Langkah DLHK DIY Atasi Potensi Lonjakan Sampah saat Libur Lebaran 2026
Lonjakan sampah saat periode libur Lebaran 2026 diprediksi berpotensi hingga 50 persen dibanding hari normal.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Secara operasional, TPA Piyungan sebenarnya telah ditutup secara permanen untuk kiriman sampah harian sejak Januari lalu karena volumenya yang sudah melebihi kapasitas (overcapacity).
Respon Pemda DIY
Menanggapi permintaan kuota evakuasi dari pemerintah kabupaten dan kota, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyatakan bahwa pihak provinsi tidak bisa secara otomatis meloloskan seluruh permintaan tersebut.
Terdapat syarat dan batasan ketat yang diberlakukan guna menjaga keberlanjutan daya tampung lokasi pengolahan.
"Tapi kan kita juga tidak bisa serta-merta memenuhi itu. Tetap kita kasih syarat. Kita bisa bantu tapi tidak bisa seperti kuota yang diminta. Di samping itu, kami mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peduli dengan mengurangi produksi sampah dan mengelola sampah. Bagaimana mereka untuk keperluan sehari-harinya tidak kemudian memproduksi sampah yang banyak," papar Ni Made.
Pemerintah berharap sinergi antara langkah teknis evakuasi dan kesadaran masyarakat dalam menekan penggunaan kemasan sekali pakai dapat mencegah krisis sampah di tengah antusiasme kunjungan wisatawan ke Yogyakarta pada libur Lebaran 2026.
Baca juga: Lebaran Nyaman Tanpa Sampah, Pemkot Yogyakarta Kebut Pengosongan Depo
Target Pemkot Yogyakarta
Terpisah, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mematok target seluruh depo sampah di wilayahnya sudah bersih dari tumpukan limbah sebelum Idulfitri 2026.
Langkah ini dikebut supaya warga masyarakat dapat merayakan momentum lebaran dengan nyaman, termasuk saat melaksanakan salat Ied.
"Target kami sebelum Idulftri depo-depo sudah bersih dari tumpukan sampah. Kami ingin masyarakat bisa menjalankan salat Ied dan merayakan lebaran di Kota Yogyakarta dengan rasa nyaman," ujarnya, beberapa waktu lalu.
Untuk mencapai target tersebut, ia pun mengajak warga berperan aktif dalam pengelolaan sampah melalui gerakan lima langkah Mas JOS atau Masyarakat Jogja Olah Sampah.
Program ini merupakan upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta untuk mengurangi volume sampah dengan cara mengolah limbah langsung dari sumbernya.
Melalui gerakan tersebut publik diharapkan memilah, mengolah, serta memanfaatkan kembali sampah rumah tangga, sehingga tidak seluruhnya berakhir di depo atau tempat pembuangan akhir.
"Dengan keterlibatan masyarakat, diharapkan persoalan sampah di Kota Yogyakarta dapat ditangani secara lebih efektif dan berkelanjutan," ungkap Wali Kota.
Tren Kenaikan Timbulan Sampah
Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mencatat tren kenaikan timbulan limbah selama Ramadan, terutama yang bersumber dari pasar-pasar tiban pusat perburuan takjil.
Kendati demikian, Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, mengungkapkan, kenaikan volume sampah masih dalam kategori terkendali di kisaran 3 persen.
| Update Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini, Kamis 14 Mei 2026 Pukul 18.00 WIB |
|
|---|
| PSEL DIY Ditunda, Sleman Andalkan Pasukan P3S untuk Tangani Sampah di Desa |
|
|---|
| Disdik Sebut Kuota Bangku SMP di Sleman Surplus 2.840 Kursi pada SPMB 2026 |
|
|---|
| Gerakan 'Mas JOS' Diklaim Efektif Tekan Volume Sampah di Kota Yogyakarta |
|
|---|
| Pemda DIY Nilai Program MBG Belum Mendesak bagi Mahasiswa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sampah-di-Pasar-Giwangan-Jogja-menggunung.jpg)