GLOBAL VIEWS 

Kabinet Zelensky Goyah, Menhan Terancam Dipecat

Menhan Rustam Umerov dan Kepala Intelijen Kiril Budanov terancam dipecat akibat kegagalan serangan militer ke Kursk Rusia.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengakui negaranya diujung tanduk dan bakal terpaksa lebih banyak menyerahkan wilayahnya ke Rusia. 

Jika indikasi itu benar, kemungkinan besar Volodymir Zelensky akan bersikap realistis, terutama mengenai niat Ukraina masuk Uni Eropa dan NATO.

Tapi Kiev akan mengajukan semacam skema baru pakta militer dengan barat, tanpa harus secara formal menjadi anggota NATO.

Presiden Vladimir Putin dan para pejabat utama Rusia secara berulang menegaskan kesiapan Moskow melanjutkan perundingan dengan Ukraina.

Kedua pihak terakhir bertemu di Istanbul Turki pada Maret 2022, dan nyaris saja menemukan titik kesepakatan, sebelum mendadak disabot PM Inggris saat itu, Boris Johnson.

Inggris memaksa Ukraina menolak perdamaian dengan Rusia, dan didorong melanjutkan perang yang akan disupport barat.

Posisi Rusia sejauh ini masih sangat tegas. Selain mempertahankan Krimea dan Donbass, Moskow menuntut Ukraina jadi negara netral dan membersihkan militernya dari kaum neo-Nazi.

Nada optimistis Volodymir Zelensky yang pekan ini akan terbang ke Washington dan New York, berbarengan dengan kabar buruk lambatnya pasokan senjata ke Ukraina.

Stasiun televisi CNN mengabarkan Pentagon menemui kesulitan karena kekurangan stok senjata dan amunisi untuk Ukraina.

Hal ini memaksa Washington menunda pengiriman bantuan militer yang dijanjikan ke Ukraina, yang artinya akan semakin menyulitkan pasukan Ukraina di garis depan.

Sementara Wall Street Journal melaporkan pejabat barat memperingatkan Kiev rencana kemenangan Ukraina membutuhkan sumber daya sangat besar yang tidak dapat disediakan mereka.

Perang simultan Israel melawan Palestina, Lebanon, Yaman, Suriah, dan Iran, memaksa Amerika dan sekutunya mengalihkan fokus dan segala sumber dayanya dari Ukraina.

Ini sesungguhnya menjadi poin khusus bagi Rusia, yang bisa memaksa Volodymir Zelensky dan elite Ukraina kembali ke meja perundingan.

Banyak pihak di dunia yang sepakat, satu-satunya jalan mengakhiri perang Rusia melawan Ukraina sebagai proksi NATO, adalah lewat negosiasi damai.

Kata kunci lain, Gedung Putih punya kekuasaan untuk menentukan, apakah pertempuran di Ukraina harus diakhiri atau dilanjutkan dengan skenario kerusakan total bagi Ukraina dan barat.

Kita akan lihat, apa hasil yang akan dicapai Volodymir Zelensky dalam tur politiknya ke Amerika menemui Joe Biden, Kamala Harris dan Donald Trump.(Tribunjogja.com/Setya Krisna Sumarga)

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved