Sastra
CERPEN : Wanita dan Pria Tertidur
Batin yang entah seperti apa setelah malam ini. Kesakitan yang tak pernah ku rasakan pada waktu sebelumnya.
Penulis: abm | Editor: Muhammad Fatoni
Waktu berselang. Akhirnya cahaya pun datang. Seperti ketika di dalam mobil. Bermula dari cahaya kecil yang tak lama menjadi sebuah cahaya yang kian jelas. Sedikit remang, terhalang oleh kerumunan orang. Mereka terlihat bersedih melihatku terlentang. Harapku adalah bersamanya di sana. Aku tersenyum, akhirnya kini semakin dekat. Aku akan bertemu dengannya. “Apakah ini yang dirasakan oleh seseorang yang merasakan kematian?”, tanyaku dalam hati.
“Sadar nak, kau harus kuat!”, terdengar suara Ibu yang terduduk diantara kerumunan. Tangisnya mengalir begitu jelas. “Oh tidak, aku belum mati, aku belum bisa berjumpa dengannya”, keluhku dalam hati saat menyadari aku masih bernyawa. Lagi-lagi aku menangis, di dalam sebuah badai tangisan yang membuatku hampir tenggelam oleh gelombangnya.
Tangisan semakin tak terkendali. Sama seperti gelombang saat badai datang di tengah lautan. Aku terus menangis. Di siang dan malam yang tak pernah terasa. Kepalaku terbenam dalam sebuah lamunan dan tangisan yang kian mendalam di bawah bantal. Lembab mulai terasa dalam benaman bantal. Mataku kian lebam ditelan kesunyian dan kesedihan setelah ia pergi. Rasaku tak menentu. Ingin sekali aku pergi besamanya. Di sana!
Malam ternyata cepat terlewat. Rasanya baru begitu saja lamunan ini ku mulai. Ayam jago melolong. Bersama embun yang menggelayut di dedaunan. Diikuti oleh suara adzan beserta senyuman sang fajar yang mulai terbangun di langitku. “Ah, bisa saja kau tersenyum di dalam tangisku”, keluhku dalam hati. Aku terbangun dari tempatku. Bergegas ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah itu ku laksanakan sholat subuh dengan air mata yang tak hentinya mengalir dari mata ini.
Aku berdoa dalam simpuhku, “Tuhan, mengapa kau tak ajak aku juga bersamanya ke tempatmu”. Diikuti dengan air mata yang entah kapan berhenti mengalir. Aku sebenarnya lelah untuk terus menangis. Namun apa daya, mungkin air mata yang bersumber dari hati ini terlanjur subur, sehingga tak henti-hentinya mengalir. Ku lipat alas sujudku. Ku benamkan lagi kepala ini dalam bantal yang masih lembab oleh air mataku semalaman. Aku kembali dalam lamunan.
Tiba-tiba gunukan tanah itu terbanyang dalam lamunan. Terbayang lagi saat kau tertidur tenang dalam pusaran. Sedikit demi sedikit tanah itu meruang tubuhmu yang terbujur kaku. Kau masih terlihat tampan bagiku. Walau tubuh itu terbalut pakaian serba putih menuju tempatmu. Di tempat yang memang seharusnya kau berada. Aku bangkit dari tempatku, lalu berlari menuju tempat peristirahatan terakhirmu, Ke tempat kau tertidur tenang bersama gunukan tanah di hari kemarin.
Tak lama aku berlari. Aku sudah di tempatmu kini. Di tempat yang berbeda saat kau mengajak berkenalan di sebuah lapangan volley. Ketika kita mulai merajut rasa itu. Ku ingat senyum indahmu. Kini aku di depan pusaranmu. Sebuah gundukan tanah yang terlihat kaku, walau bunga itu bertabur indah di atasnya. Aku masih menangis. Badai itu terlalu menghujam hati ini. Sehingga entah bagaimana menghentikannya. Nisanmu ku pegang dan ku elus. Namamu terpahat indah di situ. Memang kau indah bukan saja dari namamu.
Angin bertiup. Sedikit kencang, sehingga beberapa daun jatuh dari ranting. Membuat suasana ini semakin sunyi dan sepi. Butuh beberapa detik angin itu pun membuat sebuah ranting jatuh tepat di atas kepalaku. Aku sedikit kesakitan dan tersadar dari lamunan. Sedikit sakit. Aku pun berpikir dan bertanya, “Aw, sakit sekali ranting ini mendarat di atas kepalaku, apa maksud kau terjatuh tepat di kepala ku?”.
Ada sebuah tangan membuatku terkejut. Aku berharap itu tanganmu yang mengajakku bersama ke tempatmu. Aku pun menoleh dan sedikit kecewa setelah tahu ternyata sosok itu bukanlah ia. Itu Ibu ku. Ia sudah lama melihatku dari kejauhan. Sedikit membiarkanku menangis dalam lamunan. Ia pun berkata, “Ayo nak kita pulang, anak perempuanmu merengek sejak tadi kau pergi”. Ibu pun memberi tangannya, lalu menuntunku untuk kembali pulang ke rumah. Tangisku masih saja tak berhenti.
------------------------------
Waktu terus berjalan. Jam dinding terus berdetak, memberi tahu bahwa detik, menit dan jam terus melaju menuju masa depan. Sudah lima hari kau tinggalkan aku. Aku masih saja membenamkan diri dalam lamunan. Bantal ini semakin tak menentu. Lembab karena tangisan yang tak terhentikan. Tiba-tiba ada sebuah sentuhan dari tangan kecil. Ya, anak lelakiku membuatku tersadar dari lamunan. Ia menarik bantal yang sejak lima hari ini membenamkan kepalaku. Ia tidak menangis walaupun ia baru saja terbangun. Ia sedikit memaksa menarik bantal lembabku. Aku pun melihatnya. Ia pun melihatku. Entah mengapa ia terlihat berbeda. Indah ketika melihatnya.
Kami saling memandang. Pandangan antara Ibu dan anak yang saling merindu. Anakku belum bisa berbicara. Ya, usianya masih 2,5 tahun. Namun aku sedikit bisa mendengarnya mencoba berkata. Aku terus berusaha membuat semuanya begitu jelas. Aku mendekat. Lalu ia berkat, “Mah cucu. Mah cucu. Mah cucu”. Aku terkaget. Itu kalimat pertama yang ia ucapkan. Tiga kalimat yang sama. Tiga kalimat yang membuatku sadar, bahwa aku telah meninggalkan malaikatku untuk lamunan.
“Mah cucu. Mah cucu. Mah cucu”. Mungkin adalah kalimat biasa yang tak mempunyai arti yang berharga. Kalimat keluh seorang balita yang kehausan ingin meminum susu. Namun tahukah kau, itu artinya ia masih hidup. Ia masih menyadari terhadap hasrat dalam dirinya untuk melanjutkan hidup. Anak sekecil itu dengan kalimatnya yang terbata. Membuatku harus bangkit dalam lamunan itu. Membuatku terperanjat dan mulai berpikir, “Bagaimana ia harus meminum susu, jika aku terus terbenam dalam kesedihan”.
Kesedihan adalah sebuah giliran yang akan didapat oleh setiap orang. Merasa sedih memperlihatkan bahwa manusia masih memiliki nyawa. Namun bukan berarti kita harus terlarut dan terus terbenam. Karena detik, menit dan jam masih melaju menuju masa depan. Anakku masih ingin meminum susu. Haruskah terus benamkan diri di dalam lamunan kesedihan?
(Andry Bem Mandariana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-cerpen_20161208_125735.jpg)