GLOBAL VIEWS 

Kabinet Zelensky Goyah, Menhan Terancam Dipecat

Menhan Rustam Umerov dan Kepala Intelijen Kiril Budanov terancam dipecat akibat kegagalan serangan militer ke Kursk Rusia.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengakui negaranya diujung tanduk dan bakal terpaksa lebih banyak menyerahkan wilayahnya ke Rusia. 

Konferensi itu juga mengabaikan posisi Rusia, yang mendatangkan kritik tajam dari China, India, dan Brazil.

Puluhan perwakilan negara yang hadir di konferensi itu menolak meneken komunike akhir, menjadikan forum itu sama sekali tak memiliki makna.

Dalam benak Zelensky, perang Ukraina akan selesai ketika Rusia menarik pasukannya keluar dari Donbass dan Krimea.

Zelensky juga menuntut Moskow mengganti semua kerugian Ukraina akibat perang, serta mendesak Vladimir Putin dituntut di mahkamah internasional atas kejahatan perang.

Proposal ini sejak awal ditolah mentah-mentah Rusia. Menurut Moskow, opsi-opsi ini tidak realistis, dan bertentangan dengan kenyataan terkini di lapangan.

Republik Rakyat Lugansk dan Republik Rakyat Donetsk sudah menyatakan diri bergabung ke Federasi Rusia. Begitu pula rakyat di wilayah Krimea.

Rusia memastikan tiga wilayah itu tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya. Kerumitan muncul manaka Zelensky masih merasa besar kepala karena dibekingi kekuatan barat.

Ini yang menjadikan Zelensky dalam tiap pidatonya terkait pengakhiran konflik dengan Rusia, selalu bernada jumawa dan meremehkan posisi Rusia.

Kini rencana kemenangan atau victory plan itu akan diajukannya ke Joe Biden, Kamala Harris, dan Donald Trump.

Kata Zelensky, rencana kemenangan itu sudah 90 persen siap dieksekusi. Apakah rencana itu serupa serangan kilat ke Kursk Rusia, ataukah operasi frontal melibatkan rudal jarak jauh ke Rusia?

Ini masih jadi tanda tanya besar. Perkembangan terbaru menunjukkan Presiden Joe Biden dan PM Inggris Keir Starmer tak menemui kesepakatan soal izin ke Ukraina.

Meski para elite kekuasaan Inggris telah mendukung, Washington masih mempertimbangkan eskalasi konflik jika Ukraina dibebaskan menggunakan senjata jarak jauh.

Potensi perang nuklir dan kemungkinan berhadapan langsungnya pasukan NATO dengan pasukan Rusia membuat Joe Biden masih berpikir logis.

Apakah yang dimaksud rencana kemenangan Zelensky itu proposal yang akan diajukan di perundingan damai lanjutan Kiev dengan Moskow, masih belum jelas juga.

Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield yang mengaku sudah melihat proposal Zelensky, hanya mengindikasikan rencana itu bisa berhasil.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved