Persahabatan dan Perjuangan Melawan Kanker, Kisah Haru di Balik Buku 'The Quiet Miracle'

Buku ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa proses penyembuhan tidak selalu tentang melawan, tetapi juga tentang berdamai dengan keadaan

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
INSPIRATIF - drg. Sulistyaningsih dan Rini Hastuti menunjukkan buku "The Quiet Miracle" yang mengisahkan perjalanan panjang melawan kanker, di sela peluncuran di Yogyakarta, Sabtu (2/5/2026) malam. 

Ringkasan Berita:
  • Buku bertajuk 'The Quiet Miracle' bukan sekadar catatan medis, melainkan kisah persahabatan seorang penyintas kanker payudara dengan kawan setia yang mendampinginya. 
  • Sang penulis mengaku menulis buku ini hanya dalam waktu 10 hari, karena dipicu kabar mengejutkan tentang adanya lesi di organ hepar atau hati sahabatnya pada 2025.
  • Kanker bukan lagi sebuah aib atau hukuman, melainkan sebuah anugerah yang membentuknya menjadi pribadi atau manusia baru yang lebih baik. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di balik sampul buku berwarna gelap dengan siluet kepala tanpa rambut bertajuk "The Quiet Miracle", tersimpan sebuah perlombaan melawan waktu yang dipacu rasa cinta dan ketakutan akan kehilangan.

​Buku ini bukan sekadar catatan medis, melainkan sari pati dari percakapan mendalam antara dua sahabat, drg. Sulistyaningsih, seorang penyintas kanker payudara, dan Rini Hastuti, kawan setia yang mendampinginya.

​Lahir dari rahim kegelisahan, Rini mengaku menulis buku ini hanya dalam waktu 10 hari, karena dipicu kabar mengejutkan tentang adanya lesi di organ hepar atau hati Sulis pada tahun 2025. 

Bagi seorang pasien kanker, kabar tersebut merupakan lonceng peringatan akan kemungkinan metastase atau penyebaran sel kanker yang cenderung fatal.

​"Saya sudah kehilangan dua sahabat baik di tahun 2025. Saat Sulis bilang ada lesi, saya panik. Pikiran-pikirannya yang luar biasa selama kami mengobrol harus segera diabadikan. Saya takut waktunya tidak panjang lagi," kenangnya, di sela peluncuran buku, di Yogyakarta, Sabtu (2/5/2026) malam.

​Rini sontak memacu jemarinya di atas papan ketik, merangkum obrolan-obrolan mereka di TikTok dan podcast pribadi menjadi sebuah narasi yang jujur dan menyentuh.

Perjalanan Panjang

​Sulis pun menimpali, perjalanan panjangnya dalam melawan serangan kanker payudara yang didiagnosis sejak 2024 silam, memang bisa dibilang tidak biasa. 

Di tengah hantaman kemoterapi dan radioterapi yang melelahkan, ia justru menemukan titik balik yang mempercepat proses kesembuhannya, yakni sebuah pergeseran mindset.

​Sempat terjebak dalam pertanyaan "Mengapa aku, Tuhan?", perempuan berlatarbelakang dokter ini akhirnya menemukan kedamaian melalui konsep yang ia sebut sebagai "letting in."

​"Kalau letting go itu melepaskan, tapi saya memilih letting in. Saya menerima semuanya. Ketika kita menerima, kita tidak akan lagi merasa menderita. Tidak ada lagi yang terasa menyesak di dada, semuanya mengalir," tuturnya.

Baca juga: Viral Warga Kepung Dua Pemuda Diduga Pelaku Klitih di Wukirsari Bantul, Polisi Ungkap Faktanya

​Baginya, kanker bukan lagi sebuah aib atau hukuman, melainkan sebuah anugerah yang membentuknya menjadi pribadi atau manusia baru yang lebih baik. 

Karena keyakinan sel kanker sangat menyukai ketakutan, ia pun memilih untuk tidak memberi ruang bagi rasa takut akan masa lalu maupun kecemasan terhadap masa depan.

​"Jalani hari demi hari. Present time. Di sini, saat ini, sekarang. Jangan isi hidup dengan ketakutan, karena itu hanya akan menambah sel kanker," pesannya bagi para pejuang kanker lainnya.

Makna Mendalam

​Rini kembali memaparkan, pemilihan judul “The Quiet Miracle” memiliki makna mendalam bagi keduanya, di mana keajaiban tidak selamanya harus bersifat heroik atau gegap gempita.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved