Ibadah Haji 2026
Dana Manfaat yang Tak Disadari, Meringankan Langkah dari Dapur Gudeg ke Tanah Suci
Usaha gudegnya terus berkembang. Hingga akhirnya di tahun 2026 ini mengantarkan Rahudin dan Siti berangkat ibadah haji ke Tanah Suci
Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
SUARA kokok ayam jantan dan azan Subuh belum terdengar. Namun dapur kecil milik Rahudin Hasan sudah mengepul. Aroma harum nangka muda yang dimasak perlahan menyeruak keluar. Seolah menyusup ke udara pagi di sudut Jalan Tajem-Kadisoka, Sleman, DI Yogyakarta, untuk memikat pembeli.
Sekitar pukul 03.30 dinihari, Rahudin dan istri Siti Koringah, sudah menggelar dagangannya di sebuah tenda di kecil. Sederhana di bawah pohon rambutan.
Mereka berjualan gudeg, kuliner khas Yogyakarta. Sekitar pukul 11.00 lapak sudah tutup. Hari-hari seperti itu mereka jalani bertahun-tahun.
Begitulah awal cerita pasangan suami ini memulai usaha jualan gudeg 'Bu Ponirah' pada 2009 lalu. Tak disangka, usaha gudeg ini terus berkembang. Hingga akhirnya di tahun 2026 ini, hasil dari jualan gudeg bisa mengantarkan Rahudin dan Siti berangkat ibadah haji ke Tanah Suci.
"Dulu untuk membuka usaha gudeg ini, saya nekat berhutang Rp1 juta untuk modal usaha," kenang Rahudin. Tidak ada yang istimewa pada awalnya. Semua hanya karena kebutuhan hidup yang mendesak.
Kala itu, gaji Rahudin sebagai tukang kebun di sekolah dasar tidak pernah cukup. Penghasilan sebulan hanya mampu menutup kebutuhan dua minggu saja. Sementara anaknya bersiap masuk SMP. Biaya datang bersamaan, tanpa bisa ditunda.
Pinjam Uang
Bermodal uang pinjaman Rp1 juta, bapak 61 tahun ini mulai berjualan gudeg. Lokasinya tak jauh dari rumah. Tanpa kios. Tanpa promosi. Semua berjalan natural, hanya bermodal keyakinan dan doa.
"Ternyata banyak yang suka karena rasanya (gudeg) tidak terlalu manis," ujarnya. Dari yang awalnya jualan di bawah pohon, kini gudegnya pindah ke toko yang lebih layak.
Selain gudeg, ada juga jajanan pasar. Usaha lancar tak membuatnya lupa pada Sang Pencipta. Impian lama untuk bisa menunaikan Rukun Islam ke-5 muncul.
Lembaran demi lembaran rupiah ia kumpulkan. Tidak besar. Juga tidak pasti jumlahnya. Namun selalu disisihkan bagaimanapun cara ngutak-ngatiknya. Hingga pada tahun 2012, uang terkumpul sebanyak Rp25 juta.
Jumlah yang cukup untuk membuka tabungan dan mendaftar haji. Namun satu orang saja. Agar bisa mendaftar haji berdua, kala itu mereka meminjam lagi uang Rp25 juta.
Waktu terus berjalan. Piring demi piring gudeg pun terjual. Rupiah demi rupiah terkumpul untuk bayar utang dan pelunasan haji.
Setelah 14 tahun menunggu, panggilan naik haji itu datang. Sebagai informasi, biaya haji 2026 ditetapkan pemerintah melalui Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebesar Rp87.409.365,45 per jemaah.
Siti mengaku sempat pesimis apakah bisa berangkat lantaran biayanya cukup mahal bagi ukuran dompetnya. "Dulu ya sempat mikir, apa bisa (bayarnya) ya? Karena kami hanya jualan gudeg," tambah Siti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20262504-suami-istri-penjual-gudeg-naik-haji-1.jpg)