Jejak Inklusivitas di Cupable Coffee Sleman

Cara ini tidak hanya memberdayakan difabel untuk mandiri, namun memberi ruang kesadaran inklusi bagi pengunjung yang datang dan pergi.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
(MG | Axel Sabina Rachel Rambing)
Irvantoro (27), Barista Difabel di Cupable Coffee, Jalan Kaliurang, Km.13,5, Ngaglik, Sleman 

Di sisi lain, secara teknis Ia juga merasa ragu. Bagaimana caranya melayani pelanggan jika peralatan di meja barista sulit Ia genggam?

Pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya, sebelum akhirnya ia menemukan jawabannya lewat dukungan dan inovasi yang disiapkan pengelola kafe.

Pelatihan menjadi kunci penting sebelum para difabel benar-benar terjun ke balik meja bar. Melalui yayasan pengelola, setiap pekerja difabel ini dipersiapkan secara matang. 

Mereka tidak hanya belajar meracik kopi, tetapi juga diajari menyiapkan makanan hingga melayani pelanggan.

Irvantoro (27), salah satu barista yang menggunakan kursi roda, mengingat betul bagaimana pelatihan itu dijalankan. 

Selama hampir dua bulan, Ia bersama rekan-rekannya mendapatkan pembekalan yang sangat detail. 

Mulai dari pengenalan jenis-jenis kopi, praktik teknis menggunakan peralatan, hingga pelayanan pelanggan. 

Bahkan, mereka juga dibekali pemahaman soal manajemen bisnis sederhana, sebuah bekal penting bila suatu hari ingin membuka usaha sendiri.

Pelatihan ini memberi dampak baik sebab mampu menambah bekal percaya diri para barista difabel tersebut. 

Berbagai penyesuaian pun dilakukan agar para barista difabel bisa bekerja dengan nyaman.

Mulai dari peralatan tambahan, nampan khusus yang dirancang sesuai kebutuhan, hingga meja bar dengan tinggi yang sudah disesuaikan. 

Tak hanya di area kerja, fasilitas pendukung lain juga diperhatikan. 

Toilet, misalnya, dilengkapi pegangan di sisi kiri dan kanan, serta dibuat lebih luas agar kursi roda leluasa bermanuver.

Di dalam ruangan pun tersedia guiding block agar pengunjung difabel netra tetap memiliki navigasi.

Melalui pelatihan serta berbagai bentuk penyesuaian fasilitas dan peralatan, Eko menepis keraguan batinnya untuk memulai karir sebagai barista. “Ya, saya anggap belajar, untuk pengalaman,” tuturnya beberapa kali (18/09/2025).

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved