Kisah Penyerbuan Brutal Pasukan Inggris dan Aksi Jarah Kraton Yogya
Peter Carey melukiskan detik-detik penyerahan diri Sultan HB II dan keluarganya di pendopo Srimanganti
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Penggeledahan habis-habisan dilakukan di kediaman Ratu Kencono Wulan.
Perempuan itu diyakini menyimpan perhiasan dalam jumlah besar dan intan sebesar jempol kaki. Ratu membantah, dan hanya menyerahkan sekantung berlian.
Intimidasi kasar membuat sang Ratu bertekuk lutut dan menyerahkan cincin intan besar, yang disembunyikan di dasar sumur kediamannya.
Menurut Babad Jatuhnya Yogyakarta, penjarahan terus berlangsung hingga empat hari lamanya.
Barang-barang rampasan keraton diangkut menggunakan pedati dan kuli panggul.
Sejumlah bangsawan keraton dipaksa ikut jadi kuli panggul, menggotong kotak-kotak berisi barang pusaka ke Wisma Residen.
Paling banyak yang diangkut alat persenjataan, wayang, gamelan keraton, arsip dan naskah- naskah kuno berupa babad, surat daftar tanah dan lain sebagainya. Identifikasi barang-barang bernilai tinggi itu dibantu Pangeran Notokusumo yang kemudian jadi Paku Alam I.
Semua naskah kuno hasil rampokan dari keraton diangkut ke Inggris, kecuali satu babad berisi daftar raja-raja Jawa yang diserahkan Raffles ke Notokusumo.
Sebagian koleksi naskah Jawa dan nusantara itu kini disimpan di British Library dan Royal Asiatic Society.(xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penaklukan-pulau-jawa_3008_20170830_103203.jpg)