Filsafat untuk Indonesia

Berpikir merupakan salah satu ciri bahwasanya manusia itu hidup, manusia berpikir karena ingin mendapatkan suatu jawaban dari sebuah pertanyaan

Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Dr.Junaidi,S.Ag.,M.Hum.,M.Kom, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom 

Pola pikir merupakan bentuk atau model yang memiliki keberaturan baik dalam desain ataupun abstrak. Pikiran adalah perkataan dan perkataan adalah pikiran.

Pikiran merupakan angan-angan, khayalan, sesuatu yang berkecamuk dalam dada dan kepala kita tidak lain adalah bisikan kata yang amat lembut.

Kata-kata yang mewakili pikiran ini, bukanlah sekedar coretan pena yang dituliskan atau suara gaduh yang diucapkan, akan tetapi merupakan susunan kata yang mewakili maksud tertentu secara lengkap dan susunan kata yang memuat pemikiran yang disebut dengan proposisi.

Urgensi filsafat penting dengan adanya repair kembali hal-hal yang dapat membuat kesalahpahaman dalam mengungkapkan hasil dari pada pola pikir.

Dalam konteks ini, pentingnya mempelajari teori-teori ilmu filsafat agar mampu merubah pola pikir manusia menjadi logis dan rasional, serta menguasai unsur-unsur kefilsafatan sehingga mampu menganalisis semua argumen atau pernyataan dengan baik dan benar baik sanis dan teknologi.

Yang disebut manusia sejatinya selalu berfikir, hal ini merupakan kehebatan manusia, kemampuan berfikir manusia inilah yang mendorong kemajuan peradaban umat manusia untuk mencapai sesuatu yang logis.

Berfikir yang radikal, logis, universal, konseptual koheren, konsisten, sistematik, komperehensif, kritis, bebas, bertanggung jawab dan bijaksana adalah berfilsafat.

Filsafat pada dasarnya merupakan tulisan. Filsafat berurusan langsung dengan teks, dan teks itu merupakan tulisan.

Narasi muncul dari teks, dan teks berurusan secara langsung dengan bahasa.

Pola pikir manusia merupakan suatu bentuk atau model bagaimana manusia itu berpikir dan bernalar untuk menemukan jawaban, keyakinan, kebenaran dan kepastian dari suatu pertanyaan, keraguan, kesalahan serta kecurigaan.

 Setiap hari manusia akan berpikir, mulai dari memikirkan sesuatu yang ringan hingga sesuatu yang berat sehingga membutuhkam pola berfikir keras dan berkonsentrasi.

Artinya, terbentuknya nalar terbentuk pula budaya suatu masyarakat tertentu. Bahasa menjadi dasar pembentuk pola pikir seseorang yang disebut filsafat komunikasi. Semoga!. (*)

 

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved