Kisah Penyerbuan Brutal Pasukan Inggris dan Aksi Jarah Kraton Yogya

Peter Carey melukiskan detik-detik penyerahan diri Sultan HB II dan keluarganya di pendopo Srimanganti

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
IST
Cover buku Penaklukan Pulau Jawa karya Mayor Mayor William Thorn 

Mereka digiring dan diapit barisan serdadu Inggis dan Sepoy dengan pedang terhunus dan sangkkut terpasang di senapannya.

Tatkala rombongan masuk Wisma Residen, Raffles menyambutnya dengan rasa puas.

Para pangeran yang membelot melihat kehadiran Sultan dengan dingin.

Sultan kemudian dipaksa menyerahkan keris dan perhiasan milik mereka.

Air mata Sultan menetes di hadapan banyak orang, termasuk sang Putra Mahkota yang telah tertawan. Saat itu pukul 8 pagi, 20 Juni 1812.

Pedang dan belati Sultan diambil Raffles dan dikirim sebagai tanda mata ke Lord Minto di Kalkuta, India.

Pengiriman pedang dan belati itu sekaligus simbol penyerahan total kasultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan Inggris.

Ketika Sultan sudah dimasukkan tahanan bersama putra kesayangannya, Pangeran Mangkudiningrat, mengutip tulisan Nahuys van Burgst (1835), Peter Carey menulis, para prajurit penjaga mencopoti kancing-kancing berlian di pakaian Sultan yang ditanggalkan.

Bagaimana dengan aksi jarah rayah harta keraton?

Peter Carey menuliskannya di jilid III bagian awal buku Kuasa Ramalan.

Raffles sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Jawa melaporkan hal ihwal penguasaan harta-harta kerajaan itu ke Lord Minto.

Sesudah keraton dikuasai, semua penghuni pentingnya ditawan, Gillespie membagi-bagi harta rayahan. Ia mendapatkan bagian terbesar uang sebanyak 15.000 pound (1,5 juta poundsterling di masa sekarang). Sisanya dibagi ke para perwira dan prajuritnya.

Pangeran Prangwedono yang memimpin Legiun Prangwedono (Mangkunegaran), menerima bagian 140 ribu poundsterling. Tak terhitung lagi harta karun naskah kuno, benda antik, emas, perak, intan berlian yang turut dirampas pasukan Raffles.

Masih menurut Carey, sejumlah insiden kekerasan di keputren terjadi saat penyerbuan. Raden Ayu Wandan, istri Putra Mahkota, diperlakukan kasar.

Semua perhiasan dan pakaian kebesarannya dilucuti, hingga ia tampak memelas di hadapan para prajurit.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved