banyak jasanya dalam menyelamatkan dan mengamankan ideologi pancasila itu sendiri, yang telah meletakkan dasar bagi Indonesia yang modern.

Kita berterima kasih kepada Presiden Habibie, yang telah membuat dasar untuk kita meraih dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kita berterima kasih kepada Presiden Abdurrahman Wahid, yang telah memberi contoh toleransi antar agama, antar suku, yang menjunjung tinggi, inklusif, Indonesia yang inklusif dan toleran.

Kita berterima kasih kepada Presiden Megawati, yang, yang menyelesaikan masalah-masalah ekonomi akibat crash tahun 98. Harus diakui, di bawah pemerintah Megawati, masalah perusahaan-perusahaan yang banyak hancur, dapat diperbaiki dan diselamatkan.

Kita harus berterima kasih kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memimpin Indonesia di saat krisis yang sangat berat, menghadapi tsunami, menyelesaikan bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, menyelesaikan pertikaian di Aceh yang sudah berjalan begitu lama. Ini prestasi yang harus kita akui.

Saudara-saudara sekalian, mereka semua dengan cara masing-masing memiliki sumbang sih terhadap apa yang sekarang kita nikmati, negara kesatuan yang utuh, yang berdaulat, yang merdeka, yang terus menjaga dan berjuang untuk kemerdekaan dan keadilan.

Saudara-saudara sekalian, sekarang kita ucapkan terima kasih juga kepada Presiden Republik Indonesia yang ketujuh. 

Presiden Joko Widodo, dengan wakil presiden Profesor Ma’ruf Amin, terima kasih atas kepemimpinan bapak, terima kasih atas kenegarawanan bapak.

Bapak telah menahkodai bangsa ini melalui krisis-krisis yang sungguh sangat berat. 

Jangan kita merasakan hari ini, ingat waktu Covid, kita bahkan keluar dari rumah kita takut. Saya saksi, saya menterinya beliau, semua pihak dalam dan luar negeri, telepon terus, menekan beliau terus, minta lockdown, lockdown, lockdown, beliau menolak.

Kalau kita lockdown, bagaimana wong cilik, bagaimana warung tegal, bagaimana ojol, bagaimana rakyat-rakyat yang makannya dari upah harian. Jangan kita lupa prestasi pemimpin-pemimpin kita. Terima kasih Pak Jokowi, terima kasih Profesor Ma’ruf Amin, Anda telah berjasa, Anda akan dikenang, sebagai putra Indonesia yang termasuk terbaik.

Saudara-saudara sekalian, akhir kata saya mohon doa restu saudara-saudara, mari kita bangun Indonesia di atas landasan yang sudah dirintis oleh pendahulu kita. Mari kita belajar semua kekurangan kita akui dan kita perbaiki. Hentikan dendam, hilangkan kebencian, bangun kerukunan, bangun gotong-royong, itu kepribadian Indonesia, itu ajaran Bung Karno sendiri.

Saudara-saudara sekalian. 

Kami siap melanjutkan estafet kepemimpinan.

Kita siap bekerja keras menuju Indonesia Emas, menjadi bangsa yang kuat, merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.

Kita tidak mau mengganggu siapa pun, kita tidak mau mengganggu bangsa lain, tapi kita juga tidak akan mengizinkan bangsa mana pun untuk mengganggu kita.

Semoga Tuhan Yang Maha Besar, Allah Subhanahu wa ta'ala, yang memiliki sekalian alam, semoga melindungi kita semua, semoga menyertai kita semua dalam perjalanan kita, dalam pengabdian kita kepada bangsa negara kita. 

Kita juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa, agar tamu-tamu agung kita, mereka-mereka yang datang dari jauh, akan kembali ke rumah mereka masing-masing dalam keadaan aman dan dalam keadaan terus bersahabat dengan kita, saudara-saudara sekalian.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita sekalian. Shalom. Om Santi Santi Santi Om. Namo Buddhaya. Rahayu, rahayu. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Yang tidak teriak merdeka, tidak patriotik."

Baca juga: Megawati, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD Tak Hadir di Pelantikan Prabowo Sebagai Presiden RI

Baca juga: Trah Sri Sultan HB II Minta Prabowo Perjuangkan Pemulangan Aset Jarahan Geger Sepehi

Demikian isi pidato pertama Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia. (Tribunjogja.com/ANR)*

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved