Jejak Inklusivitas di Cupable Coffee Sleman
Cara ini tidak hanya memberdayakan difabel untuk mandiri, namun memberi ruang kesadaran inklusi bagi pengunjung yang datang dan pergi.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM – Ngopi kini jadi ciri khas anak muda. Tapi apa jadinya jika tren kopi bertemu dengan misi sosial inklusivitas?
Di Jalan Kaliurang, Km.13.5, Ngaglik, Sleman, Anda akan menemukan Cupable Coffee, sebuah kafe inklusi yang mempekerjakan difabel
Pendirian kafe ini dijembatani oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM, sebuah lembaga sosial yang diamanatkan untuk memberdayakan para difabel.
PRYAKKUM memiliki keresahan tersendiri, melihat bagaimana teman-teman difabel kurang memiliki ruang dalam dunia profesional.
Feni (32) dari pihak PRYAKKUM menyatakan bahwa sedari dulu, lembaga ini telah mengadakan pelatihan yang sifatnya konvensional.
Adapun pelatihan yang dimaksud berupa membatik, menjahit, elektro, dan lain sebagainya.
Alih-alih terkungkung pada model pelatihan yang konvensional, lembaga ini berusaha mencari cara yang lebih relevan dan kontekstual.
Feni menambahkan bahwa perlu terbuka melihat perkembangan zaman dan peluang industri yang sekiranya bisa dikembangkan.
Dari sudut pandang lembaga ini, kopi dan kafe adalah medium yang pas untuk memberdayakan difabel.
Sebab seringkali para difabel yang mengikuti pelatihan berkeinginan untuk memulai usahanya sendiri.
“Melihat coffee shop menjamur dan lapangan pekerjaan yang terkadang sulit menerima teman difabel, itu jadi alasan (Cupable didirikan),” ujar Feni kepada TribunJogja (18/09/2025).
Mengikis Stigma, Meracik Percaya Diri
Eko Sugeng (39) salah satu barista mengakui bahwa saat pertama kali ditawari bergabung, ada keraguan besar yang sempat menghantui langkahnya.
Bukan hanya perkara teknis, tetapi juga soal stigma. Ia khawatir pelanggan enggan membeli kopi setelah melihat kondisi fisiknya.
“Gimana kalau orang takut melihat saya, dan tidak jadi pesan?” begitu Ia sempat berpikir (18/09/2025).
Di sisi lain, secara teknis Ia juga merasa ragu. Bagaimana caranya melayani pelanggan jika peralatan di meja barista sulit Ia genggam?
Pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya, sebelum akhirnya ia menemukan jawabannya lewat dukungan dan inovasi yang disiapkan pengelola kafe.
Pelatihan menjadi kunci penting sebelum para difabel benar-benar terjun ke balik meja bar. Melalui yayasan pengelola, setiap pekerja difabel ini dipersiapkan secara matang.
Mereka tidak hanya belajar meracik kopi, tetapi juga diajari menyiapkan makanan hingga melayani pelanggan.
Irvantoro (27), salah satu barista yang menggunakan kursi roda, mengingat betul bagaimana pelatihan itu dijalankan.
Selama hampir dua bulan, Ia bersama rekan-rekannya mendapatkan pembekalan yang sangat detail.
Mulai dari pengenalan jenis-jenis kopi, praktik teknis menggunakan peralatan, hingga pelayanan pelanggan.
Bahkan, mereka juga dibekali pemahaman soal manajemen bisnis sederhana, sebuah bekal penting bila suatu hari ingin membuka usaha sendiri.
Pelatihan ini memberi dampak baik sebab mampu menambah bekal percaya diri para barista difabel tersebut.
Berbagai penyesuaian pun dilakukan agar para barista difabel bisa bekerja dengan nyaman.
Mulai dari peralatan tambahan, nampan khusus yang dirancang sesuai kebutuhan, hingga meja bar dengan tinggi yang sudah disesuaikan.
Tak hanya di area kerja, fasilitas pendukung lain juga diperhatikan.
Toilet, misalnya, dilengkapi pegangan di sisi kiri dan kanan, serta dibuat lebih luas agar kursi roda leluasa bermanuver.
Di dalam ruangan pun tersedia guiding block agar pengunjung difabel netra tetap memiliki navigasi.
Melalui pelatihan serta berbagai bentuk penyesuaian fasilitas dan peralatan, Eko menepis keraguan batinnya untuk memulai karir sebagai barista. “Ya, saya anggap belajar, untuk pengalaman,” tuturnya beberapa kali (18/09/2025).
Menggaet Anak Muda Lewat Tren Kopi
Ibarat sekali dayung, dua pulau terlampaui, perpaduan tren kopi dengan isu difabel secara tidak langsung memperkenalkan pengunjung dengan inklusivitas.
Cara ini tidak hanya memberdayakan difabel untuk mandiri, namun memberi ruang kesadaran inklusi bagi pengunjung yang datang dan pergi.
Feni bercerita bahwa PRYAKKUM termasuk Cupable dengan tangan terbuka menerima mahasiswa-mahasiswi maupun akademisi yang ingin belajar tentang inklusivitas.
Misalnya Adrian (22), di tahun 2024 pernah mengadakan sebuah proyek kampanye bertajuk ‘CUPABLE IS CAPABLE’ bersama empat kawannya.
Adrian beserta tim mengidentifikasi kurangnya kesadaran inklusivitas di masyarakat sehingga memulai kampanye ini melalui Cupable.
Ia juga menyebutkan secara spesifik bahwa target dari kampanye mereka adalah anak muda dan pekerja Work From Cafe (WFC).
“Tempatnya (Cupable Coffee) sangat cocok buat sekadar nongkrong atau WFC,” sebut pria yang kini bergelar S1 Ilmu Komunikasi tersebut (18/09/2025).
Melalui kampanye tersebut Adrian beserta tim mampu menggaet lebih banyak anak muda untuk datang dan merasakan langsung jejak inklusivitas di Cupable Coffee.
Hal ini sekaligus membuktikan bahwa tren kopi bisa menjadi medium efektif untuk mengenalkan nilai inklusivitas, terutama di kalangan anak muda yang akrab dengan budaya nongkrong dan WFC.
Baca juga: Keterbatasan Diri Tak Surutkan Mimpi Eko Sugeng Jadi Barista Meski Tanpa Lengan
inklusi
coffee shop
Barista difabel
Barista Difabel Eko Sugeng
Disabilitas Daksa
Hak Disabilitas
Pemberdayaan disabilitas
Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRYAKKUM)
human interest
TribunHIS
kisah inspiratif
| Kebun Melon SMKN1 Pandak, Ruang Belajar dan Tumbuhnya Harapan Akan Lahirnya Petani Muda Modern |
|
|---|
| Menjaga Marwah Sepeda Federal: Memori Kejayaan Global di Tirtoadi Mlati Sleman |
|
|---|
| Persahabatan dan Perjuangan Melawan Kanker, Kisah Haru di Balik Buku 'The Quiet Miracle' |
|
|---|
| Soal Kuota Beasiswa Inklusi DIY, Disdikpora Bantul : Masih Tunggu Info |
|
|---|
| Hasto Wardoyo Trenyuh Dengar Azizah yang Bercita-cita Jadi Dokter: Saya Akan Membantu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Irvantoro-27-Barista-Difabel-di-Cupable-Coffee-Ngaglik-Sleman.jpg)