Ibadah Haji 2026

Dari Bungkus Tempe ke Baitullah, Tabungan 30 Tahun yang Diperkuat Nilai Manfaat

Rupiah demi rupiah Mbah Kasidah terkumpul hingga Rp25 juta. Kemudian digunakan untuk membuka tabungan mendaftar haji pada 2012

Tribun Jogja
NAIK HAJI - Kasidah saat berjualan tempe di Pasar Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Ia menabung selama 30 tahun dari hasil berjualan tempe dan sapu lidi agar bisa naik Haji. 

SEPEDA kayuh tua melaju pelan menebus jalan perkampungan. Di bagian belakangnya mengangkut bronjong. Muatannya tidak penuh. Hanya beberapa bungkus tempe garit. Kisaran 5-10 kilogram beratnya.

Namun bobot itu bisa jadi cukup berat bagi sosok perempuan 75 tahun yang mengendarainya. Dia adalah Mbah Kasidah. Perempuan perkasa yang sudah puluhan tahun setia berjualan tempe di Pasar Panjatan, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak ada kios. Hanya lapak berlantai semen beralas karung untuk menggelar tempe bungkus daun pisang dagangannya. Tempe itu ia produksi sendiri di rumah. "Saya sudah 40 an tahun berjualan tempe sejak awal menikah," katanya.

Aktivitas berjualan ini nyaris ia lakukan saban hari, hingga saat ini telah memiliki 5 cucu. Jumat 17 April 2026, Mbah Kasidah tampak berada di Aula Adikarta, Kantor Sekretariat Daerah Pemkab Kulon Progo. Pakaiannya rapi. Berjilbab putih berpadu dress biru langit bermotif batik. 

Wajahnya bersih, segar seperti bercahaya. Senyumnya lepas mengembang, tak malu meski gigi-giginya sudah banyak yang tanggal. Di situ sedang ada acara Pamitan Jemaah Haji. Ya! Mbah Kasidah menjadi satu diantara 384 jemaah calon haji dari Kabupetan Kulon Progo yang berangkat naik haji di 2026 ini.

NAIK HAJI - Mbah Kasidah penjual tempe di Pasar Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Ia menabung selama 30 tahun dari hasil berjualan tempe dan sapu lidi agar bisa naik Haji.
NAIK HAJI - Mbah Kasidah penjual tempe di Pasar Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Ia menabung selama 30 tahun dari hasil berjualan tempe dan sapu lidi agar bisa naik Haji. 

Ia terbang ke Tanah Suci pada 21 April 2026, masuk dalam Kloter I. Semua dari hasil menabung berjualan tempe selama sekitar 30 tahun. "Sejak usia 35 tahun, saya ada keinginan naik haji. Kemudian mulai menabung sedikit-sedikit dari hasil berjualan tempe. Sekitar 30 tahun (menabungnya)," katanya. 

Rupiah demi rupiah Mbah Kasidah terkumpul hingga Rp25 juta. Kemudian digunakan untuk membuka tabungan mendaftar haji pada 2012. Ia yakin uang yang disetorkan itu tersimpan, terkelola baik dan aman di Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Karena sebelumnya hanya tersimpan di celengan.

"14 tahun menunggu antrean naik haji. Alhamdulillah, di 2026 ini saya mendapat panggilan," katanya. Bagaimana dengan pelunasan biaya hajinya? Mbah Kasidah mengaku semua sudah ia bayar lunas pakai uang hasil keringat sendiri. Selain jualan tempe, ia juga berjualan sapu lidi buatan sendiri untuk menambah penghasilan.

Nilai Manfaat

Sebagai informasi, biaya haji 2026 ditetapkan melalui Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebesar Rp87.409.365,45 per jemaah. Namun, tidak seluruh biaya tersebut dibebankan langsung kepada jemaah calon haji. Biaya yang harus dibayar per jemaah calon haji hanya Rp54.193.806,58 saja.

Lalu bagaimana dengan sekitar Rp33.215.000 kekurangannya? Di sini Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) berperan. Lembaga ini bertugas mengelola dana haji mulai dari setoran awal, penerimaan, dan pengembangannya secara profesional dan syariah untuk memaksimalkan nilai manfaat. Hasilnya dikembalikan lagi kepada jemaah calon haji.

Sehingga jemaah calon haji, termasuk Mbah Kasdah tak perlu menanggung pusing Rp 33 juta kekurangannya tadi. Melainkan sudah ditanggung BPKH lewat nilai manfaat dari hasil pengelolaan dana haji yang sudah disetor saat pendaftaran.

Bahasa lebih mudah dipahaminya adalah subsidi. Skema ini dibuat agar biaya ibadah haji tetap terjangkau masyarakat. Mbah Kasidah bisa jadi tak paham dengan angka-angka ini dan bagaimana sistem berjalan. Namun yang pasti, ia turut merasakan langsung manfaatnya. 

Tabungannya selama 30 tahun telah diperkuat dengan nilai manfaat dari BPKH. "Alhamdulillah saya bisa melunasi biaya haji pakai uang sendiri, dari pendaftaran sampai pelunasan," katanya.

Kesiapan Likuiditas 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved