GLOBAL VIEWS 

Kabinet Zelensky Goyah, Menhan Terancam Dipecat

Menhan Rustam Umerov dan Kepala Intelijen Kiril Budanov terancam dipecat akibat kegagalan serangan militer ke Kursk Rusia.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengakui negaranya diujung tanduk dan bakal terpaksa lebih banyak menyerahkan wilayahnya ke Rusia. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah aneka kemunduran dan masalah bertubi-tubi yang diderita Ukraina, Volodymir Zelensky dikabarkan dalam waktu dekat akan mendepak dua pembantu pentingnya.

Pertama Rustam Umerov yang belum lama menduduki jabatan Menteri Pertahanan Ukraina. Satu lagi, Kiril Budanov, Kepala GRU atau dinas intelijen Ukraina.

Umerov menggantikan Aleksey Reznikov, Menteri Pertahanan yang dianggap Zelenksy gagal menahan gerak maju pasukan Rusia di Donbass.

Sementara Kiril Budanov sudah sejak sebelum perang menduduki posisi itu, dan dikenal terlibat serangkaian operasi rahasia di Rusia, termasuk pembunuhan putri filsuf Alexander Dugin.

Dua tokoh terbaru yang kemungkinan bakal disingkirkan Zelensky ini dinilai gagal mencapai tujuan politik dan militer operasi lintas perbatasan ke Kursk Rusia.

Serangan masif yang mampu menjebol perbatasan Rusia itu praktis terhenti, pasukan Ukraina menderita kerugian besar baik personal maupun peralatan tempur.

Rusia gagal dipancing meninggalkan Donbass, dan sebaliknya justru semakin melaju dalam merebut berbagai titik strategis di wilayah timur Ukraina.

Baca juga: Sehari Setelah Insiden Jatuhnya Jet Tempur F-16, Zelensky Pecat Komandan Angkatan Udara Ukraina

Baca juga: Musuh Dalam Selimut, Zelensky Menduga Ada Pengkhianat di Ukraina

Baca juga: Zelensky Kesal, Barat Ogah Bantu Ukraina, Bersedia Lindungi Israel

Apa yang sedang terjadi di pemerintahan Volodymir Zelensky? Siapa sekarang tokoh Ukraina yang memiliki kekuasaan demikian besar di samping Zelensky?

Kepala Staf Kepresidenan Ukraina, Andrey Yermak dipandang sebagai orang kedua di Ukraina setelah Zelensky.

Pengaruhnya sangat besar terhadap apa yang terjadi di elite pemerintahan Kiev, termasuk mempengaruhi Zelenksy.

Umerov dan Budanov kabarnya juga diresafel atas bisikan Yermak, yang tak lagi menyukai kedua tokoh itu.

Jika Umerov termasuk orang baru di kabinet, Budanov termasuk satu dari sedikit orang berpengaruh yang tersisa di lingkaran dalam Zelensky.

Kabar gonjang-ganjingnya kabinet Zelensky ini dilansir media Strana di Ukraina, dan dikutip berbagai jaringan media internasional Rusia.

Goyahnya unsur-unsur pemerintahan Zelensky ini melengkapi apa yang terjadi beberapa pekan lalu ketika Menteri Luar Negeri Dmitri Kuleba disingkirkan dari kabinet.

Kuleba termasuk tokoh penting Ukraina sejak sebelum perang, dan memiliki andil besar diplomasi Ukraina di forum-forum internasional.

Hampir bersamaan pemberhentian Dmitri Kuleba, sederet Menteri Ukraina juga didepak dari pemerintahan.

Wakil Perdana Menteri untuk Integrasi Eropa Olga Stefanishina termasuk di antara mereka yang diberhentikan.

Kemunduran demi kemunduran, serta semakin beratnya posisi Ukraina dalam peperangan dengan Rusia, belakangan membuat Zelensky semakin kehilangan kendali.

Pembersihan para pejabatnya dilakukan ketika Ukraina tidak menunjukkan kemajuan atau sebaliknya mengalami kemunduran di berbagai front.

Ketika sebuah jet tempur F-16 milik Ukraina bantuan Denmark rontok, Zelensky langsung mencopot Kepala Staf Angkatan Udara Ukraina.  

Sebelumnya lewat proses alot, Zelensky mencopot tokoh kuat Jenderal Valery Zaluzhny, yang dianggap gagal memobilisasi pasukan dan menahan gerak maju pasukan Rusia di front Donbass.

Zaluzhny digantikan Jenderal Aleksander Syrksy, yang turut merancang serangan kilat lintas batas pasukan Ukraina ke Wilayah Kursk Rusia.  

Beberapa analis politik militer memandang rentetan pembersihan ala Zelensky itu sebagai upaya Yermak memusatkan kekuasaan dengan menempatkan tokoh-tokoh yang setia kepada kantor Zelensky.

Tapi resafel pejabat strategi Ukraina tu juga dipandang bukti meningkatnya disfungsi dalam pemerintahan Zelensky.

Volodymir Zelensky dalam penjelasannya, bersikeras menyatakan perombakan kabinet diperlukan untuk memberikan kekuatan baru kepada lembaga-lembaga negara

Zelensky agaknya ingin menyusun kekuatan baru menjelang tur Amerikanya, menemui Joe Biden, Kamala Harris, dan Donald Trump.

Lewat kanal Telegram pribadinya, Zelensky mengumumkan rencana kemenangan, yang proposalnya akan disampaikan ke pemimpin Amerika.

Detil rencana itu apa, tidak dijelaskan, dan dikatakan masih rahasia. Namun Zelensky mengisyaratkan formula itu akan menentukan nasib Ukraina sekarang dan ke depannya.

Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Zelensky menyodorkan formula penyelesaian konfliknya dengan Rusia, dalam skema menurut mereka.

Pernyataan mengejutkan datang dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ia menuding Tiongkok (China) sebagai alat Rusia untuk mendorong negara di Asia melewatkan pertemuan puncak perdamaian di Swiss bulan ini.
Pernyataan mengejutkan datang dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ia menuding Tiongkok (China) sebagai alat Rusia untuk mendorong negara di Asia melewatkan pertemuan puncak perdamaian di Swiss bulan ini. (TRIBUNJOGJA.COM)

Konferensi Ukraina di Swiss beberapa waktu lalu sebenarnya juga bermaksud menggolkan formula ini, tapi gagal karena banyak pihak menentangnya.

Konferensi itu juga mengabaikan posisi Rusia, yang mendatangkan kritik tajam dari China, India, dan Brazil.

Puluhan perwakilan negara yang hadir di konferensi itu menolak meneken komunike akhir, menjadikan forum itu sama sekali tak memiliki makna.

Dalam benak Zelensky, perang Ukraina akan selesai ketika Rusia menarik pasukannya keluar dari Donbass dan Krimea.

Zelensky juga menuntut Moskow mengganti semua kerugian Ukraina akibat perang, serta mendesak Vladimir Putin dituntut di mahkamah internasional atas kejahatan perang.

Proposal ini sejak awal ditolah mentah-mentah Rusia. Menurut Moskow, opsi-opsi ini tidak realistis, dan bertentangan dengan kenyataan terkini di lapangan.

Republik Rakyat Lugansk dan Republik Rakyat Donetsk sudah menyatakan diri bergabung ke Federasi Rusia. Begitu pula rakyat di wilayah Krimea.

Rusia memastikan tiga wilayah itu tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya. Kerumitan muncul manaka Zelensky masih merasa besar kepala karena dibekingi kekuatan barat.

Ini yang menjadikan Zelensky dalam tiap pidatonya terkait pengakhiran konflik dengan Rusia, selalu bernada jumawa dan meremehkan posisi Rusia.

Kini rencana kemenangan atau victory plan itu akan diajukannya ke Joe Biden, Kamala Harris, dan Donald Trump.

Kata Zelensky, rencana kemenangan itu sudah 90 persen siap dieksekusi. Apakah rencana itu serupa serangan kilat ke Kursk Rusia, ataukah operasi frontal melibatkan rudal jarak jauh ke Rusia?

Ini masih jadi tanda tanya besar. Perkembangan terbaru menunjukkan Presiden Joe Biden dan PM Inggris Keir Starmer tak menemui kesepakatan soal izin ke Ukraina.

Meski para elite kekuasaan Inggris telah mendukung, Washington masih mempertimbangkan eskalasi konflik jika Ukraina dibebaskan menggunakan senjata jarak jauh.

Potensi perang nuklir dan kemungkinan berhadapan langsungnya pasukan NATO dengan pasukan Rusia membuat Joe Biden masih berpikir logis.

Apakah yang dimaksud rencana kemenangan Zelensky itu proposal yang akan diajukan di perundingan damai lanjutan Kiev dengan Moskow, masih belum jelas juga.

Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield yang mengaku sudah melihat proposal Zelensky, hanya mengindikasikan rencana itu bisa berhasil.

Jika indikasi itu benar, kemungkinan besar Volodymir Zelensky akan bersikap realistis, terutama mengenai niat Ukraina masuk Uni Eropa dan NATO.

Tapi Kiev akan mengajukan semacam skema baru pakta militer dengan barat, tanpa harus secara formal menjadi anggota NATO.

Presiden Vladimir Putin dan para pejabat utama Rusia secara berulang menegaskan kesiapan Moskow melanjutkan perundingan dengan Ukraina.

Kedua pihak terakhir bertemu di Istanbul Turki pada Maret 2022, dan nyaris saja menemukan titik kesepakatan, sebelum mendadak disabot PM Inggris saat itu, Boris Johnson.

Inggris memaksa Ukraina menolak perdamaian dengan Rusia, dan didorong melanjutkan perang yang akan disupport barat.

Posisi Rusia sejauh ini masih sangat tegas. Selain mempertahankan Krimea dan Donbass, Moskow menuntut Ukraina jadi negara netral dan membersihkan militernya dari kaum neo-Nazi.

Nada optimistis Volodymir Zelensky yang pekan ini akan terbang ke Washington dan New York, berbarengan dengan kabar buruk lambatnya pasokan senjata ke Ukraina.

Stasiun televisi CNN mengabarkan Pentagon menemui kesulitan karena kekurangan stok senjata dan amunisi untuk Ukraina.

Hal ini memaksa Washington menunda pengiriman bantuan militer yang dijanjikan ke Ukraina, yang artinya akan semakin menyulitkan pasukan Ukraina di garis depan.

Sementara Wall Street Journal melaporkan pejabat barat memperingatkan Kiev rencana kemenangan Ukraina membutuhkan sumber daya sangat besar yang tidak dapat disediakan mereka.

Perang simultan Israel melawan Palestina, Lebanon, Yaman, Suriah, dan Iran, memaksa Amerika dan sekutunya mengalihkan fokus dan segala sumber dayanya dari Ukraina.

Ini sesungguhnya menjadi poin khusus bagi Rusia, yang bisa memaksa Volodymir Zelensky dan elite Ukraina kembali ke meja perundingan.

Banyak pihak di dunia yang sepakat, satu-satunya jalan mengakhiri perang Rusia melawan Ukraina sebagai proksi NATO, adalah lewat negosiasi damai.

Kata kunci lain, Gedung Putih punya kekuasaan untuk menentukan, apakah pertempuran di Ukraina harus diakhiri atau dilanjutkan dengan skenario kerusakan total bagi Ukraina dan barat.

Kita akan lihat, apa hasil yang akan dicapai Volodymir Zelensky dalam tur politiknya ke Amerika menemui Joe Biden, Kamala Harris dan Donald Trump.(Tribunjogja.com/Setya Krisna Sumarga)

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved