Horizzon
Ikut Mengawal Lahirnya Reformasi Jilid 2
Embrio lahirnya jilid 2 yang mulai tumbuh ini harus dirawat dan dipastikan tumbuh.
Penulis: ufi | Editor: Ikrob Didik Irawan
MEREKA yang ada di kekuasaan saat ini terdiri dari tiga golongan.
Pertama adalah bagian dari orde baru yang kembali bangkit, kedua adalah aktivis yang idiologinya tergadaikan dan ketiga adalah penjegal konstitusi yang stupid.
Namun sebagai bagian dari kayu bakar reformasi, saya tidak pernah merasa kecewa melihat sejumlah orang yang dulu ada di barisan yang sama, kini berada di posisi yang dulu sama-sama kita lengserkan.
Berkoalisinya orde baru, kawan-kawan di barisan reformasi 98 dan bocah-bocah penjegal konstitusi adalah pelajaran sejarah yang harus diterima. Itung-itung, kenyataan itu adalah bagian dari sentilan semesta agar pemilik akal waras tak lagi abai dalam mengawal kewarasan itu sendiri.
Klaim untuk tidak kecewa dengan kenyataan sejarah tersebut haruslah dikuatkan. Saya tak ingin gelombang dan riak yang sketsanya mulai tampak tak kemudian kabur begitu saja.
Embrio lahirnya jilid 2 yang mulai tumbuh ini harus dirawat dan dipastikan tumbuh. Apalagi, embrio yang menjadi cikal bakal perubahan ini hidup di alam keputusasaan yang akut.
Semua tahu, embrio ini bakal tumbuh semakin cepat ketika alam keputusasaan yang sudah berlangsung sekian lama, pelan dan pasti bakal bergeser ke alam perlawanan.
Boleh jadi, embrio jilid 2 ini masih perlu diuji ketahanannya. Namun bukankah hal yang sama juga dialami di era 97-98 yang juga butuh proses panjang untuk menjadikan embrio tersebut menjadi gelombang reformasi yang menumbangkan rezim?
Ingat! Reformasi 97-98 tidak ujug-ujug lahir sebagai gerakan massa yang mampu menembus barikade kekuasaan. Kekuatan besar itu lahir dari gerakan-gerakan kecil yang awalnya dicibir.
Reformasi 97-98 lahir dari kerasahan yang muncul dari kampus-kampus yang kala itu juga terbelenggu kemapanan.
Gerakan ini muncul dari segelintir kawan yang rela menenteng megaphone keliling dari kelas-kelas untuk mengais akal waras yang tersisa.
Jangan salah. Segelintir mahasiswa yang rela bolos kuliah demi menenteng megaphone ini juga tak sering dianggap gila dan antikemapanan. Apalagi sebelum gerakan ini mulai membesar, tak pernah ada yang berani memelihara pikiran bahwa orde baru bisa dilawan.
Beruntung, pelan namun pasti perlawanan terhadap orde baru ini mulai mengkristal dan menemukan isu tunggal yang bermuara pada lengsernya Soeharto, presiden yang kala itu sudah berkuasa selama 32 tahun.
Hampir sama dengan situasi saat ini, memanasnya situasi politik berdampak pada ambruknya sektor ekonomi. Kurs rupiah yang sebelumnya stabil di kisaran Rp2.300 – Rp 2.300 per USD merosot hingga ke angka Rp16.000 sampai Rp17.000 per USD.
Jika boleh digambarkan, di awal tahun 90an, harga nasi bungkus di pinggiran kampus berkisar di harga 200 hingga 250 perak. Menjelang pecahnya reformasi, ekomoni yang morat-marit mendongkrak harga nasi bungkus di pinggiran kampus di kisaran Rp700 hingga Rp800.
Satu lagi yang boleh digambarkan kala itu adalah, sempat terjai rush money, dimana public tak percaya lagi kepada perbankkan yang membuat mereka ramai-ramai menarik simpanan hingga menambah kepanikan psikologis dari kacamata ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20261204-Ibnu-Taufik-Juwariyanto-Pemimpin-Redaksi-Tribun-Jogja.jpg)