Berita Jogja Hari Ini

Yogyakarta Miliki Museum Kriptologi Ketiga Di Dunia, HB X dan HB IX Dianugerahi Adibhakti Sanapati

Sri Sultan Hamengku Buwono X berperan penting dalam pendirian Museum Sandi di Indonesia. Saat ini, baru ada tiga museum kriptologi di dunia, yaitu

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Kurniatul Hidayah
Dok Humas Pemda DIY
Kepala BSSN, Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian menyerahkan penghargaan kepada Sri Sultan HB X dalam acara Malam BSSN Award 2023 yang berlangsung di Avenzel Hotel and Convention, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (8/6/2023) malam 

Tercatat ada tiga tokoh di Indonesia yang memiliki peran besar terhadap persandian, yaitu Mayjen TNI (Purn) Dr Roebiono Kertopati (Bapak Persandian Indonesia), Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Bapak Penegakan Kedaulatan Negara 1 Maret 1949) dan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Ketiganya mendapatkan anugerah Adihakti Sanapati dari BSSN. Meskipun dua tokoh yaitu Rubiono dan Sri Sultan HB IX, mendapat penghargaan secara anumerta.

Pada dunia persandian, Setyo memaparkan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX berjasa dalam masa perang kemerdekaan Republik Indonesia melawan penjajah Belanda.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan tangan terbuka mempersilahkan seluruh organ perjuangan Indonesia untuk menggunakan tanah dan bangunan di wilayah Yogyakarta dalam melawan penjajah.

Bersama rakyat Yogyakarta Sri Sultan turut mendukung Menteri Pertahanan saat itu yaitu Mayjen TNI (Purn) Dr. Roebiono Kertapati membentuk jawatan sandi yang diberi nama Dinas Code.

Jasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini dibuktikan dengan pengumpulan dan penyampaian data informasi yang berasal dari titik-titik gerilya pada Agresi Militer 2 dapat diteruskan pada TB Simatupang di Banaran.

Berkat jasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX pula, persandian memiliki peran yang sangat penting dalam upaya merebut Yogyakarta dari tangan Belanda dapat berhasil dilakukan selama kurang dari 6 jam.

Pada saat itulah peran dari pejuang sandi untuk mengirimkan berita rahasia melalui pemancar radio di Banaran, Gunungkidul, Bukittinggi hingga New Delhi dapat terjadi, sehingga akhirnya berita bahwa Yogyakarta merdeka selama 6 jam tersebut dapat diketahui oleh dunia internasional dan membuktikan bahwa negara Republik Indonesia masih ada.

Sementara Roebiono Kertopati yang dikenal dengan Bapak Persandian Indonesia juga berperan besar.

Sang dokter militer ini sangat tertarik pada bahasa sandi dan menunjukkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Soekarno dan Hatta di Yogyakarta betapa karyanya tersebut jauh lebih layak digunakan dibanding sistem sandi masa Kolonial pada tahun 1946.

Menurut Setyo, saar ini pun Rumah Sandi di Kulon Progo tempat Rubiono Kertopati dan anggota sandi negara saat itu bersembunyi dari serangan Belanda, yang masih kokoh berdiri sampai sekarang.

“Sandi yang disusun Roebiono dikirimkan melalui jaringan radio dan diterima oleh radio receiver di Bukittinggi, menjadi salah satu hal terpenting untuk mempertahankan republik di mata dunia. Itu tidak bisa dibaca oleh Belanda.

andi Roebiono mengabarkan apa saja yang terjadi di Yogya sehingga PDRI di Bukittingi punya bahan untuk mengambil keputusan untuk diteruskan ke PBB,” jelas Setyo. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved