Kisah Penyerbuan Brutal Pasukan Inggris dan Aksi Jarah Kraton Yogya
Peter Carey melukiskan detik-detik penyerahan diri Sultan HB II dan keluarganya di pendopo Srimanganti
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mayor William Thorn, pelaku sejarah serbuan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812 menulis, penaklukan raja Jawa, Sultan HB II, dilakukan dengan cara-cara terhormat penuh kedisiplinan.
Dalam buku memoar yang ditulisnya, Penaklukan Pulau Jawa, terbit pertama tahun 1815, Thorn yang ikut bertempur di Jakarta, melukiskan penyerahan diri Sultan HB II terjadi setelah tiga jam penyerbuan yang sangat sengit dan brutal.
Sekitar 1.000 prajurit Inggris melawan tak kurang 17 ribu prajurit Sultan dan pengikutnya di dalam maupun luar benteng.
"Semangat heroik dan budi luhur menjadi karakteristik khas tentara Inggris," puji Thorn dalam bukunya.
Baca: Mencekam ! Tiga Jam Penuh Darah Saat Takluknya Kraton Yogya di Tangan Inggris
"Kaum perempuan di bagian dalam istana diperlakukan sangat hormat, dan harta kekayaan di sana juga dilindungi," lanjutnya. "Tak ada satupun orang dilecehkan, dan tak ada perkosaan terjadi," tulis Thorn lagi.
Betulkah demikian?
Dr Peter Carey, spesialis peneliti Diponegoro dan masa-masa sekitarnya menceritakan berbeda.
Di buku jilid 1 Kuasa Ramalan, Peter Carey melukiskan detik-detik penyerahan diri Sultan HB II dan keluarganya di pendopo Srimanganti.
Ketika garda terdepan pasukan Inggris mencapai Srimanganti, Sultan dan orang-orang terdekatnya terlihat mengenakan pakaian serba putih.
Mereka membiarkan ketika senjata-senjata pusakanya dilucuti secara kasar oleh para prajurit Inggris dan Sepoy.
Sultan diamankan perwira Letnan Henry N Douglas dari Resimen Infantri Highland ke-78. Permintaannya membawa pusaka keraton ditolak Gillespie, yang kemudian menyitanya.
Pusaka yang disita terdiri keris Kiai Paningset, Kiai Sengkelat, Kiai Urub, dan Kiai Jinggo.
Tiga keris pusaka utama, yaitu Kiai Gupito, Kiai Joko Piturun, Kiai Mesem, yang semula disita Gillespie, dikembalikan ketika penobatan Putra Mahkota sebagai Sultan HB III.
Sesudah itu Sultan dan keluarganya digiring dari keraton ke Wisma Residen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penaklukan-pulau-jawa_3008_20170830_103203.jpg)