Waspada! Kasus Leptospirosis di Gunungkidul Melonjak, 3 Warga Meninggal Dunia Per Awal 2026

Tiga warga Gunungkidul meninggal dunia akibat leptospirosis pada awal 2026 ini, dua di antaranya berasal dari Playen

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
via kemkes.go.id
PERANGKAP TIKUS: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menyebar 100 unit trap atau perangkap tikus di lingkungan penduduk. Pemasangan perangkap tersebut menyasar rumah-rumah warga di sekitaran pasien yang sebelumnya dinyatakan terpapar penyakit leptospirosis 

Ringkasan Berita:
  • Per awal 2026, kasus leptospirosis di Gunungkidul meningkat tajam dengan 13 warga terjangkit dan 3 orang meninggal dunia, mayoritas berasal dari wilayah Playen.
  • Penyakit ini dipicu bakteri dari kencing tikus di genangan sawah. Petani menjadi kelompok paling berisiko karena kontak langsung dengan air atau tanah yang tercemar.
  • Warga diminta menggunakan sepatu bot saat ke sawah, menutup luka, serta segera melapor ke faskes jika mengalami demam tinggi dan nyeri otot betis.

 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Tiga warga Gunungkidul meninggal dunia akibat leptospirosis pada awal 2026 ini.

Dari tiga korban meninggal dunia, dua di antaranya berasal dari Playen.

Sementara secara keseluruhan, jumlah warga yang terjangkiti leptospirosis sebanyak 13 orang.

Kasus leptospirosis di Gunungkidul ini jumlahnya meningkat dibandingkan tahun 2025 lalu, dimana hanya ada 1 warga yang meninggal dunia.

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono mengatakan kasus leptospirosis paling banyak berasal dari wilayah Playen.

Dari total 13 kasus, sebanyak 5 kasus disumbang dari wilayah Playen, dimana dua orang meninggal dunia.

"13 yang terjangkit, 3 meninggal dunia. Untuk sebarannya ada di beberapa kapanewon. Tapi, saat sekarang paling banyak di Kapanewon Playen karena ada temuan lima kasus dengan dua warga meninggal dunia," kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono saat dihubungi wartawan melalui telepon Minggu (8/3/2026). 

Ismono mengimbau kepada para petani untuk meningkatkan kewaspadaan saat melaksanakan kegiatan di ladang atau sawah.

Warga diharapkan menggunakan sepatu untuk melindungi kaki supaya meminimalisir terjangkiti penyakit leptospirosis.

Sebab, penyakit ini disebarkan oleh air kencing tikus yang mengandung bakteri Leptospira. 

"Hujan membuat di sawah banyak genangan, sedangkan tikus juga banyak berkembang biak di area ini," kata Ismono. 

"Setelah beraktivitas segera dicuci dengan sabun agar terhindar dari penyebaran penyakit," kata dia.

Leptospirosis menyebar melalui luka di tubuh, dan gejala panas, bisa muncul rasa sakit di badan, mual muntah dan lain-lain, tergantung daya tahan tubuh. 

Ismono mengingatkan kepada masyarakat untuk segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan terdekat jika ada gejala.

Baca juga: Antisipasi Potensi Cuaca Ekstrem, Pemkot Yogyakarta Perpanjang Status Siaga Bencana Hidrometeorologi

Apa itu Leptospirosis?

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved