Ibadah Haji 2026

Mimpi yang Terwujud dari Ketekunan Menabung Bertemu dengan Subsidi Dana Manfaat

Selisih sekitar Rp33,2 juta dibayar lewat subsidi dari nilai manfaat hasil pengelolaan dana haji oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Tribun Jogja
NAIK HAJI - Mbah Kasidah penjual tempe di Pasar Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Ia menabung selama 30 tahun dari hasil berjualan tempe dan sapu lidi agar bisa naik Haji. 

TRIBUNJOGJA.COM - Ketekunan menabung selama bertahun-tahun dari usaha kecil menjadi jalan awal bagi banyak orang untuk menunaikan ibadah haji. Namun jumlah yang terkumpul sering kali belum cukup untuk menutup seluruh biaya yang terus meningkat. Di titik inilah nilai manfaat dari pengelolaan dana haji hadir, menutup sebagian selisih biaya. Tanpa disadari, beban yang harus dilunasi menjadi lebih ringan.

Di Panjatan, Kulon Progo, kebiasaan menyisihkan uang itu dijaga dalam waktu panjang. Mbah Kasidah, 75 tahun, menjalani hari-harinya dengan berjualan tempe di pasar. 

Tanpa kios. Hanya lapak beralas karung di lantai semen. Tempe yang dijual dibuat sendiri, dibungkus daun pisang, lalu dibawa setiap pagi. “Saya sudah 40-an tahun berjualan tempe sejak awal menikah,” katanya.

Keinginan menunaikan ibadah haji muncul sejak usia 35 tahun. Sejak itu ia mulai menyisihkan penghasilan. 

Tidak besar, tidak pasti, tetapi terus dilakukan. Sekitar 30 tahun kemudian, tabungan itu mencapai Rp25 juta dan digunakan untuk membuka setoran awal pendaftaran pada 2012.

Empat belas tahun setelahnya, panggilan itu datang. “Alhamdulillah, sekarang dapat panggilan (haji),” ujarnya.

NAIK HAJI - Kasidah saat berjualan tempe di Pasar Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Ia menabung selama 30 tahun dari hasil berjualan tempe dan sapu lidi agar bisa naik Haji.
NAIK HAJI - Kasidah saat berjualan tempe di Pasar Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Ia menabung selama 30 tahun dari hasil berjualan tempe dan sapu lidi agar bisa naik Haji. (Tribun Jogja)

Di tempat lain, semangat yang sama berjalan dalam bentuk berbeda. Di Jalan Tajem-Kadisoka, Sleman, Rahudin Hasan dan istrinya, Siti Koringah, memulai usaha gudeg dari modal pinjaman Rp1 juta. 

Usaha kecil di bawah tenda itu menjadi sumber penghidupan sekaligus jalan panjang menuju ibadah haji. “Dulu nekat pinjam untuk modal,” kata Rahudin.

Dari usaha itu, mereka menyisihkan penghasilan. Tidak sekaligus besar. Pada 2012, tabungan mencapai Rp25 juta. Cukup untuk satu orang. Agar bisa berangkat berdua, mereka kembali meminjam.

“Dulu sempat mikir, apa bisa ya,” kata Siti. Pelunasan dilakukan bertahap, dari hasil usaha yang terus berjalan.

Lebih Ringan

Biaya penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 tercatat sebesar Rp87.409.365,45 per orang. Namun angka yang dibayarkan langsung oleh jemaah tidak sebesar itu. Setoran total yang harus dibayar hanya sebesar Rp54.193.806,58 saja.

Selisih sekitar Rp33,2 juta dibayar lewat subsidi dari nilai manfaat hasil pengelolaan dana haji oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Ini karena dana yang terkumpul dari setoran jemaah tidak berhenti sebagai simpanan. 

Dana itu dikelola melalui instrumen berbasis syariah, dengan pendekatan kehati-hatian dan manajemen risiko. Hasilnya dikembalikan kepada jemaah dalam bentuk pengurang biaya haji.

Mbah Kasidah, mungkin tak tahu tentang angka-angka itu. Yang ia tahu hanya menabung rupiah demi rupiah untuk melunasi biaya haji. “Alhamdulillah saya bisa melunasi, dari keringat sendiri jualan tempe,” katanya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved