Wabah Corona

Keluh Kesah Para Buruh di DIY Menanti Bantuan Sosial

Keprihatinan mendalam dirasakan beberapa pekerja yang telah dirumahkan sejak munculnya pandemi Covid-19 di DIY.

Tayang:
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Ari Nugroho
Shutterstock via kompas.com
Ilustrasi virus corona 

"Usaha itu saja lah lebih jelas. Bisa bantu-bantu orang tua sambil dagang ayam, karena kebutuhan jalan terus," terang dia.

Pengurangan jam kerja itu mulai ia rasakan sejak awal Maret. Biasanya, dalam satu bulan, Gaguk mampu isi daftar hadir sebanyaj 24 pertemuan.

Karena banyak pemberlakukan pembatasan sosial, okupansi hotel turun 80 persen. Ia pun saat ini hanya bekerja lima hari dalam satu bulan.

"Itu saja tidak maksimal. Karena tamu hanya tiga dan tak lebih dari lima. Besar biaya produksinya," keluhnya.

Menjelang hari buruh yang akan datang, Gaguk meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) DIY untuk memperhatikan nasib pekerja yang telah dirumahkan.

6.493 Tenaga Kerja di Kabupaten Magelang Dirumahkan, 526 Terkena PHK

Selain itu, dirinya meminta kejelasan terkait penyaluran bantuan tersebut.

Karena ia mengaku sudah sangat kesulitan untuk menghidupi keluarganya.

"Uang Rp 12 ribu saya paksakan untuk kebutuhan sehari-hari. Karena saya lebih peduli dengan bayi di dalam kandungan isteri saya. Untungnya ibu saya kadang ikut bantu kasih saya sayuran untuk dimasak. Kalau memang ada bantuan dari pemerintah ya saya harap bisa tepat sasaran," ujar pria yang tinggal di Kelurahan Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta ini.

Kondisi jauh lebih menprihatinkan juga dialami Kristo Ferdi Kristiawan, lelaki yang satu tempat kerja bersama Gaguk ini pun jauh lebih sulit kondisinya

Secara posisi kerja, Kristo merupakan karyawan lepas di hotel bintang empat Yogyakarta.

Selain mengurus diri sendiri, Kristo rupanya menjadi tulang punggung bagi kakek dan neneknya.

Saat dihubungi Tribunjogja.com, suara serak terdengar dari pria berumur 27 tahun yang satu ini

Tak ada yang bisa ia andalkan kecuali menunggu bantuan dari pemerintah. Sekilas ingin beralih pekerjaan dengan berdagang, namun ia urungkan.

Terdampak Virus Corona, Okupansi Hotel Bintang di Sleman di Kisaran 7 Persen

Alasannya daya beli masyarakat sekarang rendah. Semua sektor ekonomi terpukul.

"Sama sekali tak ada pemasukan. Mau dagang juga bingung modalnya. Sementara saya harus mencukupi kebutuhan kakek dan nenek saya," katanya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved