Kecepatan Penularan COVID-19 di Kota Yogya Meningkat 10 Kali Lipat Sepanjang Juli 2021
Pemerintah kota Yogyakarta (Pemkot) mencatat kecepatan sebaran Covid-19 mencapai lebih dari 10 kali lipat sepanjang Juli 2021
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tingkat penularan COVID-19 di Kota Yogyakarta mengalami lonjakan sangat masif sepanjang bulan Juli 2021.
Bahkan, pemerintah kota Yogyakarta (Pemkot) mencatat kecepatan sebarannya mencapai lebih dari 10 kali lipat.
Ketua Harian Satgas COVID-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, mengatakan seperti pernyataan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X tempo hari, virus yang kini berkembang di kota pelajar ialah varian delta.
"Juli (2021) ini, di Kota Yogyakarta tingkat kecepatannya sampai lebih dari 10 kali lipat. Ya, yang biasanya setiap hari cuma bertambah 10-30 kasus, akhir-akhir ini bisa mencapai 300-400 kasus," kata Heroe, Senin (19/7/2021).
• PPKM Darurat Dinilai Belum Mampu Turunkan Penyebaran Covid-19 di Gunungkidul
Baca juga: Prokes Kendor, Kasus Covid-19 di Bantul Melonjak
Menurutnya, varian delta hanya bisa diatasi dengan cara mengurangi terjadinya interaksi.
Salah satunya, dengan meniadakan kegiatan dan kerumunan, yang berpotensi terjadi sebaran virus di tengah masyarakat.
"Kehadiran COVID-19 di sekitar kita, tidak ada yang tahu, tidak diketahui. Tak ada desingan peluru dan rengengan nyamuk, tapi sangat senyap, langsung menempel ke siapapun, tanpa terkecuali," ungkap Heroe.

Karenanya, Wakil Wali Kota Yogyakarta itu mengatakan kapasitas layanan kesehatan yang selalu ditambah tiap harinya, tidak akan cukup menampung pasien ketika peningkatan kasus belum konsisten terhenti.
"Jadi, berapapun yang kita tambah jumlah kamarnya, itu tidak akan pernah mencukupi, seandianya, peningkatan kasus baru masih terus terjadi," tandasnya.
Baca juga: Konsistensi Pasukan Bregada Yogyakarta Ingatkan Prokes di Kawasan Malioboro-Titik Nol
Baca juga: Vaksinasi Goes To School Bergulir di Kota Yogya, Targetkan 1.000 Pelajar Terinjeksi dalam Sehari
Situasi tersebut, otomatis berdampak terhadap lonjakan kebutuhan Oksigen di fasiltas kesehatan.
Bahkan, lanjut Heroe, setiap harinya para pimpinan rumah sakit di Kota Yogyakarta merasa khawatir kehabisan stok.
"Sampai saat ini masih terpenuhi. Tapi, setiap hari selalu senam jantung, jika kemudian ada rumah sakit yang mulai minim persediaannya, sementara suplai oksigen belum sampai di tempat," pungkas Wawali. (*)