Sinergi UMBY dan Pemda DIY Jamin Rantai Keamanan Produk Ternak
Edukasi intensif mengenai standar teknis ini menyasar elemen penting penggerak roda ekonomi pangan di DIY.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Produk asal hewan seperti telur, daging ayam, daging sapi, dan susu dikenal sebagai lumbung gizi yang krusial bagi ketahanan tubuh masyarakat.
Namun, di balik kekayaan nutrisi tersebut, tersimpan risiko kontaminasi yang sangat besar apabila penanganannya keliru.
Menyadari kerentanan ini, penguatan kapasitas di tingkat hulu—yakni para peternak dan pelaku usaha—menjadi garda terdepan dalam perlindungan konsumen.
Upaya penebalan benteng keamanan pangan inilah yang mendorong Balai Pengembangan Perbibitan Ternak dan Diagnostik Kehewanan (BPPTDK) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggandeng pihak akademisi.
Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Keamanan Pangan Produk Asal Hewan yang digelar selama tiga hari (21, 25, dan 26 Mei 2026), sinergi lintas sektor coba diwujudkan secara nyata.
Keterlibatan perguruan tinggi, dalam hal ini Program Pascasarjana Magister Ilmu Pangan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), menegaskan komitmen untuk membumikan ilmu pengetahuan langsung ke tengah masyarakat.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Pangan UMBY, Prof. Dr. Ir. Siti Tamaroh Cahyono Murti, M.P., menyambut positif kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah ini. Menurutnya, sinergi ini adalah kunci implementasi keamanan pangan.
"Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menerapkan ilmu pengetahuan di masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap pengetahuan dan praktik keamanan pangan dapat semakin dipahami dan diterapkan secara luas, sehingga mampu mendukung penyediaan pangan yang aman dan berkualitas," ujar Prof. Siti Tamaroh.
Menjaga Rantai Pangan dan Titik Kritis
Rantai keamanan pangan memang tidak boleh terputus.
Prosesnya merentang panjang, mulai dari pemilihan bahan baku segar, penerapan sanitasi yang higienis, penyimpanan sesuai standar suhu, hingga teknik pengolahan akhir sebelum bermuara di meja makan konsumen.
Dosen sekaligus praktisi ilmu pangan UMBY, Dr. Ir. Bayu Kanetro, M.P., membedah krusialnya pemahaman tentang "titik kritis" di setiap tahapan tersebut.
Konsep ini menitikberatkan pada perlunya tindakan pengawasan ketat guna mencegah penyimpangan produk yang dapat mengancam kesehatan.
"Sebagai contoh konkret, pada tahap pemasakan ayam dengan cara direbus, titik kritisnya terletak pada kontrol waktu dan suhu. Pengawasan harus memastikan air benar-benar mendidih pada suhu 100°C dengan waktu minimal 12 menit. Hal ini mutlak dilakukan untuk mematikan mikroba patogen sehingga produk aman dikonsumsi," jelas Dr. Bayu Kanetro.
Baca juga: Selain Hidrogen, Tim PKPE UGM Sebut Kemungkinan Adanya Gas Fosfin di Rumah Agus Yani di Seyegan
Edukasi intensif mengenai standar teknis ini menyasar elemen penting penggerak roda ekonomi pangan di DIY.
Tercatat, antusiasme tergolong tinggi dengan kehadiran 90 orang yang terbagi dalam 30 peserta per sesinya.
| Sri Sultan HB X: Produksi Berkelanjutan Becak Listrik Malioboro Tunggu Masukan Publik |
|
|---|
| Dugaan Malapraktik di RSUD Prambanan, Dinkes DIY Soroti Pentingnya Komunikasi Risiko Medis |
|
|---|
| Malioboro Ditarget Bebas Kendaraan Bermotor Mulai November 2026, Ini Skemanya |
|
|---|
| Pemda DIY Pertahankan WTP 16 Kali Beruntun, Realisasi APBD 2025 Catatkan Surplus Rp138,84 Miliar |
|
|---|
| Upaya Optimalisasi Teras Malioboro, Pedagang Usulkan Fasilitas Shuttle dan Sterilisasi Pedagang Liar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20260406-Bimtek-UMBY.jpg)