Jejak Inklusivitas di Cupable Coffee Sleman

Cara ini tidak hanya memberdayakan difabel untuk mandiri, namun memberi ruang kesadaran inklusi bagi pengunjung yang datang dan pergi.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
(MG | Axel Sabina Rachel Rambing)
Irvantoro (27), Barista Difabel di Cupable Coffee, Jalan Kaliurang, Km.13,5, Ngaglik, Sleman 

Menggaet Anak Muda Lewat Tren Kopi

Ibarat sekali dayung, dua pulau terlampaui, perpaduan tren kopi dengan isu difabel secara tidak langsung memperkenalkan pengunjung dengan inklusivitas. 

Cara ini tidak hanya memberdayakan difabel untuk mandiri, namun memberi ruang kesadaran inklusi bagi pengunjung yang datang dan pergi.

Feni bercerita bahwa PRYAKKUM termasuk Cupable dengan tangan terbuka menerima mahasiswa-mahasiswi maupun akademisi yang ingin belajar tentang inklusivitas. 

Misalnya Adrian (22), di tahun 2024 pernah mengadakan sebuah proyek kampanye bertajuk ‘CUPABLE IS CAPABLE’ bersama empat kawannya. 

Adrian beserta tim mengidentifikasi kurangnya kesadaran inklusivitas di masyarakat sehingga memulai kampanye ini melalui Cupable. 

Ia juga menyebutkan secara spesifik bahwa target dari kampanye mereka adalah anak muda dan pekerja Work From Cafe (WFC). 

“Tempatnya (Cupable Coffee) sangat cocok buat sekadar nongkrong atau WFC,” sebut pria yang kini bergelar S1 Ilmu Komunikasi tersebut (18/09/2025).

Melalui kampanye tersebut Adrian beserta tim mampu menggaet lebih banyak anak muda untuk datang dan merasakan langsung jejak inklusivitas di Cupable Coffee.

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa tren kopi bisa menjadi medium efektif untuk mengenalkan nilai inklusivitas, terutama di kalangan anak muda yang akrab dengan budaya nongkrong dan WFC.

Baca juga: Keterbatasan Diri Tak Surutkan Mimpi Eko Sugeng Jadi Barista Meski Tanpa Lengan

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved