Kasus Demam Berdarah Dengue di DI Yogyakarta Melonjak, 3 Pasien Meninggal
Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mencatat adanya peningkatan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga Maret 2024
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Namun demikian, terdapat dua kelurahan paling banyak menyumbang kasus, yakni Pandeyan dan Sorosutan, masing-masing 4 kasus. "Memang ada kenaikan juga di Kota Yogya, ada 49 kasus DBD sampai bulan Maret ini," jelasnya, Selasa (26/3).
Endang menyebut, peningkatan kasus DBD sedikit banyak disebabkan oleh warga yang cenderung abai. Dalam artian, gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang merupakan kunci penyebaran DBD, mulai ditinggalkan. "Penyebabnya terlena tidak PSN, kemudian cuaca tidak menentu, kadang hujan deras, kadang panas. Tapi, sejauh ini tidak ada pasien meninggal, semoga tidak ada," tuturnya.
Ia pun tidak memungkiri, jika dibandingkan tahun lalu, peningkatan kasus DBD di awal 2024 cenderung cukup signifikan. Bagaimana tidak, sepanjang 2023 silam, di Kota Yogyakarta hanya terdapat 85 kasus saja.
Namun, jika dibandingkan dengan daerah lain, Endang meyakini, lonjakan kasus di Kota Pelajar bisa dibilang tidak terlampau drastis. Sebab, keberadaan populasi nyamuk wolbachia di Kota Yogya yang terbilang masih tinggi, sangat berdampak dalam menekan kasus DBD. "Sebarannya masih 80 persen wilayah Kota Yogyakarta. Jadi, pengaruhnya tentu masih ada. Di daerah lain, penularannya bisa lebih tinggi," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widiyantara menguraikan, kasus DBD mengalami peningkatan pada minggu ketujuh tahun ini. Pada minggu ketujuh ada sembilan pasien dalam sepekan. Kemudian sebelumnya, ada lima pasien dalam sepekan.
Secara total, sejak awal 2024 sampai saat ini, tercatat ada 70 pasien DBD. Namun demikian, kasus DBD di Bumi Projotamansari tidak sampai merenggut nyawa pasien. Demikian pula pada 2023 lalu. Walau secara total ada 136 pasien, namun hal itu tidak sampai menyebabkan pasien meninggal dunia.
Meski begitu, masyarakat tetap diimbau untuk waspada terkait sebaran kasus yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti tersebut. Sebab, kondisi hujan bisa membuat potensi kasus tersebut meningkat. Terlebih, nyamuk tersebut mudah bekembang biak apabila banyak genangan air di sekitar rumah.
Sejatinya, Bantul telah memiliki inovasi teknologi penyebaran nyamuk berwolbachia untuk menurunkan penyebaran DBD. Sayangnya, pada saat ini, metode tersebut masih bersinggungan dengan nyamuk yang non-wolbachia.
Kini Dinkes Bantul tengah berupaya mengintensifkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk
(PSN). Sebab, hal itu merupakan kunci menekan kasus DBD. Pun ditambah dengan pengintesifan program satu rumah satu jumantik. Melalui gerakan itu, angka sebaran DBD di Bantul diharapkan dapat turun dan tidak menimbulkan korban jiwa. (Tim Tribun Jogja)
Keracunan MBG Pelajar di DIY, Ombudsman: Program Nyaris Tanpa Pengawasan, Pelanggaran Nir Sanksi |
![]() |
---|
Alasan Van Gastel Jarang Lakukan Pergantian Pemain PSIM Yogya hingga Minta Rafinha Tunggu Momentum |
![]() |
---|
Civitas Akademika FKIK UMY Kecam Insiden Intimidasi yang Dialami Dokter Syahpri, Ini Sikapnya |
![]() |
---|
Cerita Petinju Fitra Aulia Pangkas Berat Badan hingga 7 Kg demi Naik Ring F2F Showcase Yogyakarta |
![]() |
---|
Seorang Karyawan Toko Oleh-oleh di Jogja Gelapkan Uang Hasil Penjualan untuk Main Judi Slot |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.