Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Fenomena Kemunculan Api Misterius di Rumah Warga Seyegan, Ini Langkah BPBD Sleman

BPBD Sleman menggandeng kalangan akademisi dan pakar lintas disiplin guna menyelidiki penyebab pasti dari fenomena kemunculan api misterius di Seyegan

Tayang:
Istimewa/Kolase foto tangkapan layar video
Api muncul di rumah warga Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (27/5/2026) malam sekitar pukul 22.50 WIB 

"Belum ada respons lanjutan. Baru dari ITB, tetapi kendalanya jarak jauh. Selain itu, Basarnas berkoordinasi dengan praktisi rekanan mereka. Kami sudah mencoba menghubungi pihak Geologi UPN dan UGM melalui Pusdalops, tetapi saat saya tanyakan, belum ada laporan masuk dari mereka," jelasnya.

"Karena alasan itulah kami berkomunikasi dengan akademisi. Dalam konsep kerja sama pentahelix, akademisi turut campur tangan dengan keahlian spesifik (lex specialis) mereka. Dimungkinkan ada sumber gas baru atau jalur gas alam di sana yang kita tidak tahu. Teman dari ITB sempat bertanya via telepon apakah sebelumnya ada gempa di wilayah tersebut. Jika ada gempa, kemungkinan ada retakan tanah yang menyebabkan gas keluar, dan itu masuk akal. Namun, nyatanya di sana tidak ada gempa. Hal-hal seperti inilah yang masih harus kami cari tahu," tambah Bambang.

Baca juga: Tim PKPE UGM Bakal Terjunkan Tim untuk Observasi Kemunculan Api Misterius di Seyegan Sleman

Rekomendasi Evakuasi dan Dugaan Gas Metana

Melihat tingginya risiko keselamatan akibat sebaran api yang tidak dapat diprediksi, BPBD Sleman secara tegas meminta seluruh penghuni rumah untuk tidak menempati bangunan tersebut pada malam hari dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Oleh karena itu, keluarga pemilik rumah tentu trauma dan kebingungan dengan kejadian tadi malam. Sementara ini, saya bersama teman-teman dari Tim Reaksi Cepat (TRC) menyarankan agar mereka jangan tidur di rumah itu dahulu, sebaiknya mengungsi sementara waktu. Kami juga telah memberikan bantuan logistik kedaruratan secukupnya, seperti matras, selimut, dan beberapa paket bantuan pangan," kata Bambang.

Secara logika teknis non-ilmiah, tim di lapangan menduga kuat adanya kantong gas yang masih terjebak di dalam tanah di sekitar area tangki septik, meskipun pembersihan total telah dilakukan oleh pemilik rumah.

"Logikanya, seperti informasi yang disampaikan oleh Tim Gegana kemarin, dimungkinkan masih ada gas yang menyebar dan tersimpan di dalam tanah, sehingga sewaktu-waktu bisa keluar. Namun, sampai kapan gas tersebut akan habis, kita tidak tahu. Secara logika—ini bukan penjelasan ilmiah—kejadian seperti ini mungkin perbandingannya satu berbanding satu juta septic tank. Kalau semua septic tank kondisinya begitu, tentu sudah banyak yang meledak dan terbakar. Apalagi ini septic tank-nya sudah diperbarui dan diperkuat, tetapi apinya masih muncul," ungkapnya.

API MISTERIUS - Titik api menyala lagi, membakar baskom plastik di bawah rak piring di dapur Rumah Agus Yani di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman Jumat (29/5/2026) siang.
API MISTERIUS - Titik api menyala lagi, membakar baskom plastik di bawah rak piring di dapur Rumah Agus Yani di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman Jumat (29/5/2026) siang. (Tribun Jogja/dok. Istimewa)

Bambang juga meluruskan spekulasi warga mengenai kemungkinan keterkaitan usaha potong ayam milik korban dengan akumulasi gas limbah organik. Berdasarkan pengecekan fisik, kedua saluran pembuangan tersebut dipastikan terpisah.

"Kemarin juga sempat muncul dugaan, apakah saluran pembuangan kotoran ayam—karena pemilik rumah memiliki usaha potong ayam—disatukan dengan septic tank? Ternyata tidak. Salurannya berbeda dan letaknya di luar. Jadi, tidak ada hubungannya. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah munculnya 'api misterius' seperti yang diberitakan. Penjelasan yang paling logis adalah dimungkinkan masih ada sisa-sisa gas metana di dalam tanah yang terlepas dari septic tank," urainya.

Lebih lanjut, Bambang mengingatkan bahwa fenomena ini harus menjadi sinyal kewaspadaan bersama, terutama bagi para pengembang infrastruktur dan pemilik bangunan semi-publik atau komersial di wilayah Sleman terkait standardisasi sistem pembuangan limbah domestik.

"Jika memang penyebabnya adalah septic tank, ini tentu menjadi peringatan bagi tempat-tempat lain. Kapasitas septic tank rumah tangga ini hanya untuk satu keluarga, sekitar enam orang. Bayangkan jika tempat berskala besar seperti kos-kosan eksklusif tiga lantai, hotel, atau restoran mengalami hal serupa. Potensi meledak sangat bisa terjadi jika saluran gas buangnya tidak pas, mampet, atau ukurannya kurang besar sehingga gas tidak bisa keluar dengan lancar," pungkasnya memperingatkan.

Pengamanan di Lokasi

Mengenai teknis pengamanan harian di lokasi, BPBD Sleman menyerahkan mekanisme ronda dan pengawasan dini kepada pengurus RT dan relawan setempat secara swadaya, mengingat pola kemunculan api yang sangat acak memerlukan kehadiran tim yang siaga di tempat dalam durasi panjang.

"Kalau dari BPBD, kami tidak menurunkan personel untuk berjaga di lokasi. Sudah ada relawan setempat serta masyarakat sekitar yang bisa ikut membantu. Ketua RT setempat bisa mengondisikan dan mengoordinasikan warga untuk ikut menjaga warganya yang tertimpa musibah," tutur Bambang.

Terkait ketersediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di area terdampak, Bambang menyatakan dukungan fasilitas tersebut telah diakomodasi oleh instansi pemadam kebakaran yang berwenang.

"Untuk APAR, kami tidak menyediakannya. Namun, dari pihak pemadam kebakaran (Damkar) mungkin menyediakannya. Saya belum memastikan apakah Damkar kemarin ke lokasi, tetapi dari foto laporan yang saya lihat, sudah tersedia beberapa APAR di rumah tersebut. Peran BPBD dalam hal ini berfokus pada pendistribusian bantuan logistik pangan dan nonpangan," katanya.

BPBD Sleman menegaskan akan terus memantau dinamika di lapangan secara berkala sembari menunggu kepastian kepakaran yang dapat mengurai tabir di balik fenomena ini, apakah murni karena kesalahan struktural atau faktor alamiah eksternal.

"Iya, sementara mengungsi dahulu demi keamanan, sambil situasinya tetap dijaga dan dilaporkan perkembangannya. Ke depan, kami akan memantau progresnya sekaligus mencari kalangan akademisi yang bisa membantu menemukan solusi atas kejadian ini. Kita belum tahu pasti apakah fenomena ini masuk dalam kategori kegagalan teknologi bangunan atau karena faktor lainnya," tutup Bambang. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved