Langkah DLHK DIY Atasi Potensi Lonjakan Sampah saat Libur Lebaran 2026

Lonjakan sampah saat periode libur Lebaran 2026 diprediksi berpotensi hingga 50 persen dibanding hari normal.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
ILUSTRASI - Tumpukan sampah yang menggunung tampak menghiasi beberapa area Pasar Induk Giwangan, Kota Yogyakarta, Senin (26/1/2026). Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY mengambil langkah evakuasi khusus 900 ton sampah ke TPA Piyungan, untuk mengantisipasi potensi lonjakan volume sampah selama masa libur Lebaran 2026 

​"Kalau naik, ya naik, tapi tidak signifikan. Paling 3 persenan. Dari (rata-rata) 300 ton, tambahannya sebenarnya hanya sekitar 10 ton-an saja. Tidak sampai 5 persen," ujarnya.

Menurut Rajwan, tambahan sampah ini sebagian besar berasal dari sisa-sisa konsumsi di deretan Pasar Sore Ramadan, hingga kegiatan pembagian takjil gratis. 

Depo Sampah Kondusif

BEBAS SAMPAH - Kondisi Depo Argolubang, di kawasan Lempuyangan, Kota Yogyakarta, yang tampak sudah terbebas dari tumpukan sampah selaras target Wali Kota Hasto Wardoyo, Rabu (11/3/2026).
BEBAS SAMPAH - Kondisi Depo Argolubang, di kawasan Lempuyangan, Kota Yogyakarta, yang tampak sudah terbebas dari tumpukan sampah selaras target Wali Kota Hasto Wardoyo, Rabu (11/3/2026). (Tribun Jogja/Azka Ramadhan)

Namun, DLH mengklaim, kondisi depo-depo sampah di wilayah Kota Yogyakarta tetap kondusif dan tidak mengalami penumpukan yang berarti.

​Sebab, pihaknya menerapkan skema khusus supaya sampah dari kegiatan Ramadan ini tidak semuanya lari menuju tempat penampungan sementara.

Dengan sampah-sampah dari Pasar Ramadan yang kebanyakan merupakan limbah organik basah, praktis pengolahan di level hulu bisa langsung ditempuh.

"Sesuai SOP kita, baik dari pemukiman maupun lokasi kegiatan Ramadan, sampah itu dimasukkan ke ember-ember organik (kapasitas) 25 kilogram," jelasnya.

​Ember-ember tersebut kemudian dikumpulkan di titik kumpul tiap kelurahan oleh penggerobak yang ditugaskan pada masing-masing wilayah.

Dari titik inilah, kumpulan sampah organik langsung dijemput oleh offtaker tanpa harus mampir ke depo-depo sampah yang ada di Kota Pelajar.

​"Langsung dibawa ke offtaker, ada yang ke peternak dan sebagainya. Jadi meskipun naik 10 ton, itu tidak ke depo. Bisa dilihat sekarang, indikasi depo-depo kita kosong. Kalaupun ada isi, ya sebatas transit dan paginya diangkat," ucapnya. 

( tribunjogja.com/han/aka )

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved