Sastra

CERPEN : Wanita dan Pria Tertidur

Batin yang entah seperti apa setelah malam ini. Kesakitan yang tak pernah ku rasakan pada waktu sebelumnya.

Penulis: abm | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Septiandri Mandariana
ilustrasi 

ANGIN malam tiba-tiba terasa begitu menusuk. Bahkan membuatku sakit. Bukan tubuh ini, namun batin yang entah seperti apa setelah malam ini. Kesakitan yang tak pernah ku rasakan pada waktu sebelumnya.

Sebelumnya, aku selalu suka ketika malam datang. Entah mengapa, malam adalah ketika aku merasa lengkap bersama orang tercinta. Malam selalu membawa cinta yang entah dari mana berasal. Mungkin itulah yang dinamakan angin surga.

Namaku Dinda, usiaku 23 tahun di bulan Oktober tahun lalu. Semuda ini aku memiliki suami tampan, baik dan sempurna di mataku. Aku selalu suka ketika ia tersenyum. Giginya putih, terawat dan itu indah sekali. Belum lagi memiliki dua orang anak, menjadi keindahan lainnya yang dikirim tuhan dari surganya. 

Anak pertamaku laki-laki, dan ia masih berumur 2,5 tahun. Ia rajin sekali membuatku lelah berlari, sebab ialah anak yang sangat lincah. Sementara anak keduaku, satu bulan sudah usianya malam ini. Ia memiliki mata yang indah, memancarkan keindahan surga terpancar pada mata seorang wanita.  

Malam ini aku berdua bersamanya. Bersama pria yang menjadi pelabuhan terakhirku. Di atas tumpukan kapuk yang disulap menjadi kapuk, tempat dimana kami rasakan cinta yang sesungguhnya. Ia kini tertidur dipangkuanku. Di tengah malam yang terasa dingin untuknya. Untukku juga. Namun kita merasa dengan rasa yang berbeda. Mungkin tak bisa diungkapkan bagaimana rasanya ia harus merasa. Sebagai manusia yang tak seutuhnya manusia.

“Pah bangun pah”, lirihku ketika itu. Ia tak menjawab. Hening. Ia tak sedikitpun menunjukan gerakan yang membuatku merasa tenang. Ia hanya berkata, “Tolong besarkan anak-anak kita dengan baik dan berikan pendidikan yang layak untuk mereka berdua”. Setelah itu ia tertidur dan tak bergerak.

Aku lemah, namun raga ini berusaha tegap. Aku ingin berteriak, namun mulut ini tergagap. Aku hanya bisa memandangnya dengan mataku yang berkaca dan pecah oleh air mata. Tubuhnya kini dingin. Sedingin hari ku nanti bersama masa depan.

Waktu melaju tak terasa. Seperti ketika ia tertidur begitu saja. Tanpa pamit dan tanpa memberi aba-aba. Fajar pun mulai terbangun di langitku, bersama lolongan ayam jantan dan sahutan suara adzan.

Beberapa wajah sudah mulai berdatangan, dengan raut wajah tak menyenangkan. Beberapa wajah dari mereka sangat ku kenal, ada yang kenal saja, dan ada pula yang tak ku kenal sama sekali. Mungkin mereka keluarga ku. Mungkin mereka kenalan ku terdahulu. Mungkin mereka adalah kawan dari suamiku. Aku tak tahu, bahkan sulit untuk membedakan wajah manusia satu persatu.  

“Tuhan, mengapa ia tertidur begitu cepat tadi malam? Aku belum siap”, ujar ku sambil terisak. Kesedihan yang dibalut dengan kebingungan mengahadapi waktu bersama masa depan. Seperti pesakitan yang kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Tak lengkap, namun harus tetap melangkah bahkan berlari mengalahkan pelari maraton sekalipun.

Aku terduduk lemah. Ini mungkin hari terburukku. Walau hari buruk yang lain pun telah ku lahap bersama waktu. Ini hanyalah soal tidur terlalu cepat. Tanpa pamit dan aba-aba. Seorang lelaki tampan dalam pangkuanku. Ya, ialah lelaki yang membuatku menangis sejak malam tadi. Ia bukan tertidur cepat. Namun tertidur untuk berpindah ke alam yang lain. Ditinggal.

Ditinggalkan mungkin adalah sesuatu yang sangat menyakitkan bagi setiap orang. Siapa menyangka, kesendirian begitu cepat datang dalam kehidupanku. Setiap orang pasti pernah dan akan merasakan hal seperti ini. Hidup adalah mengenai sebuah giliran dalam merasakan. Merasakan hal yang sangat berlawanan, antara suka dan duka. Dan inilah hariku. Hari di mana giliran itu jatuh dipangkuanku. Duka. Semenjak tengah malam tadi, rasanya aku tak ingin berhenti menangis.

Lihatlah, Ia sangatlah tampan. Kini ia terlentang. Matanya tertutup dan entah kapan terbuka kembali. Seperti ketika ia membuka matanya setiap fajar datang, lalu tersenyum sambil mengucapkan, “Selamat pagi sayang”, sambil mengecup keningku yang tak beraturan. Mungkin dihari selanjutnya, itulah kata-kata pertama yang akan ku rindukan.“Tega sekali kau pagi ini sayang”, keluhku dalam tangis.

Tak satu pun dari mereka menampakan raut wajah yang ceria. Ya, mereka yang kini menjadi kerumunan, yang ada di sekitarku. Untuk apa kalian menangis sepertiku? Ini adalah kesedihanku sendiri. Hanya aku yang akan setia merindukannya pergi. Rindu pada pagi bersamanya. Kalian tak pernah merasakan hal sepertiku. Tak usah kalian merasa pilu karena akan adanya rindu.

Lagi-lagi aku terpikir dan bertanya, “bagaimana diriku setelah ini?”. Aku tak terbiasa sendiri. Aku terbiasa dengan sebuah kehangatan, kebersamaan dan kelengkapan. Tentu bersamamu. Bersama kita. Bersama kedua malaikat kecil kita.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved