Jeritan Hati Kakak Korban Bantul: Adik Saya Penurut, Mengapa Dianiaya Secara Keji?

Rofiq pun tak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan oleh para pelaku yang mengeroyok adiknya hingga meninggal dunia

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Tribun Jogja
Rofiq Nur Setyawan, kakak korban penganiayaan saat mengujungi makam adiknya 

Ringkasan Berita:
  • Pelajar IDS (16) di Bantul tewas setelah dianiaya secara brutal oleh belasan pelaku dengan pipa paralon, sundutan rokok, hingga dilindas motor berulang kali.
  • Polisi telah menangkap dua pelaku (BLP dan YP) dengan motif awal balas dendam; korban diinterogasi terkait keanggotaan geng sebelum dikeroyok.
  • JPW mendesak penerapan pasal pembunuhan berencana, sementara DPRD Bantul mendorong Perda Pendidikan Karakter guna memutus rantai kekerasan remaja.

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Tenda, kursi, serta lampu masih terpasang di rumah duka almarhum pelajar berinisial IDS (16) di Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul. 

Karangan bunga berisi ucapan bela sungkawa dari keluarga besar SMAN 1 Bambanglipuro juga masih terpajang.

Begitupun kembang di pusaran makam almarhum masih belum nampak layu.

Kakak korban, Rofiq Nur Setyawan selama ini mengenal adiknya sebagai pribadi penurut.

Jika disuruh pulang sama orang tuanya, maka almarhum langsung pulang ke rumah.

Keseharian almarhum membantu memberi makan ayam dan lele.

Selain itu almarhum juga melakukan aktivitas jual beli rokok elektrik bekas atau vapor secara COD (Cash On Delivery) .

Rofiq pun tak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan oleh para pelaku yang dengan keji, brutal, dan tak manusiawi mengeroyok adiknya hingga meninggal dunia dengan luka sekujur tubuh.

“Kalaupun adik saya punya salah, kesalahan seperti apa yang dilakukannya sehingga diperlakukan secara tidak manusiawi. Kami berharap para pelaku lainnya segera ditangkap dan dihukum setimpal,” kata Rofiq.

Direncanakan

Jogja Police Watch (JPW) berkomitmen mengawal kasus ini hingga di persidangan.

Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba melihat, perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku ini sudah direncanakan. 

Mulai dari menjemput korban dari rumah, kemudian dibawa belakang SMAN 1 Bambanglipuro, lalu dibawa lagi menuju Lapangan Gadung Mlaten, Pandak, Bantul.

Di lapangan tersebut, korban dikeroyok secara sadis, brutal, keji, tak manusiawi dan tanpa ampuh oleh para pelaku.

Korban dipukul menggunakan selang, paralon hingga korban disundut dengan rokok.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved