Prediksi Erupsi Gunung Merapi

BPPTKG Sebut Aktivitas Gunung Merapi Stabil Tinggi, Potensi Erupsi Tidak Sebesar 2010

Hanik Humaida menyebutkan sampai saat ini tingkat aktivitas Gunung Merapi masih tinggi dan belum menunjukkan penurunan. 

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Maruti A Husna
Kepala BPPTKG, Hanik Humaida (tengah) dalam konferensi pers bersama BNPB serta BPBD DIY dan BPBD Jawa Tengah, Jumat (13/11/2020) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida menyebutkan sampai saat ini tingkat aktivitas Gunung Merapi masih tinggi dan belum menunjukkan penurunan. 

Namun demikian, tidak pula ditemukan peningkatan yang signifikan dari parameter-parameter yang ada terkait aktivitas Merapi hingga kini. 

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida. (Tangkapan layar kegiatan webinar peringatan Dasawarsa Merapi, Rabu (4/11/2020).)

"Tingkat aktivitas Merapi masih tinggi, belum ada penurunan. Tapi belum ada peningkatan yang signifikan juga. Jadi bisa dikatakan stabil tinggi," ujar Hanik dalam Konferensi Pers bersama BNPB serta BPBD DIY dan BPBD Jawa Tengah, Jumat (13/11/2020). 

Baca juga: Sleman Virtual Expo Diharapkan Dongkrak Kebangkitan IKM Saat Pandemi

Baca juga: Jawaban Tuntas Kustini - Danang Bareng Stakeholder Mbangun Sleman

Baca juga: Pemkab Gunungkidul Terima Bansos Sembako dari Kemensos RI

Dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, lanjut Hanik, telah terjadi beberapa kali guguran dengan jarak luncur cukup jauh hingga 3 kilometer dan yang terbaru 2 kilometer.

"Ini indikator adanya desakan magma dari dalam," imbuhnya. 

Hanik menerangkan, guguran ini adalah guguran yang wajar terjadi saat aktivitas Merapi meningkat.

Gunung Merapi terlihat dari Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (10/11/2020).
Gunung Merapi terlihat dari Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (10/11/2020). (KOMPAS.com/LABIB ZAMANI)

Guguran ini, jelas Hanik, adalah guguran lava lama yang ada di tebing-tebing kawah Gunung Merapi.

Adapun kubah lava baru hingga saat ini belum muncul. 

Ia mengungkapkan, potensi ancaman bahaya Gunung Merapi hingga kini masih sama, yakni jarak terjauh 5 kilometer. Sementara, di sisi utara 3 kilometer. 

Baca juga: Neymar Dicoret dari Daftar Pemain Timnas Brasil untuk Kualifikasi Piala Dunia 2022, Ini Alasannya

Baca juga: Misteri Temuan Jenazah di Lapangan Kentungan Sleman, Kronologi Pembunuhan serta Motif para Tersangka

Baca juga: Limbah Masker Medis Tak Boleh Dicampur Sampah Lain, Begini Penjelasan Dinas Kesehatan DI Yogyakarta

Selain itu, potensi erupsi masih sama, yaitu kemungkinan erupsi efusif seperti 2006, namun disertai eksplosivitas. 

Namun, menurut Hanik, dari data yang ada hingga kini prediksi erupsi yang akan terjadi tidak akan sebesar erupsi 2010.

ILUSTRASI - 10 tahun yang lalu, tepatnya 26 Oktober 2010, Gunung Merapi meletus eksplosif.Letusan pertama terjadi pukul 17.02, disusul rentetan letusan besar petang itu meluluhlantakkan Kinahrejo dan Kaliadem.
ILUSTRASI - 10 tahun yang lalu, tepatnya 26 Oktober 2010, Gunung Merapi meletus eksplosif.Letusan pertama terjadi pukul 17.02, disusul rentetan letusan besar petang itu meluluhlantakkan Kinahrejo dan Kaliadem. (DOK)

Sebab, menjelang erupsi 2010 deformasi Gunung Merapi mengalami peningkatan secara eksponensial setiap hari. Berbeda dengan yang terjadi saat ini yang sejak Juni 2020 deformasi menunjukkan pemendekan 1 cm/minggu.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Mulai Siapkan Nakes untuk Pelatihan Vaksinasi Covid-19

Baca juga: Wali Kota Yogyakarta Ingin Revitalisasi Tugu Pal Putih Selesai Sebelum Akhir Tahun 2020

Baca juga: Proses Integrasi Wisata Air di Kali Gajah Wong Yogyakarta Terkendala Perbatasan Wilayah

"Peningkatan deformasi 2010 eksponensial setiap hari. Jadi misal hari ini 1 cm, besok 2 cm, lalu besoknya 4 cm, 8 cm, dan seterusnya. Kalau sekarang sejak Juni itu bisa 1 cm/minggu. Jadi peningkatannya tidak signifikan. Pemendekan EDM sampai data saat ini kemungkinan seperti erupsi 2010 tidak terjadi," paparnya. (uti) 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved