Sastra
CERPEN : Wanita dan Pria Tertidur
Batin yang entah seperti apa setelah malam ini. Kesakitan yang tak pernah ku rasakan pada waktu sebelumnya.
Penulis: abm | Editor: Muhammad Fatoni
------------------------------ ---------
Suara sirine ambulance terdengar dari kejauhan. Lalu semakin jelas, begtu jelas terdengar pada setiap telinga yang sejak tadi menjadi kerumuran. Begitupun pada telingaku, suara itu begitu membuatku terganggu. Disaat hati ini terasa semu ketika ditinggal rindu. Aku masih terduduk lemah di sampingnya. Bersama mereka. Ya, bersama mereka yang masih menjadi sebuah kerumunan.
Beberapa orang berpakaian putih bersih turun dari dalam mobil ambulance. Mereka berjumlah tiga orang. Seorang menunggu di mobil. Ia bertugas sebagai supir ambulance. Sementara dua orang yang lainnya membawa sebuah keranda mayat. Mereka terlihat begitu menyeramkan, walau pakaian yang mereka kenakan tak menggambarkan kesan menyeramkan. Tak lama semua begitu hitam. Tak sedikitpun cahaya bisa ku lihat. Tak ada lagi kerumunan itu dalam penglihatanku. Semua terlihat hitam, legam dan mencekam. Aku tak sadarkan diri.
Sebuah cahaya tiba-tiba masuk. Cahaya kecil yang kini kian membesar, lalu membuatku bisa melihat pohon-pohon rindang di pinggir jalan. Begitu indah dibalut dengan angin sepoy disebuah pagi menuju siang. Tak lama aku tersadar. Aku sedang berada di dalam sebuah mobil. Di sampingku ada Ibu yang sedang mengelus kepalaku. Matanya lebam, mungkin air mata itu mengalir begitu deras dari matanya. Aku menoleh ke arah belakang. Di sana ada kedua anakku yang tertidur pulas dipangkuan Kakak perempuanku. Tiba-tiba hati bertanya, “Kemana ia? Kemana ia yang tertidur begitu cepat tadi malam?”. Tak lama Ibu menyadari apa yang kupertanyakan dalam hati, seraya menjawab, “Ia ada di dalam ambulance, ditemani oleh Bapakmu di sana”.
Kami menuju kampung halamanku. Di sebuah tempat yang sejuk dan asri. Burung-burung bernyanyi pada ranting di setiap pagi. Air mengalir begitu jernih, sehingga mencerminkan kesejukan dihati setiap manusia yang melihatnya. Tempat ini, adalah tempat yang membuatku rindu akan masa lalu. Masa di mana aku memulai hidup dan tumbuh menjadi seorang wanita sebelum bersamanya. Kini aku kembali. Bukan bersama keceriaan seperti ketika saat aku kembali pulang.
Matahari tepat di atas kepala. Kini aku sudah sampai di kampung halaman. Bersama sebagian dari mereka yang tadi menjadi kerumunan. Udara di sini tak begitu panas. Walau matahari sudah menunjukan kegarangannya. Mungkin karena kondisi alam yang masih terjaga, sehingga tak terasa walau matahari sudah mulai marah.
Aku kembali terduduk. Terduduk lemah melihatnya dalam keranda. Ia masih terlihat tampan untukku. Namun apa daya, mungkin sudah tak ada hasrat darinya untukku. Kini ia kaku dan tak akan menyentuhku. Tangannya terikat. Pakaiannya serba putih. Pakaian menuju tempat yang pantas untuknya nanti. Aku tak bisa menyadari terhadap apa yang sedang terjadi.
Manusia semakin banyak berdatangan. Di rumah lama bersama keluargaku. Menjadi sebuah kerumunan yang lebih besar ketimbang di rumahku bersamanya. Suasana begitu sesak dan membuatku tak nyaman. Suara tangisan terdengar bergantian. Dari setiap manusia yang memiliki kenangan bersamanya. Begitupun denganku yang masih menangis karena belum bisa menyadari kenyataan yang terjadi.
-------------
Bunga betaburan. Berwarna-warni dan beraroma duka. Di pagi yang masih tersenyum bersama udara yang cukup menusuk belulang. Mereka masih menjadi kerumunan, mengelilingi sebuah pusaran tanah yang kini telah teruang. Sebuah gunukan yang terdapat seseorang di bawah sana. Ya, kau kini telah tertidur di bawah sana, di tempat yang akan menjadikan mu abadi dan hidup di alam lain. “Sayang, semoga kau tak merasa sepi di tempat yang seharusnya kau berada”, kata ku dalam hati diiringi sebuah tangisan kesedihan. Proses pemakaman suamiku telah usai. Beberama dari kerumunan itu telah melangkahkan kaki menjauh dari pusaran. Aku pun dituntun oleh Ibu berjalan menjauh dari pusaran, untuk kembali ke rumah.
“Sudah, kau tak usah terlalu terlarut dalm kesedihan, ada hari esok yang menunggumu untuk cepat berlari”, kata seseorang disampingku, ialah Ibuku. Hatiku menolak. Semudah itukah menghapus rasa sedih? Semudah itukah bangkit di saat terjatuh dan terkilir? Semudah itukah aku harus berlari kembali? Mungkin orang-orang tak pernah mengerti apa yang aku rasakan.
“Aku muak, aku ingin bersamanya, hanya berdua. Aku tak sanggup jika harus tak bersamanya”, keluhku dalam hati. Sejak kejadian malam itu tiba-tiba mulutku seakan membisu. Lupa bagaimana mengatakan sebuah kata. Lupa bagaimana meluapkan kesedihan dan kemarahan lewat kata yang terucap. Keluh, rasah, marah, sedih dan semuanya hanya bisa ku katakan lewat hati.
Air mata ini semakin membanjiri rasa di dalam hati. Bagai badai di samudera lepas, resah, marah, rindu bercampur menjadi satu. Air tumpah bersama gelombang yang tak tentu arah. Tak jelas rasanya. Ingin marah, meradang, namun entah diri ini tak kuasa.
Kini aku telah di dalam rumah. Aku berlari kecil menuju kamar, lalu menjatuhkan diri pada kasur yang sejak tadi terdiam. Ku benamkan kepala ini di bawah bantal, bersama lamunan dan tangisan yang kian menjadi.
Ibu sejak tadi memperhatikanku dari kejauhan, lalu mendekat seraya berkata, “Sudahlah, usap air matamu. Tak ada gunanya jika kau terus seperti itu. Ia telah tenang bersamanya, di tempat yang kini lebih baik untuknya”, Aku sakit mendengar kata-kata itu. Aku bangkit dari lamunan, lalu berlari secepat yang ku bisa. Namun baru beberapa langkah, aku pun terjatuh pada sebuah ruang yang begitu gelap. Entah di mana. Aku tak sadarkan diri lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-cerpen_20161208_125735.jpg)