Kisah Penyerbuan Brutal Pasukan Inggris dan Aksi Jarah Kraton Yogya

Peter Carey melukiskan detik-detik penyerahan diri Sultan HB II dan keluarganya di pendopo Srimanganti

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
IST
Cover buku Penaklukan Pulau Jawa karya Mayor Mayor William Thorn 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mayor William Thorn, pelaku sejarah serbuan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812 menulis, penaklukan raja Jawa, Sultan HB II, dilakukan dengan cara-cara terhormat penuh kedisiplinan.

Dalam buku memoar yang ditulisnya, Penaklukan Pulau Jawa, terbit pertama tahun 1815, Thorn yang ikut bertempur di Jakarta, melukiskan penyerahan diri Sultan HB II terjadi setelah tiga jam penyerbuan yang sangat sengit dan brutal.

Sekitar 1.000 prajurit Inggris melawan tak kurang 17 ribu prajurit Sultan dan pengikutnya di dalam maupun luar benteng.

"Semangat heroik dan budi luhur menjadi karakteristik khas tentara Inggris," puji Thorn dalam bukunya.

Baca: Mencekam ! Tiga Jam Penuh Darah Saat Takluknya Kraton Yogya di Tangan Inggris

GEGER SPEHI - Adegan wayang kulit memperlihatkan peristiwa saat Gubernur Jenderal Stamford Raffles menobatkan RM Surojo sebagai Sultan HB III, menggantikan HB II yang dicopot setelah keraton diserbu. Pertunjukan digelar di Ndalem Yudonegaran, Selasa (29/8/2017) malam.
GEGER SPEHI - Adegan wayang kulit memperlihatkan peristiwa saat Gubernur Jenderal Stamford Raffles menobatkan RM Surojo sebagai Sultan HB III, menggantikan HB II yang dicopot setelah keraton diserbu. Pertunjukan digelar di Ndalem Yudonegaran, Selasa (29/8/2017) malam. (TRIBUNJOGJA.com | SETYA KRISNA SUMARGO)

"Kaum perempuan di bagian dalam istana diperlakukan sangat hormat, dan harta kekayaan di sana juga dilindungi," lanjutnya. "Tak ada satupun orang dilecehkan, dan tak ada perkosaan terjadi," tulis Thorn lagi.

Betulkah demikian?

Dr Peter Carey, spesialis peneliti Diponegoro dan masa-masa sekitarnya menceritakan berbeda.

Di buku jilid 1 Kuasa Ramalan, Peter Carey melukiskan detik-detik penyerahan diri Sultan HB II dan keluarganya di pendopo Srimanganti.

Ketika garda terdepan pasukan Inggris mencapai Srimanganti, Sultan dan orang-orang terdekatnya terlihat mengenakan pakaian serba putih.

Mereka membiarkan ketika senjata-senjata pusakanya dilucuti secara kasar oleh para prajurit Inggris dan Sepoy.

Sultan diamankan perwira Letnan Henry N Douglas dari Resimen Infantri Highland ke-78. Permintaannya membawa pusaka keraton ditolak Gillespie, yang kemudian menyitanya.

Pusaka yang disita terdiri keris Kiai Paningset, Kiai Sengkelat, Kiai Urub, dan Kiai Jinggo.

Tiga keris pusaka utama, yaitu Kiai Gupito, Kiai Joko Piturun, Kiai Mesem, yang semula disita Gillespie, dikembalikan ketika penobatan Putra Mahkota sebagai Sultan HB III.

Sesudah itu Sultan dan keluarganya digiring dari keraton ke Wisma Residen.

Mereka digiring dan diapit barisan serdadu Inggis dan Sepoy dengan pedang terhunus dan sangkkut terpasang di senapannya.

Tatkala rombongan masuk Wisma Residen, Raffles menyambutnya dengan rasa puas.

Para pangeran yang membelot melihat kehadiran Sultan dengan dingin.

Sultan kemudian dipaksa menyerahkan keris dan perhiasan milik mereka.

Air mata Sultan menetes di hadapan banyak orang, termasuk sang Putra Mahkota yang telah tertawan. Saat itu pukul 8 pagi, 20 Juni 1812.

Pedang dan belati Sultan diambil Raffles dan dikirim sebagai tanda mata ke Lord Minto di Kalkuta, India.

Pengiriman pedang dan belati itu sekaligus simbol penyerahan total kasultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan Inggris.

Ketika Sultan sudah dimasukkan tahanan bersama putra kesayangannya, Pangeran Mangkudiningrat, mengutip tulisan Nahuys van Burgst (1835), Peter Carey menulis, para prajurit penjaga mencopoti kancing-kancing berlian di pakaian Sultan yang ditanggalkan.

Bagaimana dengan aksi jarah rayah harta keraton?

Peter Carey menuliskannya di jilid III bagian awal buku Kuasa Ramalan.

Raffles sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Jawa melaporkan hal ihwal penguasaan harta-harta kerajaan itu ke Lord Minto.

Sesudah keraton dikuasai, semua penghuni pentingnya ditawan, Gillespie membagi-bagi harta rayahan. Ia mendapatkan bagian terbesar uang sebanyak 15.000 pound (1,5 juta poundsterling di masa sekarang). Sisanya dibagi ke para perwira dan prajuritnya.

Pangeran Prangwedono yang memimpin Legiun Prangwedono (Mangkunegaran), menerima bagian 140 ribu poundsterling. Tak terhitung lagi harta karun naskah kuno, benda antik, emas, perak, intan berlian yang turut dirampas pasukan Raffles.

Masih menurut Carey, sejumlah insiden kekerasan di keputren terjadi saat penyerbuan. Raden Ayu Wandan, istri Putra Mahkota, diperlakukan kasar.

Semua perhiasan dan pakaian kebesarannya dilucuti, hingga ia tampak memelas di hadapan para prajurit.

Penggeledahan habis-habisan dilakukan di kediaman Ratu Kencono Wulan.

Perempuan itu diyakini menyimpan perhiasan dalam jumlah besar dan intan sebesar jempol kaki. Ratu membantah, dan hanya menyerahkan sekantung berlian.

Intimidasi kasar membuat sang Ratu bertekuk lutut dan menyerahkan cincin intan besar, yang disembunyikan di dasar sumur kediamannya.

Menurut Babad Jatuhnya Yogyakarta, penjarahan terus berlangsung hingga empat hari lamanya.

Barang-barang rampasan keraton diangkut menggunakan pedati dan kuli panggul.

Sejumlah bangsawan keraton dipaksa ikut jadi kuli panggul, menggotong kotak-kotak berisi barang pusaka ke Wisma Residen.

Paling banyak yang diangkut alat persenjataan, wayang, gamelan keraton, arsip dan naskah- naskah kuno berupa babad, surat daftar tanah dan lain sebagainya. Identifikasi barang-barang bernilai tinggi itu dibantu Pangeran Notokusumo yang kemudian jadi Paku Alam I.

Semua naskah kuno hasil rampokan dari keraton diangkut ke Inggris, kecuali satu babad berisi daftar raja-raja Jawa yang diserahkan Raffles ke Notokusumo.

Sebagian koleksi naskah Jawa dan nusantara itu kini disimpan di British Library dan Royal Asiatic Society.(xna)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved