Sempat Ada 6 Kasus, Dinkes Pastikan DIY Nihil Hantavirus di Awal 2026
Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kesehatan mencatat nihil temuan kasus positif hantavirus hingga memasuki awal Mei 2026 ini.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
“Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, masyarakat juga perlu waspada terhadap droplet dari kotoran tikus yang terhirup maupun paparan air dan tanah yang telah tercemar,” terangnya.
Sebagai langkah mitigasi risiko, Dinas Kesehatan DIY mendorong masyarakat untuk membentengi diri melalui penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Upaya sederhana yang bisa dilakukan antara lain menjaga kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang tikus, memastikan makanan dan sumber air tertutup rapat, serta rutin mencuci tangan dengan sabun usai beraktivitas di lokasi rentan seperti gudang atau kebun.
Penggunaan alas kaki saat berada di area lembap juga dinilai vital dalam pencegahan.
Di samping itu, warga yang memiliki luka terbuka diwajibkan untuk menutupnya menggunakan perban kedap air sebelum berkegiatan di area berisiko tinggi layaknya plafon, kebun, maupun gudang.
Jika tanpa sengaja terkena kotoran tikus, luka harus segera dibilas menggunakan sabun dan air mengalir guna menghindari infeksi lebih lanjut.
Dari sisi struktural, langkah antisipasi pemerintah diwujudkan melalui penguatan surveilans aktif.
Dinkes DIY berkolaborasi dengan jajaran di tingkat kabupaten/kota untuk melakukan pelacakan kasus, pemantauan wilayah domisili, dan surveilans sentinel rutin.
Langkah taktis lainnya adalah pengendalian vektor lewat metode trapping (pemasangan perangkap tikus) untuk keperluan uji laboratorium dan identifikasi virus pada populasi tikus lokal.
Edukasi mengenai pengendalian tikus (rodent control) serta sanitasi lingkungan juga terus dikawal oleh jajaran puskesmas bersama para kader kesehatan.
Penanganan masalah ini diusung melalui pendekatan komprehensif One Health, yang menyinergikan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan, dengan dukungan lintas kabupaten/kota serta koordinasi berjenjang hingga Kementerian Kesehatan RI.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada. Jika mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, sesak napas, atau keluhan lain setelah terpapar lingkungan berisiko, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Deteksi dini menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan optimal,” pungkas Anung. (*)
| Suspek Hantavirus di Kulon Progo Dinyatakan Negatif, tapi Jangan Lengah, Virus Masih Ada pada Tikus |
|
|---|
| Kadinkes Kulon Progo Respons soal Adanya Suspek Hantavirus, Pastikan Nihil Kasus Positif |
|
|---|
| Haruskah Kita Khawatir dengan Hantavirus yang Sudah Tewaskan 3 Orang? |
|
|---|
| Kasus Campak di DIY Naik Menjadi 112 Kasus, Dinkes Gencarkan Percepatan Imunisasi |
|
|---|
| Waspada! Kasus Leptospirosis di Gunungkidul Melonjak, 3 Warga Meninggal Dunia Per Awal 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sempat-Ada-6-Kasus-Dinkes-Pastikan-DIY-Nihil-Hantavirus-di-Awal-2026.jpg)