Berita Jogja Hari Ini
Yogyakarta Miliki Museum Kriptologi Ketiga Di Dunia, HB X dan HB IX Dianugerahi Adibhakti Sanapati
Sri Sultan Hamengku Buwono X berperan penting dalam pendirian Museum Sandi di Indonesia. Saat ini, baru ada tiga museum kriptologi di dunia, yaitu
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sri Sultan Hamengku Buwono X berperan penting dalam pendirian Museum Sandi di Indonesia.
Saat ini, baru ada tiga museum kriptologi di dunia, yaitu National Cryptologic Museum di Amerika Serikat, Cryptology Museum and Bletchley Park di Inggris, dan Museum Sandi milik Indonesia.
Pada tahun 2006, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memprakarsai berdirinya Museum Sandi bersama Kepala Lembaga Sandi Negara Republik Indonesia, Mayjen TNI Nachrowi Ramli.
Diketahui, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan gagasan untuk menampilkan benda-benda terkait sejarah persandian di Museum Perjuangan Yogyakarta.
Gagasan cemerlang tersebut ditindaklanjuti dengan pembentukan tim pengisian koleksi Museum Sandi di DIY yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Lembaga Sandi Negara Nomor KP. 601/ KEP 116.A/ 2007 dan penelusuran sejarah persandian Indonesia.
Tepat pada 29 Juli 2008 dilaksanakan peresmian museum kriptografi pertama di Indonesia sekaligus ketiga di dunia dengan nama Museum Sandi.
Baca juga: Ada 46 Ribu Lebih Ternak Siap Potong di Gunungkidul, Kebutuhan Hewan Kurban Dipastikan Cukup
Kepala Museum Sandi, Setyo Budi Prabowo menjelaskan, dari DIY, Museum Sandi berkembang pesat. Sejak tahun 2014, Museum Sandi menempati aset Pemda DIY berupa bangunan cagar budaya di kawasan Kotabaru, Yogyakarta.
Dalam perkembangan persandian di Indonesia, DIY memiliki peran penting sebagai lokasi berdirinya Dinas Code yang kemudian bertransformasi menjadi Badan Siber dan Sandi Negara.
Juga menjadi lokasi berdirinya Museum Sandi yang merupakan satu-satunya museum kriptologi di Indonesia.
“Selain pendirian Museum Sandi, pada 1996 Ngarsa Dalem juga mengizinkan pembangunan Monumen Sanapati untuk memperingati 50 Tahun Persandian Indonesia. Hingga saat ini Monumen Sanapati masih kokoh berdiri di Kotabaru, Yogyakarta,” papar Setyo, Jumat (9/6/2023).
Selain keberadaan Museum Sandi, tradisi lain yang masih terpelihara dengan baik di DIY ialah pertemuan Forum Komunikasi Persandian Daerah (Forkomsanda) yang rutin digelar setiap bulan.
Kepengurusan Forkomsanda ditetapkan dengan SK Gubernur DIY. Forkomsanda beranggotakan unit teknis pelaksana persandian di wilayah DIY meliputi Pemda DIY, Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah DIY, TNI, Polri, Kejaksaan Tinggi dan Museum Sandi DIY.
Setyo menambahkan, kiprah persandian Sri Sultan tidak berhenti di situ saja.
Menurutnya, Sri Sultan juga sangat memperhatikan keamanan siber dengan mengeluarkan regulasi tentang sistem manajemen keamanan informasi yang bertujuan melindungi kerahasiaan, ketersediaan, dan keutuhan aspek informasi di lingkungan Pemda DIY.
Selain juga mendukung keamanan siber dan sandi dengan pelaksanaan MoU Pemda DIY dengan BSSN, Pembentukan Computer Security Incident Response Tim atau Jogjaprof CSIRT serta pembangunan security operation center atau SOC.
KENAPA Cuaca di Yogyakarta Terasa Dingin Akhir-akhir Ini? Ini 5 Fakta Menariknya |
![]() |
---|
Kronologi 3 Wisatawan Asal Sragen dan Karanganyar Terseret Ombak di Pantai Parangtritis |
![]() |
---|
Banyak Moge Harley Davidson Lewat Jogja, Ada Event Apa? |
![]() |
---|
Produsen Anggur Merah Kaliurang Buka Suara, Produksi Dihentikan, Produk Ditarik dari Pasaran |
![]() |
---|
INFO Festival Durian Jogja di Sleman Ada All You Can Eat dan Lomba Makan Durian 26-29 Januari 2025 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.