Kasus Demam Berdarah Dengue di DI Yogyakarta Melonjak, 3 Pasien Meninggal

Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mencatat adanya peningkatan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga Maret 2024

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUN JOGJA/M FAUZIARAKHMAN
Ilustrasi: Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat adanya peningkatan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga Maret 2024 

"Nyamuk ini kan tidak hanya bertelur di bak mandi, tapi juga di botol bekas, tempat bekas di luar rumah, potongan bambu yang dapat menampung air, ini yang mungkin tidak terkontrol dan disangka-sangka oleh masyarakat kita," ujarnya.

Disinggung terkait inovasi teknologi nyamuk wolbachia untuk menurunkan penyebaran DBD, Setiyo menjelaskan bahwa itu menjadi intervensi pendukung, bukanlah upaya utama.

"Karena masih terus dikembangkan riset-risetnya. Kalau riset dari Tahija, terbukti di Kota (Yogya) menurunkan kasusnya sampai 77 persen. Ada lagi pandangan pakar, nyamuk ber-wolbachia ini bisa menurunkan tingkat keparahannya. Ini semua harus ada pembuktian dengan riset-riset yang lain," kata dia.

"Tetap yang utama yakni yakni pencegahannya, Gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (Jumantik), serta 3M plus yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti," pungkasnya.

Kasus di Sleman

Dinas Kesehatan Sleman mencatat hingga bulan ini terdapat 70 kasus DBD di wilayahnya, berdasarkan laporan kewaspadaan dini rumah sakit. Jika dibandingkan tahun lalu, jumlah ini relatif tidak mengalami kenaikan. Namun, satu orang dikabarkan meninggal dunia akibat gigitan nyamuk aedes eegypti ini.

"Ada satu yang meninggal dunia dari kapanewon Sleman bulan yang sudah lalu," jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, Selasa (26/3).

Tujuh puluh kasus yang tercatat dari Januari hingga Maret tahun ini relatif tidak mengalami kenaikan dibanding dengan periode yang sama di tahun lalu sebanyak 76 kasus.

Namun, jika dilihat dari akumulasi dari bulan Januari, Februari, sampai dengan Maret memang meningkat. Upaya edukasi dan antisipasi untuk mencegah penyebaran DBD terus dilakukan.

Pencegahan dilakukan melalui promosi kesehatan kepada masyarakat. Selain itu, juga menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin dan periodik oleh jumantik atau setiap rumah satu juru pemantau jentik.

Menurut Yuli, di tengah cuaca tak menentu, peningkatan kewaspadaan masyarakat sangat diperlukan. Masyarakat diminta mengecek tempat perkembangbiakan nyamuk di sekitar lingkungan rumah masing-masing.

"Barang di sekitar rumah dan pekarangan yang dapat menampung air hujan agar segera ditumpahkan. Sehingga tidak ada lagi telur nyamuk aedes aegypti. Telur tidak sempat berkembang menjadi larva sampai dengan menjadi nyamuk baru. Dengan demikian kasus DB maupun DBD bisa ditekan. Masyarakat juga tetap harus menerapkan budaya perilaku hidup bersih dan sehat," kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinkes Sleman, dr. Cahya Purnama sebelumnya mengatakan, berdasarkan golongan umur, temuan kasus DBD di Sleman terjadi hampir di semua rentang usia, mulai dari balita hingga lebih dari 60 tahun. Paling banyak di rentang usia 6-18 tahun dengan 25 kasus. Laki-laki 17 kasus dan perempuan 8 kasus.

Sebaran merata

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Yogyakarta mengalami peningkatan sepanjang awal 2024 ini. Tercatat, hingga 26 Maret 2024, ada 49 kasus DBD yang terjadi di wilayah Kota Pelajar. Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu memaparkan, sebaran kasus cenderung sangat merata.

Halaman
123
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved