Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Api Masih Intens Muncul di Rumah Seyegan Sleman

Pemilik rumah di Padukuhan Mriyan X, Kasuran, Margomulyo, Seyegan ini merasa lelah telah lama menghantui mata, tenaga dan pikirannya.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Jembatan Sungai Nepen, yang diduga rawa purba, berada di belakang rumah Agusyani 

Analisis sementara dari Tim Gegana Polda DIY, sumber api diduga akibat gas metana yang bocor dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) rumah tangga.

Gas metana ini sementara masih berpotensi muncul dalam kurun waktu sekitar satu minggu hingga satu bulan pasca-penanganan karena gas sudah menyebar di bawah lantai. 

Sementara, ahli Universitas Pembangunan Nasional (UPN) menduga kuat adanya akumulasi gas metana rawa yang telah terperangkap di bawah tanah selama bertahun-tahun. Gas purba ini disinyalir bersumber dari kawasan jembatan Nepen di aliran Sungai Konteng.

Lokasi sungai ini dengan rumah Agusyani berjarak sekitar 300-500 meter di sisi timur. Gas tersebut merembes naik melalui patahan atau pori-pori tanah, lalu menyulut secara spontan begitu bergesekan dengan suhu ruang yang tinggi atau pemantik sekecil apa pun di dalam rumah.

Fakultas Teknik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga telah menerjunkan tim ahli multidisiplin. Para pakar di bidang Teknik Mesin dan Industri, Geologi, Nuklir, Fisika, hingga Teknik Sipil dan Lingkungan berjibaku memetakan fluktuasi suhu menggunakan pengukur thermal gun.

Tim UGM ini baru tahap observasi awal untuk memperoleh data dasar sebelum dilakukan penelitian mendalam demi menemukan jawaban di balik penyebab fenomena aneh ini.

Upaya mencegah kebakaran

Di tengah ketidakpastian penyebab sumber api, keluarga Agusyani bukan berdiam diri. Mereka telah berupaya dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya untuk mencegah kebakaran.

Anak Agusyani, Mutfiana mengungkapkan, segala ikhtiar atau upaya telah mereka tempuh demi mengurangi potensi munculnya api. Misalnya dengan pengosongan barang-barang. Lantai dasar rumah kini lebih terbuka karena seluruh barang-barang yang rawan terbakar dievakuasi keluar.

 Lukisan-lukisan yang semula menghias dinding dan dianggap mudah terbakar telah diturunkan. Di kamar dan sudut ruangan, beberapa unit kipas angin dipasang dan menderu tanpa henti. Ini adalah debuah ikhtiar darurat untuk mengurai konsentrasi kepekatan gas metana agar tidak memadat dan memicu munculnya api baru. 

Tak hanya itu, mereka juga telah menguras septic tank, mengganti paralon-paralon yang dicurigai bocor, hingga meninggikan pipa saluran pernapasan limbah domestik mereka. 

"Segala apa pun yang bisa kami lakukan, sudah kami lakukan," ucap Mutfiana.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved