Pemda DIY Terapkan Pengawasan Hewan Kurban dengan Metode Skrining Tiga Lapis

Sistem pengawasan hewan kurban yang diterapkan di wilayah DIY menggunakan metode triple screening atau skrining tiga lapis.

Tayang:
Tribun Jogja/Dok. Humas Pemda DIY
SAPI KURBAN - Hewan kurban sapi di salah satu kandang di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (12/5/2026). Menjelang Iduladha 1447 H, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY memastikan ketersediaan sapi kurban di wilayah tersebut berada dalam kondisi surplus. Guna menjamin kesehatan hewan bagi konsumen, pemerintah menerapkan skrining ketat tiga lapis (triple screening) yang meliputi pemeriksaan di daerah asal, pintu masuk Pulau Jawa, hingga pemeriksaan final oleh tim medik veteriner di kandang-kandang penampungan. Seorang petugas (kanan) tampak mengamati salah satu sapi, sementara seorang lagi di belakang mendokumentasikan kegiatan peninjauan yang dilakukan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY. 

Ringkasan Berita:
  • TPID DIY memastikan ketersediaan hewan kurban sapi menjelang Iduladha 1447 H dalam kondisi surplus.
  • Pemda DIY memperketat aspek kualitas melalui mekanisme pengawasan berlapis guna menjamin kesehatan hewan kurban
  • Sistem pengawasan yang diterapkan menggunakan metode triple screening atau skrining tiga lapis.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan ketersediaan hewan kurban sapi menjelang Iduladha 1447 H dalam kondisi surplus.

Meski pasokan melimpah, pemerintah daerah memperketat aspek kualitas melalui mekanisme pengawasan berlapis guna menjamin kesehatan hewan kurban yang beredar di masyarakat.

Sistem pengawasan yang diterapkan menggunakan metode triple screening atau skrining tiga lapis.

Langkah ini diambil untuk memastikan setiap ekor sapi yang masuk ke wilayah penampungan telah terverifikasi secara medis dan bebas dari indikasi penyakit menular.

Pengawasan Hewan Kurban

Kepala Biro Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Eling Priswanto, menjelaskan bahwa rantai pengawasan ini dimulai sejak di daerah asal hewan, yakni Bali dan Madura.

Setelah melewati pemeriksaan di daerah asal, hewan kurban kembali dipantau saat memasuki pintu masuk Pulau Jawa.

Tahap terakhir adalah pemeriksaan final oleh tim medik veteriner ketika hewan tiba di kandang-kandang penampungan.

"Laporan dari teman-teman pedagang menunjukkan bahwa wilayah ini adalah salah satu dengan pengawasan paling ketat. Kami ingin memastikan masyarakat mendapatkan daging yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Skrining ini krusial agar tidak ada hewan yang terindikasi penyakit menular masuk ke meja konsumsi," ujar Eling.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Kumpulkan Ratusan Takmir Masjid, Beri Pembekalan Soal Higienitas Hewan Kurban

Eling menegaskan bahwa komitmen pengawasan ini merupakan prioritas utama agar surplus ketersediaan dibarengi dengan kepastian medis bagi konsumen.

Menurutnya, koordinasi terintegrasi antara TPID, Dinas Pertanian dan Pangan, serta pelaku usaha menjadi kunci kelancaran ibadah kurban tahun ini.

"Secara keseluruhan, untuk wilayah DIY, stok sapi sangat mencukupi. Kami akan segera merekapitulasi data dari lima kabupaten dan satu kota untuk kemudian dipaparkan secara komprehensif dalam konferensi pers mendatang," tambahnya.

Stabilitas Harga dan Preferensi Pasar

Berdasarkan pantauan di lapangan, ketersediaan yang melimpah turut menjaga stabilitas harga di tingkat pedagang.

Saat ini, harga rata-rata sapi jenis Bali berada di angka Rp71.000 per kilogram bobot hidup, relatif stabil dan identik dengan harga pada tahun sebelumnya.

Kondisi surplus ini merata di berbagai wilayah DIY. Sebagai perbandingan, di Kabupaten Gunungkidul tercatat stok mencapai 11.000 ekor, sementara permintaan diperkirakan hanya di angka 4.500 ekor.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved