Takluknya Kraton Yogya di Tangan Inggris

Mencekam ! Tiga Jam Penuh Darah Saat Takluknya Kraton Yogya di Tangan Inggris

Tragedi ini memuncaki konflik internal, trik intrik, persekongkolan sekaligus pengkhianatan di antara para bangsawan kerajaan.

Mencekam ! Tiga Jam Penuh Darah Saat Takluknya Kraton Yogya di Tangan Inggris
TRIBUNJOGJA.com | SETYA KRISNA SUMARGO
GEGER SPEHI - Adegan wayang kulit memperlihatkan peristiwa saat Gubernur Jenderal Stamford Raffles menobatkan RM Surojo sebagai Sultan HB III, menggantikan HB II yang dicopot setelah keraton diserbu. Pertunjukan digelar di Ndalem Yudonegaran, Selasa (29/8/2017) malam. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sekitar 205 tahun lalu, peristiwa maha akbar berdarah-darah berlangsung di jantung Kasultanan Yogyakarta. Tragedi ini memuncaki konflik internal, trik intrik, persekongkolan sekaligus pengkhianatan di antara para bangsawan kerajaan.

Pasukan Gubernur Jenderal Inggris Sir Stamford Raffles yang dipimpin Kolonel RR Gillespie pada 20 Juni 1812 selama tiga jam penuh menggempur Keraton, meruntuhkan bentengnya, menaklukkan Sultan HB II, menjarah rayah harta karun seisi istana, termasuk keputren.

Akhir dari episode muram masa HB II ini adalah dinaiktahtakannya secara paksa sang Putra Mahkota menjadi Sultan HB III. Keberhasilan invasi Inggris ke Keraton Yogyakarta inipun menandai kemerosotan kasultanan sejak didirikan Pangeran Mangkubumi pada 6 November 1755.

Setelah 57 tahun berdiri megah sebagai kerajaan baru yang kokoh dan tidak tertundukkan, Keraton Yogyakarta remuk. Sebagian besar penyebab karena maraknya intrik internal.

Ayah dan anak berebut tahta, yang secara maksimal ditunggangi para agresor dan kolonial. Perkubuan antarkeluarga kerajaan menambah pelik situasi.

Sesudah serbuan Inggris dan naiknya Sultan HB III menjadi titik awal pergolakan nan panjang, sangat berdarah, menguras emosi dan segala sumber daya di pihak Jawa maupun Belanda nantinya. HB III adalah ayah kandung Pangeran Diponegoro.

Baca: Aksi Jarah Rayah Kraton Yogya Akhiri Penyerbuan Brutal Pasukan Inggris

Cover buku Penaklukan Pulau Jawa karya Mayor Mayor William Thorn
Cover buku Penaklukan Pulau Jawa karya Mayor Mayor William Thorn (IST)

Tiga belas tahun berikutnya, pangeran yang saleh dan sederhana ini akan memimpin Perang Jawa, pertempuran dahsyat nan panjang yang tercatat dalam sejarah pendudukan Belanda. Nasionalisme Jawa berusaha menghadapi kolonialisme yang sangat kejam.

Detik-detik Serbuan Inggris ke Kraton Yogyakarta

Dr Peter Carey, peneliti asal Skotlandia yang tekun, dan mencurahkan setengah perjalanan hidupnya untuk memeriksa secara teliti sejarah Diponegoro, menceritakan cukup detail bagaimana jalannya invasi Inggris ke Keraton Yogyakarta yang dimulai 18 Juni 1812.

Plengkung Wijilan, salah satu titik serbuan paling dahsyat saat pasukan Raffles menggempur Keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812. Di dekat lokasi ini dulunya terdapat gerbang Poncosuro, pintu menuju Kadipaten, kediaman Putra Mahkota dan Pangeran Ontowiryo (Diponegoro)
Plengkung Wijilan, salah satu titik serbuan paling dahsyat saat pasukan Raffles menggempur Keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812. Di dekat lokasi ini dulunya terdapat gerbang Poncosuro, pintu menuju Kadipaten, kediaman Putra Mahkota dan Pangeran Ontowiryo (Diponegoro) (TRIBUNJOGJA.com | SETYA KRISNA SUMARGO)
Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved