Wawancara Eksklusif: Kupas Tuntas ‘Bantul Bumi Satriya’ Bersama Kang Halim
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, bicara sisi budaya, penyangga lingkungan hidup, kesenian, potensi kebencanaan, hingga potensi ekspor Bantul
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, baru-baru ini menyampaikan kondisi keadaan Bumi Projotamansari mulai dari sisi budaya, penyangga lingkungan hidup, kesenian, potensi kebencanaan, hingga potensi ekspor.
Hal itu disampaikan Halim dalam wawancara eksklusif dengan Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto, di Rumah Dinas Bupati Bantul.
Pria yang kerap disapa Kang Halim ini menyampaikan bahwa Kabupaten Bantul adalah daerah yang sangat unik, luar biasa dan tidak dimiliki oleh daerah lain sebagai pintu gerbang Daerah Keistimewaan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pasalnya, berdasarkan catatan sejarah, Panembahan Senopati pertama kali membangun keratonnya di Kotagede, Kalurahan Jagalan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.
"Sultan sendiri juga menyatakan bahwa Bantul adalah pintu gerbang budaya Keistimewaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Di samping Panembahan Senopati membuka keraton pertama di Bantul, kemudian Sultan yang sangat terkenal yakni Sultan Agung juga membangun keraton di daerah Pleret," ucapnya, Jumat (14/6/2026) pagi.
Bumi Satriya
Para Raja Mataram pun telah memilih Bumi Projotamansari sebagai tempat peristirahatan terakhir, yaitu di Pajimatan Imogiri dan Makam Raja Kotagede atau Jagalan.
Nilai-nilai sejarah itu membuat Bantul memiliki tanggung jawab besar untuk memelihara marwah atau melestarikan peninggalan para satria mataram terdahulu.
Menariknya, sejak tahun 2025 terdapat diskusi yang panjang berani memunculkan satu brand terbaru yakni Bantul Bumi Satriya.
Artinya, di Bantul ini lahir dan berjuang para satria Mataram, Sultan Agung hingga Pangeran Diponegoro yang menjadikan Bantul sebagai markas perlawanan Belanda.
"Pasukan Sultan Agung dan Diponegoro paling banyak juga berasal dari Kabupaten Bantul. Bumi Satriya itu bukan hanya Sultan Agung maupun Pangeran Diponegoro seorang diri, melainkan rakyatnya. Maka, Bantul ini pantas dan layak untuk disebut Bumi Prasatriya. Lahirnya kebudayaan Mataram di sini berjuang dan bersemayam banyak satriya yang melawan Belanda," terang Kang Halim.
Baca juga: Sekda Bantul Imbau Seluruh Satuan Pendidikan Jangan Lakukan Pungutan kepada Siswa dan Wali Murid
Penyangga Lingkungan Hidup DIY
Kang Halim juga berujar bahwa Bantul sebagai daerah penyangga lingkungan hidup.
Hal itu karena Bantul tidak hanya menopang sampah dari Kabupaten Bantul sendiri, melainkan juga dari Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta.
Sampah dari tiga regional tersebut diolah di Kapanewon Piyungan dan beberapa tempat di Kabupaten Bantul.
"Kemudian, limbah dari Sleman, dari Kota Yogya, dan di luar itu ada beberapa yang juga diolah di Bantul yakni di IPAL Komunal Sewon. Kemudian, seluruh aliran sungai yang ada di DIY berhilir dan bermuara di Kabupaten Bantul. Tentu saja, Bantul ini punya beban untuk menyangga lingkungan hidup DIY," katanya.
Tidak hanya itu, Halim turut mengungkap bahwa pengusaha sedot water closet (WC) dari Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kota Yogyakarta tetap membuang limbahnya ke Kabupaten Bantul.
| Ikut Demam Piala Dunia, Kang Halim Dukung Prancis, Yakin Juara |
|
|---|
| Mulai September 2026, Pemkab Bantul Bakal Patok Tarif Pajak Restoran dan Kafe |
|
|---|
| TPR Parangtritis Bakal Dipindah Mulai Juli 2026, Ini Tujuan Pemkab Bantul |
|
|---|
| Sampah Plastik di Bantul Kini Diolah dan Disulap Jadi Bahan Bakar Petasol |
|
|---|
| DLH Bantul Sebut Pembuang Sampah di Lahan Warga Selopamioro Diduga dari Luar Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20261506-Wawancara-eksklusif-bersama-Bupati-Bantul.jpg)